Sejak Tahun 1940, Seminggu Sekali Terbang hingga Arab Saudi

 
LAWANG ternyata memiliki makanan khas yang diproduksi turun temurun, sejak puluhan tahun lalu, tepatnya sekitar tahun 1940-an. Namanya adalah Onde-onde. Meski hanya sekadar camilan, namun onde-onde khas asli Lawang ini, sudah go international dengan dikirim ke beberapa negara.
Pengiriman ke luar negeri tidak setiap hari, namun hampir rutin sepekan sekali. Biasanya pada hari Sabtu dan Minggu, melalui Biro Pengiriman Barang di Bandara Juanda Sidoarjo. Menurut Hartitik Puji Lestari sang pemilik, jajanannya sudah pernah dikirim ke Singapura, Malaysia, Tiongkok, Taiwan, Jepang dan juga Arab Saudi.
“Yang mengirim bukan saya, melainkan saudaranya yang tinggal di Malang. Biasanya ketika mau mengirim, pagi-pagi pukul 05.00 sudah mengambil barangnya,” tutur wanita berusia 58 tahun ini.
Jajanan tradisional khas Lawang ini, diproduksi turun temurun dalam satu keluarga. Pertama yang memproduksi adalah (alm) Subari, yang merupakan nenek dari Hartitik Puji Lestari. Kemudian sekitar tahun 1960-an, produksinya diteruskan oleh Sumiati (ibu Hartitik, red).
Selanjutnya diteruskan oleh Harti Endang Suci Sumiarsih, kakak kandung Hartitik. Lalu, sekitar tahun 1992 diteruskan oleh Hartitik. “Saya penerus yang keempat. Nanti usaha ini, kemungkinan akan diteruskan oleh anak saya Rosyidah Khoirunnisa, yang sekarang sudah bisa membuat sendiri. Dan dari dulu sampai sekarang, namanya tetap yakni Onde-onde Istimewa,” ungkap ibu tiga anak ini.
Dinamakan istimewa, karena onde-onde produksi Hartitik ini, rasanya berbeda dengan onde-onde lainnya. Selain tanpa bahan pengawet, isinya lebih padat serta teksturnya lembut. Pokoknya, sekali mencoba, pasti akan ketagihan untuk menikmatinya lagi.
“Yang membedakan lagi, ketika dimakan panas enak, apalagi dingin tambah lebih nikmat dan lezat. Dan tahan sampai lima hari,” terang alumnus Sarjana Hukum Universitas Wisnuwardhana ini.
Sebelum memiliki tempat sendiri di Jalan Dr. Cipto, Bedali, Lawang, ibu dari Mas Rahmad Hidayatullah, Mas Raharjo dan Rosyidah Khoirunnisa, sempat berjualan di Pasar Minggu di halaman luar Stadion Gajayana Malang. Kemudian pindah ke Matos, namun karena kewalahan pesanan akhirnya menetap di rumahnya Bedali Lawang.
Dalam sehari, rata-rata Hartitik bisa menghabiskan 12 – 16 kilogram adonan onde-onde. Jika sekilo biasanya menghasilkan 150 biji onde-onde, maka setiap harinya sekitar 1.800 sampai 2.400 onde-onde yang terjual habis.
“Kalau hari biasanya habisnya rata-rata sekitar itu (16 kilogram, red). Namun kalau hari besar seperti lebaran lalu, sehari bisa habis 30 kilogram. Saya tidak sendiri, tetapi dibantu saudara, anak-anak serta empat karyawan. Buka pun mulai pukul 03.00 dan biasanya habis setelah Ashar,” urai Kasi Pemerintahan Kelurahan Lawang, yang kini dalam Masa Persiapan Pensiun (MPP).
Tidak hanya onde-onde, Hartitik juga memproduksi pia. Bahan yang digunakan sama yakni berisi kacang hijau. Rasanya juga enak dengan tekstur yang lembut. Pia buatannya bisa tahan sampai dua minggu, meskipun tanpa bahan pengawet.
Selain dikirim ke luar negeri, onde-onde serta pia asli Lawang ini, juga dikirim ke beberapa kota di Indonesia. Bahkan, setiap hari ada pelanggan tetap dari Sidoarjo, Jakarta dan Surabaya yang meminta kiriman.
“Satu biji harganya Rp 3.000, baik pia ataupun onde-onde. Selain menjual matang, terkadang juga saya jual mentah dan setengah matang, tergantung permintaan pembeli,” imbuh Tim Penggerak PKK Kabupaten Malang ini.
Di sisi lain, karena rasanya yang lezat dan nikmat, berbeda dengan onde-onde lainnya, Onde-onde Istimewa buatan Hartitik ini, sempat mendapat pujian dari Agus Harimurti Yudhoyono, ketika datang dalam acara Halal Bihalal dengan insan pers Jawa Timur dan Malang Raya, di kediaman Komisaris Utama Malang Post, Imawan Mashuri beberapa waktu lalu.
AHY, sapaan akrab Ketua Komando Satuan Tugas Bersama (Kogasma) Partai Demokrat ini, mengatakan bahwa onde-onde yang merupakan makanan khas Lawang, sangat enak dan lezat. Sebab selain rasanya lembut, juga tanpa campuran bahan pengawet.
Onde-onde Istimewa ini, diharapkan bisa menjadi jajanan tradisional untuk oleh-oleh khas, setelah Lawang ditetapkan sebagai Kota Heritage atau Kota Tua. (agung priyo/ary) 

Berita Terkait

Berita Lainnya :