Lihainya Perampok Kapas Krampung Kelabui Polisi

 
SURABAYA - Penangkapan dua pelaku perampokan yang menewaskan Go Hong Boen di Jalan Kapas Krampung, Kota Surabaya, 12 Mei lalu melalui proses berliku. Selain sempat salah menduga pelakunya, para pelaku sempat berbelit saat ditangkap. Mereka kompak menyiapkan jawaban saat polisi menangkapnya.
Dua pelaku yang dibekuk, Darhuji alias Cong Muji dan Syaiful alias Sipul sudah merancang skenario. Mereka sama-sama menyiapkan jawaban bahwa mereka tidak merampok di Kapas Krampung.
"Belum kami tanya, dua pelaku ini jawabannya sama. Mereka bilang, saya cuma main di Kusuma Bangsa, bukan di Kapas Krampung," cerita salah seorang sumber di internal Kepolisian.
Jawaban itu justru semakin meyakinkan polisi bahwa keduanya adalah dalang perampokan tersebut. Cong Muji dan Sipul kompak membuat alibi. Namun alibi tersebut justru melemahkan posisi mereka.
"Ya mereka ini sembunyi di dua tempat yang berbeda, beda kota juga. Tapi belum ditanya sudah punya jawaban, berarti sebelum ditangkap kan mereka uda janjian buat ngeles," tutur sumber tadi.
Di saat posisinya terjepit karena alibinya mentah, baik Cong Muji maupun Sipul, malah mencoba kabur. Saat terus-terusan mengelak, mereka sempat mengalihkan perhatian polisi. Mereka lari. Polisi memperingatkan namun tak digubris.
Terpaksa, polisi menembak betis keduanya agar menyerah. Kini Cong Muji dan Sipul mendekam di sel tahanan Mapolrestabes Surabaya. Mereka mengaku bahwa saat merampok di Kapas Krampung bersama dua orang lainnya yakni FZ dan WF.
Namun kawanan Cong Muji sebenarnya ada tiga. "Mereka ini jambret yang mobile. Ada TKPnya di Margorejo, Kusuma Bangsa, dan Kapas Krampung itu," katanya lagi.
Hingga Sabtu pagi (29/7), Polrestabes Surabaya belum merilis tertangkapnya dua perampok yang menggondol uang Rp 50 juta itu.
Kasatreskrim Polrestabes Surabaya AKBP Leonard M. Sinambela mengatakan bahwa pihaknya sedang meminta keterangan istri dan karyawan korban yang ada saat itu.
"Kami masih meminta validasi para saksi yang berada di TKP," jelas Leonard.
Perampokan yang menewaskan Go Hong Boen itu terjadi pada 12 Mei, dua pekan menjelang bulan puasa. Saat itu, pria yang disapa Awen itu berusaha menghalangi empat orang bandit yang merampas tas milik istrinya, Lely Suryani.
Di dalam tas tersebut, terdapat uang senilai Rp 50 juta, hasil penjualan toko klontong. Saat berusaha menangkap pelaku, Awen terkena sabetan pisau di bagian ketiak kanan. Awen lalu tersungkur dan ditolong istrinya.
Empat orang pelaku berhasil kabur. Nyawa Awen melayang dalam perjalanan ke rumah sakit setelah dirinya kehabisan banyak darah.(did/jpc/jon) 

Berita Terkait

Berita Lainnya :

loading...