Santoso Mahargono, Pemersatu Taman Baca Masyarakat


Sosoknya sederhana dan murah senyum. Malang Post bertemu Santoso Mahargono (42 tahun) di dekat Bendungan Karangkates Kecamatan Sumberpucung. Tak nampak raut lelah di wajahnya. Kamis (10/5) itu, ia akan bergerak ke Kecamatan Kalipare. Mengenakan jaket orange bertuliskan GO READ, naik sepeda motor yang di bagian belakangnya juga ada box bertuliskan GO READ.
Box itu berisi buku. Inilah rutinitasnya, ia berkeliling mengantar bacaan buku antar Taman Bacaan Masyarakat (TBM) di Malang Raya. Tentu di tengah kesibukannya bekerja sebagai pustakawan di Perpustakaan Kota Malang.
Apa yang dia kerjakan, didasari kegemarannya membaca serta keinginan mengajak masyarakat Malang untuk suka membaca. Santoso Mahargono S. Sos berinisiatif ingin mendirikan suatu forum atau komunitas di mana semua TBM tersebut menjadi satu wadah. Mengingat antar TBM jaraknya sangat jauh.
“Kalau dikoordinasikan jadi satu kan membuatnya makin mudah,”ujarnya.
Namun ia mengaku tidak tahu bagaimana mengumpulkan para pengurus TBM. Beruntung, dirinya mendapatkan bantuan dari Rani Auliawati (yang saat itu, Red) mahasiswi Jurusan Ilmu Perpustakaan Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya. Serta Eko Cahyono selaku pengelola Perpustakaan Anak Bangsa. Dari mereka berdua akhirnya dapat mengundang dan mengumpulkan 100 orang baik dari pengelola TBM serta penggiat literasi.
“Dan itu tidak hanya di Kota Malang, tapi juga Malang Raya termasuk Kabupaten Malang dan Kota Batu,”ungkap pria kelahiran Bojonegoro ini.
Ketika bertemu para pengurus TBM itu, Santoso (sapaan akrabnya) mengatakan kepada para perwakilan TBM tersebut untuk mengutarakan keluh kesahnya. Rata - rata mengeluh kekurangan buku serta tidak ada penambahan buku koleksi baru.
Pasca mendengar aspirasi para pengurus TBM, ia berencana membuat bank buku. Yaitu sarana untuk mengumpulkan buku dari masyarakat melalui promosi media sosial serta brosur. Tidak hanya itu agar makin mempermudah masyarakat untuk menyumbangkan buku dan berkoordinasi antar TBM lain  dirinya ingin membentuk forum.
“Ternyata semuanya setuju dan akhirnya secara resmi acara yang digelar 17 Mei 2016 itu, kami membentuk Forum Komunikasi Taman Baca Masyarakat Malang Raya (FKTBM), saya sebagai ketua,”papar pria lulusan Universitas Wijaya Kusuma Surabaya jurusan S-1 Ilmu Perpustakaan tahun 2015.
Meski terlihat mudah nyatanya dalam melakukan kegiatan tersebut tidak sepenuhnya juga mulus mengingat para pengelola TBM memiliki berbagai karakter dan profesi. Ia pun juga harus bersikap netral dalam menyikapinya. Tidak boleh berpihak kepada salah satu TBM.
“Saya pelajari dulu lokasi dan karakter masyarakat sekitar. Kalau sudah paham maka cukup mudah untuk bergaul dengan pengelola TBM,”jelas Santoso.
Berkat langkah tersebut, TBM yang bergabung menjadi anggota langsung naik cukup signifikan. Tahun 2016 akhir tercatat 110 anggota sedangkan selama tahun 2017 120 anggota.
“Awal 2018 hingga bulan Mei sudah mencapai 145 TBM,”ujar bapak tiga anak perempuan ini.
Pria kelahiran 24 Juni 1976 ini mengatakan, TBM selalu ramai dikunjungi oleh masyarakat sekitar, dirinya menerapkan berbagai kiat murah meriah. Dirinya tidak menyarankan untuk membeli buku koleksi baru.
“Caranya antar TBM saling tukar koleksi buku. Membuat bacaan antar TBM tidak monoton dan makin beragam,”tegas pria yang tinggal di Mondoroko Singosari ini.

Berita Terkait

Berita Lainnya :