Lagi, Anak Gugat Ayah Kandung dan Saudara Kandung


MALANG - Masih ingat drama kontroversial anak gugat bapak kandung demi rumah di Jalan Diponegoro 2 Malang? Kasus ini kembali mencuat setelah Ani Hadi Setyowati alias Tatik, 60, menggugat ayah kandungnya lagi, yakni Achmad Tjakoen Tjokrohadi, 96.
Tak hanya itu, putri keempat Tjakoen ini, juga menggugat ketujuh saudara kandungnya. Yakni, Agus Budianto, Ani Hadiastuti, Almarhumah Ani Hadi Mukti Lestari dengan ahli waris Setyoadi Hendralestario-Sawitri Hendralestario, Agustin Kemalawati, Agus Budi Wasono, Setyo Budi Hartono dan Agus Heri Purnomo.
Kemarin, kedua pihak bertemu di PN Malang untuk menjalani sidang ketiga mediasi. Kuasa tergugat Tjakoen, yaitu anaknya Setyo Budi Hartono mengatakan bahwa materi gugatan dari saudara perempuannya kepada ayah dan para saudaranya, berbeda dengan materi lama.
“Kasus terdahulu, adalah saat ada akta hibah yang dibuat oleh Tatik dengan mengajak ayah kepada notaris, tanpa sepengetahuan saudara yang lain. Sekarang, adalah soal akta jual beli,” kata Setyo kepada wartawan dikonfirmasi di PN Malang kemarin.
Kasus ini, diawali dari dugaan manipulasi akta hibah oleh Tatik dengan cara mengambil sertifikat rumah itu tanpa sepengetahuan ayahnya. Tatik juga pernah mengajak ayahnya yang sudah renta Tjakoen kepada notaris Tri Sukmawati Handayani pada 1999.
Tjakoen diminta menandatangani kertas kosong bersegel yang akhirnya digunakan sebagai pernyataan adanya akta hibah dari Tjakoen kepada Tatik. Tanpa diketahui ketujuh saudaranya, sertifikat rumah Jalan Diponegoro 2 Malang seluas 996 meter persegi berpindah nama menjadi milik Tatik.
Tjakoen dan anak-anaknya yang lain, akhirnya menggugat akta hibah tersebut di Pengadilan Agama Malang karena berkaitan dengan hak waris.  Dari dua sidang PA Malang dan PT Surabaya, Tjakoen kalah. Lalu, pada putusan MA tahun 2013, kasasi Tjakoen diterima dan sekaligus membatalkan akta hibah.
Peninjauan Kembali dari Tatik juga ditolak hakim sehingga PA Malang diperintahkan untuk mengeksekusi objek yang dipersoalkan. Tatik kembali menggugat ayahnya pada 2014 di PN Malang dengan materi gugatan wanprestasi dan ingkar janji.
Gugatan ini juga naik hingga ke Mahkamah Agung, dan tetap dimenangkan oleh Tjakoen pada 2016 lalu. Pada 2017 lalu, setelah Boediarti, istri Tjakoen dan ibu dari kedelapan anaknya itu meninggal, drama kembali berlanjut.
Kali ini, Tatik tidak hanya menggugat ayahnya tapi juga para saudaranya. Kuasa hukum Tatik, Aswanto SH mengatakan, materi gugatan Tatik terhadap ayah dan para saudaranya adalah perbuatan melawan hukum.
Gugatan ini sudah didaftarkan pada November 2017 lalu, dan sedang dalam proses mediasi. “Saat ini masih dalam sidang ketiga proses mediasi. Ketika nanti mediasi tidak ada titik temu, kita baru bicara pokok gugatan kita,” ungkap Aswanto.
Menurut dia, kliennya sudah membeli rumah itu seharga Rp 700 juta secara lunas pada tahun 2000. Dalil ini yang dijadikan dasar gugatan perbuatan melawan hukum yang dilakukan oleh para tergugat.
“Persoalan perbuatan melawan hukum menyangkut akta jual beli itu tidak dilaksanakan. Kami menganggap ini adalah perbuatan melawan hukum. Buktinya adalah BPHTB, kalau akta hibah BPHTB tidak ada,” tandasnya. (fin/mar)

Berita Terkait

Berita Lainnya :

loading...