Sempat Viral, Remaja ini Bunuh Diri

MALANG – Tragis. Itulah nasib Rosita, 16 tahun, alumnus MTSN 1 Tumpang yang sempat viral karena polemik tabungan di sekolah senilai Rp 42,5 juta, yang disebut tak pernah ada. Jumat kemarin, sekitar pukul 05.00 WIB, Rosita ditemukan tanpa nyawa di dalam kamarnya, di Dusun Glendangan Desa Ngingit, Tumpang.
Rosita diduga nekat mengakhiri hidupnya dengan menenggak obat-obatan. Saat ini, kasus bunuh diri tersebut, ditangani Satreskrim Polres Malang. Menurut informasi yang dihimpun Malang Post, Rosita ditemukan pertama kali oleh ibunya Wijiyati. Pada pukul 05.00 WIB, Wijiyati masuk ke dalam kamar dan melihat Rosita tak bernyawa. 
Kejadian itu, tentu menggemparkan warga sekitar. Lantaran sebelumnya, Rosita mengaku uang tabungannya sebesar Rp 42,5 juta digelapkan sekolah. Rencananya, uang itu akan dipergunakan Rosita untuk melanjutkan ke SMA. Saat itu, peristiwa tersebut viral di dunia maya hingga menjadi bahan pembicaraan. 
Saat ditemukan, mulut Rosita mengeluarkan busa. Selain itu, di wajah korban dan di beberapa bagian tubuhnya, terdapat luka lebam seperti bekas pukulan benda tumpul. Kejadian itu dilaporkan kepada perangkat desa dan diteruskan ke kepolisian. Warga sekitar menduga luka lebam itu akibat siksaan yang dilakukan oleh ibunya. 
Menurut salah satu tetangga, Rosita sebelumnya sakit asam lambung. “Akan tetapi, ibunya tetap memarahi dan memukulinya. Mungkin dia tidak tahan dengan siksaan itu dan pada akhirnya nekat bunuh diri,” ujar tetangga yang enggan disebutkan namanya itu.  
Kepala MTsN Tumpang, Pono S.Pdi M.Pdi membenarkan Rosita sering mengalami tindakan kekerasan fisik dari ibunya. “Maka dari itu, atas kesepakatan sekolah dan perangkat desa, kami sudah melaporkan masalah ini kepada Dinas Sosial. Sebenarnya, kami bersama Dinas Sosial akan mengambil Rosita besok (hari ini, Red),” ujarnya kepada Malang Post.
Pono mengetahui apa yang dialami Rosita setelah mantan siswa di sekolah yang ia pimpin itu beberapa kali kabur dari rumah. Karena itu, untuk menyelesaikan masalah tersebut, ia sering berkoordinasi Bambang, Kaur Keamanan dan Ketertiban Desa, dan bagian penanganan sosial Dinsos Kabupaten Malang, yaitu Fikki Sandi dan Betty. 
Sayang, rencana penyelamatan Rosita terlambat. Sehari sebelum dijemput dari rumahnya, ia meregang nyawa di kamar rumahnya. “Kejadian ini yang saya takutkan. Maka dari itu, sejak dulu saya intens berkomunikasi dengan perangkat desa untuk segera menyelamatkan anak ini. Namun, takdir berkata lain,” ucapnya lirih.
Dia melanjutkan, sebelumnya Rosita tercatat sering kabur atau melarikan diri dari rumah, akibat tak tahan dengan siksaan ibunya tersebut. “Pernah suatu ketika, dia lari ke rumah wali kelasnya yang dituduh oleh ibunya menggelapkan uang tabungan itu,” tuturnya. 
Maka dari itu, pihaknya ingin menyelamatkan Rosita dari cengkeraman ibunya. “Sebelum melibatkan Dinsos, saya pernah memiliki pemikiran untuk membawa anak ini ke pesantren,” imbuhnya. 
Sementara itu, setelah ditemukan tewas, polisi melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) dan jenazah ke Kamar Mayat RSSA Kota Malang untuk dilakukan visum luar. Kasat Reskrim Polres Malang, AKP Azi Pratas Guspitu SH SIK mengatakan, untuk penyebab kamatian Rosita, masih menunggu hasil visum luar. “Untuk penyebab kematiannya masih belum diketahui. Yang jelas, saat ditemukan di dalam kamarnya terdapat berbagai obat antibiotik dan obat tenggorokan,” ucapnya di tempat yang sama.
Dia menjelaskan, saat ditemukan pertama kali di mulut korban mengeluarkan busa dan di wajahnya terdapat luka lebam. “Kata orangtuanya, luka lebam itu akibat terjatuh dari sepeda motor,” imbuhnya. 
Petugas Dinas Sosial, Betty mengatakan, Dinsos memang ada agenda untuk membawa Rosita dari ibunya Sabtu ini. “Saya kaget mendengar kabar ini. Memang mau kami ambil dari orangtuanya besok (hari ini), tapi sudah terlambat,” tuturnya. 
Dia mengatakan, sesuai hasil keterangan dari warga yang dikumpulkannya, Rosita tertekan dengan kondisi keluarganya. “Maka dari itu, kami bersama sekolah dan perangkat desa akan menjemput Rosita. Supaya mendapat lingkungan yang layak dan tidak tertekan dari keluarganya,” tuturnya..(big/fin/han)
 

Berita Terkait

Berita Lainnya :

loading...