Supriatna, Kreator Replika Hewan Berbahan Sampah


MALANG - Sampah bisa diolah menjadi karya seni yang luar biasa. Buktinya, di tangan Supriatna, sampah kering disulap menjadi berbagai macam karya seni yang mengagumkan. Karyanya seperti replika hewan dan patung terbuat dari sampah. Dia menamakan karyanya tersebut sebagai Seni Olah Sampah Kering.
Kondisi di area Pasar Sumedang memang banyak bertumpukan sampah. Baik itu sampah dari pasar maupun sampah rumah tangga dari masyarakat. Tumpukan atau gunungan sampah itu bukan dibiarkan begitu saja. Melainkan sampah tersebut dikelola melalui Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST)-3R Sumedang Bersatu.
Sedangkan Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Sumedang Bersatu juga turut berkontribusi mengolah sampah yang ada di tempat tersebut. KSM ini diketuai Supriatna yang merupakan pegiat pelestarian lingkungan. Melalui tempat itu, semenjak awal tahun 2018 ini dia mengolah aneka sampah kering menjadi karya seni  mengagumkan.
Beberapa sampah plastik yang berbahaya bagi lingkungan itu menjadi bahan baku pembuatan karya seni berupa replika hewan serta patung. Saat didatangi wartawan koran Malang Post, dia tengah asyik membuat karya replika hewan burung Rajawali. Sedangkan disekelilingnya terdapat beraneka ragam karya seni yang kreatif
Jari jemarinya tampak sibuk mengecat burung yang terbuat dari bahan sampah kering ini. Sembari membuat karya itu, dia bercerita tentang kesibukan membuat replika hewan dan patung terbuat dari sampah tersebut. Mulanya, pria yang berdomisili di Kelurahan Cempokomulyo, Kecamatan Kepanjen ini prihatin banyaknya tumpukan sampah plastik.
“Kalau sampah plastik dibakar, menyebabkan polusi udara. Apabila dipendam dalam tanah, tidak bisa terurai dan menyebabkan tanah tercemar,” ujar Supriatna kepada Malang Post.
Maka dari itu, dia mencari cara supaya sampah kering terolah dengan baik. supaya dapat meminimalisir kerusakan lingkungan akibat sampah kering tersebut. Akhirnya ditemukan cara dengan menjadikan sampah kering sebagai bahan baku pembuatan replika aneka hewan maupun patung dengan berbagai macam karakter.
Replika hewan yang dibuat mulai dari aneka burung, kadal raksasa dan kalajengking raksasa. Sedangkan bahannya terdiri dari aneka plastik, kaleng dan ban. Untuk satu karya berupa burung, pria kelahiran Riau ini membutuhkan waktu selama dua hari. Ada lagi karyanya yang menakjubkan, yakni adik Godzilla alias Kadal Raksasa. Tak sebesar Godzilla, maka sebut saja adik Godzilla.
“Kalau membuat kadal raksasa dibutuhkan waktu lima sampai enam hari. Sedangkan bahannya menghabiskan sebanyak 50 ban. Setelah dibentuk menjadi kadal raksasa, kemudian diwarnai menggunakan cat,” terang pria yang akrab disapa Nana ini.
Untuk sementara ini, sambung Nana, bahan yang paling mudah dicari adalah ban dan plastik. Karena selalu tersedia di TPST-3R Sumedang bersatu. Semenjak awal tahun 2018 dia menekuni Seni Olah Sampah Kering ini, sudah ada 28 karya yang dihasilkan. Menariknya, tidak ada satupun karya tersebut. Meski memiliki nilai jual sangat tinggi.
“Sementara ini belum dikomersilkan. Lantaran untuk motivasi dalam rangka pelestarian lingkungan dan penanggulangan bahaya sampah. Padahal banyak yang mau beli, hingga ada yang memberikan tawaran permodalan,” terang Nana.
Namun, semua tawaran itu ditolaknya. Karena tujuannya adalah untuk motivasi mengurangi sampah. Karena berbagai sampah kering yang bertumpukan, dinilainya akan mengundang bahaya terhadap lingkungan. Sehingga harus ditanggulangi sejak dini, supaya sampah kering terutama plastik dan karet dapat terurai maupun diolah dengan baik.
“Jadi, ini solusi yang mengurangi limbah kering berupa plastik maupun karet yang sulit terurai,” katanya.
Nana juga menularkan ilmunya membuat replika burung dan patung kepada anggota KSM maupun masyarakat Kota Kepanjen. Karena dia ingin ilmu yang dimiliki dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat banyak.
Selain itu, dia juga berharap semakin banyak bermunculan masyarakat maupun penggiat lingkungan yang peduli akan kelestarian lingkungan serta menanggulangi bahaya sampah. Terutama mengatasi masalah sampah di Kota Kepanjen. Mengingat Kota Kepanjen sebagai Ibukota Kabupaten Malang terus tumbuh dan berkembang.
“Apabila sampah kering dapat diolah dengan baik, maka banyak manfaatnya. Salah satunya termasuk bagus bagi kesehatan. Karena tidak ada tumpukan sampah yang mengundang berkembang biak nyamuk,” terangnya. Dia berharap dengan apa yang dilakukan ini, dapat ditiru oleh masyarakat lain dan peduli terhadap lingkungan dan sekaligus menanggulangi bahaya sampah.(Binar Gumilang/ary)

Berita Terkait

Berita Lainnya :