magista scarpe da calcio Kejang, Dokter Joko Dirawat di RSSA


Kejang, Dokter Joko Dirawat di RSSA

MALANG – Sejak menabrak Candi Kidal, kesehatan dr. Joko Agus Gunawan rupanya menurun. Sekjen Malang Care ini, dibawa ke Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA) Malang, sejak Selasa (25/7) malam  pukul 21.00 hingga Rabu (26/7) kemarin. Terkait peristiwa ini, sejumlah pemerhati Cagar Budaya menegaskan bahwa ini menjadi peringatan untuk lebih memperhatikan peninggalan leluhur.
Saat Malang Post datang ke kediamannya di Desa Kidal Kecamatan Tumpang, di rumahnya hanya ada seorang wanita tua yang sedang momong anak balita laki-laki. Saat ditanya mau bertemu dengan dr. Gunawan, ia mengatakan kalau cucunya tidak ada.
“Di bawa ke RS, karena hidungnya luka dan terus kejang-kejang,” tutur Riami, nenek dr. Joko Agus Gunawan.
Di rumahnya yang tidak jauh dari Candi Kidal tersebut, dr. Gunawan tinggal bersama dengan istrinya (Piah, red) serta dua anaknya, orangtua serta neneknya (Riami, red). “Tetapi semuanya (istri serta orangtuanya, red) sedang berada di rumah sakit,” ucapnya sembari menggendong balita laki-laki yang diakui anak kedua dr. Gunawan.
Sementara itu, Ki Suryadi, mantan juru pelihara (jupel) Candi Jago menegaskan bahwa kejadian tersebut merupakan peringatan bagi seluruh warga.
“Kita tidak usah mempeributkan lagi bagaimana dan kenapa si pengemudi bisa sampai melakukan hal tersebut. Ini sudah jelas peringatan buat kita semua,” papar Ki Sentot.
Ia menerangkan bahwa dirinya sampai saat ini pun belum dapat menyimpulkan apa yang sebenarnya terjadi pada pengemudi sampai-sampai bisa menerobos pagar dan kemudian menabrak pilar candi hingga rusak.
Ki Sentot menganggap bahwa kejadian tersebut jika dinalar pun tidak akan sampai di akal sehat manusia. Pasalnya, dari pagar depan sampai pada pilar candi yang tertabrak jaraknya kurang lebih 80 meter. Di mana, kecepatan yang dipakai seorang  pengemudi harusnya sudah dapat teredam jika menabrak pagar beton yang ada didepan tidak sampai masuk ke areal pelataran.
“Kalau mau dipikir-pikir tidak masuk akal juga. Lagian si pengemudi ini dokter dia pun intelejensia yang tinggi. Saya pikir ini memang peringatan,” tegasnya.
Ia meneruskan, kejadian ini, menurutnya adalah bentuk alam dan sang pencipta memberitahu kepada manusia akan akhlak dan moral yang dilakukan belakangan ini. Ki Sentot memberikan perumpamaan bahwa gaya hidup dan pikiran manusia membuat dirinya lupa akan nilai-nilai spiritual yang pada dasarnya merupakan manifestasi dari sang pencipta. 
Lebih lanjut, Ia menjelaskan bahwa candi merupakan bukti bahwa peradaban sudah terbangun dari dahulu. Bukti bahwa manusia memiliki cipta rasa dan karya yang patut dibanggakan dan dijaga sampai seterusnya.
Mantan Jupel Candi Jago ini juga mengutarakan bahwa ia mempercayai bahwa alam dan isinya sedang berusaha memperingatkan umat manusia. Untuk kembali pada moral dan kehidupan yang seharusnya dijalankan manusia yaitu menjaga ciptaan pencipta. 
Hal yang sama juga disampaikan pemerhati budaya Joko Rendy. Ia menuturkan bahwa kejadian laka di Candi Kidal adalah peringatan telak kepada pemerintah dan warga sekitar. 
“Yang pasti dalam musibah candi kidal pihak pemerintah musti mawas diri. Saya pikir masih kurang sinerginya dengan lembaga-lembaga terkait yang akhirnya menjadi salah satu pangkal musibah ini,” papar pria yang ahli membuat Topeng Malang ini. 
Menurut pria yang kerap berkarya di Pusat Study Kendedes Singosari ini, minimnya perhatian pemerintah menjadi salah satu penyebab. Pasalnya, Malang Raya memiliki banyak candi, situs, atau peninggalan yang tidak dirawat secara baik.
Idealnya, pemerintah memiliki tim-timnya sendiri untuk ditempatkan di tiap peninggalan bersejarah untuk menjaga sekaligus mengembangkan potensi yang ada dalam peninggalan budaya sebuah daerah. Akan tetapi hal tersebut tidak maksimal berlaku di Malang.
“Ada situs Nanasan Jawar dan Watu Gilang yang tidak terjaga dan terpelihara dengan baik. Alasannya selalu keterbatasan anggaran,” tandasnya.
Akan tetapi Joko juga menjelaskan bahwa kejadian laka Candi Kidal tidak hanya bisa menjadi peringatan bagi pemerintah saja. Ia mengungkapkan, bagaimanapun juga candi tak lepas dari sejarah bangkitnya sebuah peradapan. Tidak sekedar menjaga tentunya namun juga merawat. Dimana hal ini tidak akan bisa dilakukan oleh satu orang saja,  
“Peran masyarakat juga amat penting. Terlebih lagi kondisinya kita tahu  sendiri bahwa cagar budaya seperti dipandang sebelah mata. Jika semua unsur bisa satu kata untuk sama-sama mencintai sejarahnya sendiri, hal tersebut dapat memberikan manfaat besar bagi semuanya,” pungkas Joko
