Sang Asadul Quran Wafat, Ribuan Umat Berduka

Sesuai catatan di website NU Kit, tahun 1983 adalah sejarah yang diukir K.H M. Maftuh Said, di mana beliau mulai mendirikan Ponpes Al-Munawwariyyah. Berawal dari belasan santri yang mengaji Alquran hingga saat ini bisa mengembangkan lima lembaga, SD, SMP, SMK Madrasah Islamiyah dan Tarbuyatul Al-Munawwariyyah. Tidak hanya itu, para lulusannya kini sudah tersebar di seluruh nusantara dan banyak yang melanjutkan studi ke Timur Tengah.
Kiai yang lahir di tepi Bengawan Solo, tepatnya di Desa Ngaren, Bungah, Gresik dulunya pernah mengenyam Sekolah Rakyat (SR) di Gresik pada tahun 1956. Namun hanya sampai kelas empat.
Walau tidak meneruskan pendidikan secara formal, Kiai Maftuh justru memiliki visi untuk mengembangkan pendidikan. Yang salah satunya berkeinginan mendirikan lembaga pendidikan tinggi Al-Munawwariyyah.
Kiai Maftuh yang meneruskan pendidikan di Ponpes Al Falah Ploso Kediri, selama sembilan tahun. Bisa menghafalkan Alquran di usia 9 tahun. Sehingga memiliki julukan Asadul Quran.
Baru pada tahun 1980-an, bersama ketiga putra-putrinya, Nurul Hasnah, Muhammad Agus Fahim dan Hanifah Saadiyah hijrah ke Sudimoro. Seiring dengan berjalannya waktu, setelah membuka Ponpes, banyak yang menitipkan putra-putrinya untuk belajar membaca dan menghafal Alquran.
Selain itu, dalam melaksanakan pembangunan, beliau mengaku sebenarnya tidak ada niatan untuk mendirikan pondok pesantren yang besar dan semegah saat ini. Yang luasnya sekitar 3 hektar. Di mana dalam pembangunan fisik pesantren, Kiai Maftuh menerapkan sistem sesuai kebutuhan.
Pada tahun 2012, Muktamar XI JATMAN di Pondok Pesantren Al-Munawwariyah Bululawang tanggal 10-14 Januari. Pada saat pelaksanaanya didatangi langsung oleh mantan Presiden RI ke 6 Susilo Bambang Yudhoyono.(ery/ary)

Berita Terkait

Berita Lainnya :