Sumani, 17 Tahun Menempa Besi, Jadi Cangkul, Sabit hingga Pedang


MALANG - Sumani (66 tahun) adalah pekerja keras, perempuan hebat. Selama sekitar 17 tahun, ia menjadi Pandai Besi. Padahal pekerjaan ini, umumnya dikerjakan oleh laki-laki, karena selain berat juga membutuhkan tenaga ekstra. Tidak kenal lelah, Sumani juga tidak pernah mengeluh.
Kulit tubuhnya sudah terlihat keriput. Maklum usianya sudah lebih setengah abad. Namun semangatnya untuk mengais rezeki, patut menjadi contoh. Ketika ditemui Malang Post di stand pande besi saat acara Expo Pembangunan 2018 di halaman luar Stadion Kanjuruhan Kepanjen beberapa waktu lalu, wanita kelahiran 1952 ini sedang menyelesaikan pembuatan pedang. Tangan kanannya memegang palu, sementara tangan kirinya memegang besi yang baru dipanasi dengan penjepit.
Dengan penuh tenaga, Sumani menempa lempengan besi itu berulang kali. Pemanasan besi dengan bara arang yang kemudian ditempa itu, adalah proses pembuatan pedang. Meskipun keringat bercucuran di wajahnya, namun warga Jalan Anusopati, Desa Candirenggo, Kecamatan Singosari ini, tidak terlihat lelah.
Malahan ia sesekali tersenyum untuk menghibur diri dan menghilangkan rasa lelahnya. Apalagi, ketika didatangi oleh Bupati Malang Dr. H. Rendra Kresna dan Wakil Bupati Malang, Drs. H. M. Sanusi, wanita dengan Sembilan cucu ini malam bertambah semangat.
“Ini (pandai besi, red) pekerjaan saya pak. Sudah sekitar 17 tahun, saya menjadi pandai besi,” ucap Sumani, sembari mengambil besi dari bara arang yang kemudian ditempanya lagi di atas sebuah besi.
Menjadi tukang pande besi, adalah pilihan Sumani. Pekerjaan kasar ini, akan terus dilakukan sampai dirinya sudah tidak kuat lagi menempa besi. Selama masih memiki tenaga untuk menempa besi, ia tidak akan berhenti menjadi pandai besi.
Terhitung sudah selama 17 tahun, Sumani menjadi pandai besi. Pekerjaan ini, meneruskan usaha suaminya (alm) Sail, yang dulunya juga seorang tukang pandai besi. Suaminya meninggal dunia pada tahun 2010 lalu. Selang tiga bulan, setelah Sumani mendapat penghargaan dari Ny. Jajuk Rendra Kresna.
“Sebelum suami meninggal dunia, saya sudah bekerja menjadi pandai besi. Kemudian begitu suami meninggal, saya menjadi penerusnya. Ilmu pandai besi saya dapatkan dari suami, karena dulunya sering membantu,” ungkap ibu tiga anak dengan sembilan cucu ini.
Selain membuat pedang atau pisau, Sumani juga bisa membuat sabit ataupun cangkul. Untuk membuat satu pedang atau alat lainnya, ia bisa selesaikan dalam waktu dua hari. Mulai dari awal proses hingga siap pakai atau jual.
“Saya tidak keliling memasarkannya. Tetapi saya membuat tergantung pemesanan. Karena setiap minggunya selalu saja ada yang pesan untuk dibuatkan pedang, sabit atau lainnya,” ujarnya.
Bahan besi untuk pembuatan pedang, sabit, pisau dan lainnya, dibeli di Pasar Loak Comboran Malang. Ia membeli kiloan dengan harga sekilo Rp 9 ribu. Biasanya, sekali kulakan Sumani membeli 10 sampai 20 kilo. Kemudian satu hasil karyanya seperti pedang, dijual dengan harga Rp 170 ribu.
Kenapa tidak bekerja lainnya, seperti berjualan makanan di rumah atau di pasar?. Sumani, mengatakan kalau dirinya pernah berjualan ke pasar. Tetapi hanya berlangsung beberapa hari saja dan kembali menjadi pandai besi. Alasannya, karena lebih nyaman bekerja pandai besi, dari pada ke pasar yang harus berangkat tengah malam.
“Pokoknya hanya cukup bisa untuk makan setiap hari saja sudah bersyukur. Termasuk bisa kulakan membeli bahan lagi. Syukur-syukur ada penghasilan lebih untuk tabungan,” paparnya dengan penuh semangat.
Bupati Malang Dr. H. Rendra Kresna, ketika mendatangi Sumani mengaku tersanjung dengan semangatnya. Rendra juga mengatakan bahwa pandai besi di Kabupaten Malang, ada salah satunya adalah perempuan.
“Wanita itu tidak hanya sebagai seorang istri saja. Pandai besi juga ada yang dikerjakan wanita, dari Kecamatan Singosari lho,” ucap Rendra sembari memberi apresiasi kepada Sumani.(agung priyo/ary)

Berita Terkait

Berita Lainnya :