Hingga saat ini, kecelakaan tunggal yang dialami dokter yang pernah bekerja di RS Persada Malang, dr. Joko Agus Gunawan, masih membuat warga heran. Orang tidak percaya bagaimana bisa mobil Kia Karnival BE 2844 GH yang dikendarai pria berusia 35 tahun tersebut, bisa menabrak bangunan Candi Kidal. Bahkan sampai kemarin, Juru Pelihara Candi Kidal, Imam Wijanarko mengaku tidak bisa membayangkan.
“Kejadian itu di luar nalar. Saya saja tidak bisa membayangkan, kok bisa ya. Apalagi taman di depan juga tidak rusak, dan nyaris seperti tidak ada bekas roda mobil,” ucap Imam Wijanarko, saat ditemui Malang Post di pos jaga Candi Kidal.
Imam mengatakan, jika mobil melaju dari selatan lalu menabrak pagar dinding depan, setidaknya langsung menabrak dinding pembatas pagar. Tetapi mobil begitu nabrak pagar, langsung menghadap lurus ke timur dan melaju ke arah bangunan Candi Kidal, yang berjarak sekitar 80 meter dari jalan raya.
“Setidaknya mobil berhenti 15 meter setelah menabrak pagar dinding. Namun kejadian ini tidak, mobil meluncur lurus ke arah candi. Dan bongkahan dinding yang ditabrak, seharusnya berhamburan ke utara, tetapi bongkahannya ada di sebelah selatan,” ungkapnya.
Dikatakannya, sebelum ada kejadian mobil menabrak bangunan Candi Kidal, Imam mengaku tiga hari sebelumnya mendapat pertanda lewat mimpi. Dua kali ia bermimpi pertanda alam yang berbeda. Namun Imam tidak tahu kejadian alam apa yang akan terjadi.
“Begitu ada kejadian ini (mobil nabrak candi, red), saya baru menyadari pertanda alam lewat mimpi itu,” katanya.
Bahkan sehari sebelum kejadian, Imam juga merasakan hawa yang tidak biasanya. Suhu udara di lingkungan Candi Kidal sangat dingin sekali. Karena menganggap bahwa hawa udara tidak seperti biasanya, Imam memilih pulang untuk istirahat di rumah saja.
Termasuk pasca kejadian itu, Imam juga merasakan ada sesuatu yang nyata terjadi. “Namun apa itu dan mimpi apa yang saya alami, tidak bisa saya sampaikan ke public. Jujur, karena saya takut bersinggungan,” tuturnya.
Hanya yang disampaikan oleh Imam, bahwa kejadian itu menjadi peringatan untuk semuanya. Di mana hidup itu, harus dijalani sebagaimana baiknya. “Jujur saja karena regenerasi sekarang, sudah banyak yang lupa jati diri dan bangsanya, terutama pada leluhur. Bahwa kita ada juga karena leluhur,” urainya.
Soal dr. Joko Agus Gunawan, Imam mengatakan bahwa dia adalah orang baik serta peduli dengan keberadaan Candi Kidal. Gunawan, sering kali datang ke Candi Kidal. Ketika sedang berada di rumah, seminggu bisa 2 – 3 kali datang ke Candi Kidal. Namun saat sibuk, dalam sebulan bisa jadi hanya sekali saja datang ke candi.
Setiap kali datang pada malam hari, Gunawan biasanya mandi serta berwudhu terlebih dahulu ke Sumber Suni. Baru kemudian melakukan ritual ke Candi Kidal. “Pengakuannya kepada saya, ketika nabrak pagar dinding dia tidak sadar dan merasa sedang berjalan biasa di jalan raya. Tetapi begitu menabrak candi, dia baru sadar telah menabrak leluhur. Ia sempat berjalan dan meminta maaf, kalau sebetulnya bukan dirinya yang menguasai mobil,” jelasnya.
Imam mengakui, kalau dirinya sudah 24 tahun menjadi Juru Pelihara Candi Kidal, sejak tahun 1992 / 1993 lalu. Imam merupakan generasi keempat yang turun temurun. Generasi pertama adalah moyangnya pada tahun 1840 – 1901. Kemudian generasi kedua kakeknya pada tahun 1901 – 1971. Lalu generasi ketiga ayahnya pada tahun 1955 – 2010. Ia menjadi Juru Pelihara Candi Kidal, lantaran merasa memiliki ke leluhur.
“Yang datang ke Sumber Suni lalu ke Candi Kidal ini banyak sekali. Paling jauh ada dari India sekitar dua bulan lalu. Kemudian dariJakarta, Lampung serta Bali. Kedatangan mereka tentunya untuk meminta seger waras selamet,” paparnya.
Sementara itu, pasca kejadian kecelakaan tersebut, lokasi Candi Kidal tidak ditutup. Banyak warga yang datang karena penasaran dengan kejadian tersebut. Ada yang datang jauh-jauh dari Kecamatan Pujon, serta dari Kecamatan Blimbing Kota Malang.
“Saya melihat berita di TV kok ada mobil menabrak Candi Kidal. Makanya saya penasaran dan ingin melihat langsung. Kok bisa ya, aneh sekali padahal secara logika tidak mungkin bisa terjadi,” ungkap Tyas, warga Jalan LA Sucipto, Blimbing Kota Malang.
Namun untuk antisipasi kejadian yang tidak diinginkan, Juru Pelihara Candi Kidal, memberi batas tali raffia warna biru. Termasuk memberi tulisan untuk tidak melewati batas tali. Sehingga pengunjung tidak bisa mendekat dan foto dekat bangunan candi..(agp/ica/ary)

Berita Terkait

Berita Lainnya :