Sulap Limbah Botol Plastik Bekas Menjadi Bernilai Seni Tinggi

 
Botol plastik bekas menjadi salah satu permasalahan lingkungan yang butuh perhatian seluruh dunia. Namun jika dikelola dengan baik dan benar, maka pundi-pundi ekonomi hingga kerusakan lingkungan bakal bisa dihindari. Mohammad Taufiq Shaleh Saguanto berusahanya untuk menyulap botol botol plastik bekas menjadi benda bernilai.
Pria yang bertempat tinggal di Alam Dieng Residence Blok A no 1, Kecamatan Sukun, Kota Malang ini, adalah entreprenuer coach, trainer dan Indonesian volunteer yang ditunjuk oleh UNHCR PBB. Taufiq, sapaannya, memulai usaha kerajinan dari botol plastik bekas, ketika usahanya di bidang properti harus kolaps. Sehingga modal usaha yang didapat dari utang harus bisa dilunasinya tanpa menyusahkan keluarganya.
“Basic saya sebenarnya adalah bisnis. Bahkan sejak rahun 2002 sebelum lulus kuliah saya punya perusahaan sendiri di Jakarta  2002 yang bergerak di bidang peralatan tentara di Mabes TNI Jakarta,” ujar Taufiq kepada Malang Post mengawali ceritanya.
Namun, apa yang dilakoninya tersebut adah bisnis keluarga besarnya. Bahkan sudah terkenal di Jawa Timur sebagai pengusaha peralatan tentara dan berjalan hingga saat ini. Karena tertantang untuk kembali di Malang, akhirnya sejak tahun 2010 ia mulai buka bisnis lagi di bidang properti dan tak butuh waktu lama sekitar tahun 2014 harus kolaps karena ditipu.
Akhirnya, dari situ ayah tiga anak harus berpikir untuk bangkit tanpa menggangu perusahaan yang sudah ada. “Dari situ saya evaluasi total hidup saya. Mencari kesalahan selama bisnis properti. Karena menurut saya, ditipu adalah nasib. Dan saya harus evaluasi kedalam tanpa harus menyalahkan siapa-siapa,” beber laki-laki kelahiran Malang, 8 Februari 1979 ini.
Ia menyadari, jika masalah terbesarnya adalah bagimana harus mengembalikan utang dengan bunga yang terlanjur menggelembung. Baik pada pihak perbankan maupun non perbankan.
“Itulah awal saya harus bisa bangkit dengan bermodal imajinasi dan kreatifitas. Yaitu dengan modal sampah-sampah rumah tangga, alat dapur plastik rusak, mainan anak rusak, sampah elektronik, terutama yang berbahan dasar plastik,” ungkapnya. 
Dengan bahan bekas itu, akhirnya beberapa karya berbentuk sepeda motor dan lokomotif diciptakan dari tangannya. Hingga suatu ketika salah satu hasil karyanya dibeli oleh orang. Dari satu karya yang dihargai ratusan ribu itulah ia terus membuat dan menbuat.
“Kalau tidak dalah tahun 2014 awal, karya berbentuk lokomotif dihargai orang ratusan ribu. Padahal dari rongsokan dan modal awal hanya Rp 50 ribu untuk membeli lem tembak plastik, gergaji besi, gunting dan pilok,” imbuhnya.
Berjalan selang satu tahun, ia mulai merasa kesulitan untuk mencari barang bekas. Yang akhirnya, ia mulai melakukan riset agar bahan yang digunakan mudah dicari. Yakni botol plastik sejak tahun 2015. Yang dirapnya, semua karya desain berbagai miniatur bisa dibuatnya menggunakan botol plastik dan berhasil.
Bahkan yang paling menarik, setiap ia mengantarkan anak-anaknya berangakat sekolah, Taufik tak malu untuk mengambil botol plastik bekas yang dibuang di jalan-jalan. “Dari apa yang saya lakukan, selain tak butuh modal banyak, pemasaran mudah dan bisa mengurangi kerusakan lingkungan akibat limbah harus diuraikan dalam waktu 20 tahun saya mulai menemukan nilai lebihnya,” ungkap alumni tahun 2003 Manajemen, FEB, UMM ini.
Memasuki tahun 2017, Taufiq mulai mengajar dan mengajak warga sekitar dengan menjadi volunteer di komunitas lingkup Malang Raya. Seperti mengajari anak yatim, rumah belajar di kampung-kampung dan kepada relawan guru honorer.
Kemudian dari situ, kegiatan yang awalnya bertujuan untuk bangun dari keterpurukan ekonomi mulai beralih ke ranah sosial. Tak tanggung-tanggung, dari omset setiap bulan rata-rata Rp 20 juta. Di mana untuk satu miniatur sepeda yang dibuat dari satu botol bekas pernah dijualnya dengan harga Rp 2 juta. Sehingga tak salah jika dari kerajinan barang bekas yang dijualnya ia bisa menjadi  entreprenuer coach dan trainer botol bekas.
“Yang lebih membanggakan saya ditunjuk PBB sebagai Indonesian volunteer di UNHCR. Di mana dari situ saya bisa mengajar, belajar, untuk menyelamatkan lingkungan dari limbah botol sampah agar bisa bernilai di seluruh Indonesia. Mulai dari sekolah di desa terpencil di Indonesia Timur, rumah tahanan, hingga pesantren,” bangganya.
Saat ini, ia tengah merancang Museum Recycle dari botol plastik yang dikatakannya baru pertama di dunia. Di mana ia menamainya Recycle Museum Hotbottles dengan lokasi di Pondok Wisata B Walk, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang.
Meski dalam proses, sudah ada beberapa karya miniatur alat transportasi seperti motor Jokowi, mobil dan miniatur lokomotif hingga dua robot besar dari bahan botol plastik dipampangnya. “Tentunya selain memiliki nilai seni dan ekonomis, saya ingin dari kerajinan ini memiliki andil untuk menjaga lingkungan dari limbah botol plastik,” pungkasnya.(eri/ary)

Berita Terkait

Berita Lainnya :