Pasutri Pelaku Penggandaan Uang Dijerat Pasal Berlapis

 
JOMBANG - Gempar kasus penggandaan uang di wilayah Jombang membuat polisi cepat menangani kasus ini. Bahkan pasangan suami istri (pasutri) Riza, 25 tahun, dan Tata Pradita, 26 tahun, yang diduga melakukan penipuan dengan modus penggandaan uang dijerat pasal berlapis. Yakni pasal 378 KUHP tentang penipuan dan UU No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.
Kepastian itu ditegaskan Kapolres Jombang AKBP Agung Marlianto, Jumat (28/7), kemarin. "Dua tersangka tersebut kita jerat pasal berlapis. Yaitu pasal 378 KUHP tentang penipuan dan UU No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang," kata Agung.
Mengapa dijerat UU pencucian uang atau money londering? Menurut Agung, untuk menyamarkan hasil kejahatannya, pasutri tersebut membeli tanah serta barang berharga lainnya. Oleh sebab itu, polisi juga menyita sertifikat sebidang tanah hasil pembelian pasutri tersebut.
"Selain itu kita juga menyita rekening atas nama Riza. Nah, dari rekening tersebut kita akan pelajari distribusi dana dari korban ke pelaku, hingga dibelikan tanah dan sejenisnya," urai Agung sembari menunjukkan buku tabungan milik pelaku.
Sesuai pasal 378 KUHP, baik Riza maupun Tata terancam hukuman maksimal empat tahun penjara. Sedangkan sesuai UU No. 8 Tahun 2010, mereka terancam penjara paling singkat satu tahun dan paling lama 20 tahun.
Sebelumnya, pasutri yang mengontrak rumah di Perum Metro Graha Tunggorono Jombang ini digerebek warga dan polisi. Hal itu menyusul adanya pengaduan dari dua orang korban, yakni dokter gigi berisinial SL, warga Surabaya, dan WT warga Magelang.
Kepada Riza, SL sudah menyerahkan uang Rp1,5 miliar, sedangkan WT sebanyak Rp150 juta. Dua korban ini sudah termakan janji Riza, yakni sanggup menggandakan uang berlipat-lipat. Namun hingga setahun lebih, uang tersebut justru tidak ada kejelasan.
Saat digerebek polisi menemukan dua peti dari kayu yang isinya penuh. Pada lapisan atas, terlihat uang pada peti tersebut, namun bagian bawah hanyalah koran bekas. Akhirnya, pasutri tersebut mengakui bahwa praktik yang dilakukan adalah penipuan. (suf/bjt/jon)
 

Berita Terkait

Berita Lainnya :

loading...