M. Dwi Cahyono: Ini Petaka Arkeologis

Kecelakaan tersebut merupakan petaka arkeologis. Pasalnya Candi Kidal yang merupakan aset budaya nusantara, adalah peninggalan kerajaan Singasari yang terawat dengan baik. Apalagi candi ini merupakan tempat pendarmaan Anusapati. Peristiwa tersebut membuat sejumlah arkeolog langsung datang ke Candi Kidal, Selasa (24/7). 
“Sangat disayangkan, padahal itu adalah situs bersejarah yang sangat penting, dan merupakan pendarmaan tokoh kerajaan Singhasari. Apalagi sampai saat ini pendarmaan Ken Arok belum ditemukan. Jadi candi tersebut merupakan salah satu cagar budaya, yang bernilai historis tinggi,” urai arkeolog Universitas Negeri Malang, M. Dwi Cahyono yang datang ke Candi Kidal, kemarin.
Tak hanya itu, Candi Kidal juga salah satu peninggalan yang mendapatkan peringkat nasional bersama Candi Jago dan Singhasari. “Candi ini sudah dikatkan dengan benda cagar budaya, dan sudah menjadi warisan Nusantara, yang harus dijaga kelestariannya,” ungkapnya. 
Memang, kata Dwi Cahyono kerusakan candi itu tidak terlalu parah. Hanya saja, ada dua bagian arsitektural di bagian depan candi yang rusak. 
“Platfera di depan candi induk sempat terbongkar. Selain itu, sebagian bangunan dua buah batu di bawah kalamakara (patung kepala naga) rusak. Padahal satu batu di bawah kalamakara bagian belakang adalah batu asli dan terdorong masuk dan yang depan batu tiruan,” tambahnya.
Dia mengatakan meskipun masih bisa diperbaiki, namun kejadian ini juga menimbulkan sedikit kekecewaan. Sebab bangunan alami candi jadi rusak. Dia berharap pihak Trowulan akan segera membenahi struktur candi itu. 
Berdasarkan catatan Tim Ekspedisi Samala Malang Post bersama M. Dwi Cahyono tahun 2014 lalu. Candi Kidal memang luar biasa. Ketika itu, tim menemukan banyak hal baru saat melakukan riset di Candi Kidal. Candi di wilayah Malang Timur ini ternyata masih menyisakan sejumlah tanda kebesarannya. Kalau selama ini yang biasa dilihat orang adalah bangunan candi dengan lahan sempit, justru sebaliknya. 
Tim Ekspedisi Samala berhasil menggali banyak informasi baru yang belum pernah terekspose di media. Bahkan tim melihat secara langsung batas-batas area 4 hektar yang dulunya menjadi kawasan yang disucikan sebagai lingkup pendarmaan Anusapati, Raja ke II Singhasari tersebut.
 
Dilihat dari depan, Candi Kidal ini tak terlihat istimewa karena lokasinya yang sempit dan tak terlihat jelas dari jalan raya. Akses menuju candi ini digambarkan seperti leher botol, memanjang kemudian menggelembung di belakang. Ada beberapa ornamen khas di candi ini, yakni patung kepala naga, singa penyangga dan medalion. Yang istimewa adalah relief Garudeya, yang diyakini menjadi inspirasi lambang negara Indonesia yakni Garuda Pancasila. 
Garudeya digambarkan seorang manusia yang berkepala burung garuda. Garudeya adalah tokoh legenda yang dikenal dengan pengabdiannya kepada sang Ibu yakni Dewi Kadru. Dewi Kadru yang diperbudak oleh Dewi Winata berhasil dibebaskannya dengan perjuangan yang tidak gampang, bahkan ia sampai harus bertarung dengan Dewa Wisnu. Simbol perjuangan Garudeya lepas dari perbudakan ibunya itulah yang dianggap pas dengan gambaran Indonesia yang merdeka dari para penjajah.
Candi ini, pernah dipugar oleh pemerintah pada sekitar 1998. Dan arkeolog UM M. Dwi Cahyono menegaskan bahwa candi ini juga pernah dipugar pada masa kerajaan Majapahit di bawah pimpinan Hayam Wuruk. Bahkan menurut Dwi, sebenarnya bangunan candi yang berdiri sekarang ini sebenarnya adalah hasil pemugaran yang dilakukan pada masa Majapahit. 
Sementara Candi Kidal yang asli sebenarnya hanya setinggi sekitar 3 meter saja. Candi Kidal yang saat ini memang relatif masih berdiri utuh, kecuali bagian atas candinya yang hilang separuh. Selain itu arca di dalam candi pun sudah tidak ada di tempat. Sejumlah ahli berpendapat, patung tersebut saat ini disimpan di Royal Tropical Institute Amsterdam dalam bentuk Arca Siwa Mahadewa.
Saat itu, juru pelihara candi. Imam juga mengajak tim berkeliling di luar area candi. Mulai dari lokasi petirtan yang dinamakan Sumber Suni, hingga melihat batas-batas luar yang dulunya diyakini masih sebagai lokasi candi. Di antaranya sisa-sisa tembok pagar di dekat sungai yang dibuktikan dengan bentuk batanya yang besar, berwarna merah menyala dan sangat tebal. Tembok tersebut dibangun sebagai pemisah antara tempat suci.
 Di depan candi, ada sebuah batu andong yang diyakini dulu sebagai tempat pengajaran dan saat ini di sekitar lokasi tersebut berdiri sebuah sekolah dasar. Batu tersebut berada di halaman rumah lurah yang tergeletak begitu saja. Di sisi lain lebih jauh lagi di depan candi, ada sebuah lingga tanpa yoni yang juga tergeletak di pekarangan warga.
Bisa dibayangkan betapa luasnya dulu area candi Kidal ini, diperkirakan oleh para ahli sejarah bisa mencapai 4 hektar kata Imam ketika itu.(yun/ary)  
 

Berita Terkait

Berita Lainnya :

loading...