Polisi Gadungan Curi Motor di 31 TKP

 
MALANG - Pelaku penipuan dan pencurian dengan modus pura-pura menjadi anggota polisi berhasil dibekuk Polsek Sukun. Pelakunya, Hasan Bisri, 40 tahun, warga Kabupaten Pamekasan yang berdomisili di Desa Andongrejo, Kecamatan Ambulu, Jember. Polisi gadungan ini menjadikan korban para pedagang kaki lima dengan modus pinjam motor.
Kapolsek Sukun, Kompol Anang Tri Hananta mengatakan Hasan diringkus di kamar kosnya di Jalan Ahmad Yani, Kecamatan Blimbing, Kota Malang. Ketika ditangkap, pelaku tidak berani melakukan perlawanan meski membawa pistol mainan.
“Kami berhasil menangkap pelaku dengan cara men-tracking nomor ponselnya. Kepada setiap korbannya, pelaku selalu meniggalkan nomor ponsel untuk meyakinkan korban kalau memang dia benar-benar anggota polisi,” terang Anang.
Dari tangan tersangka, polisi berhasil menyita 13 motor, satu id card palsu tanda anggota polisi dan pistol mainan yang digunakan untuk meyakinkan korban. 
“Id card tersebut dibuat sendiri oleh pelaku melalui sebuah percetakan di kawasan Blimbing, Kota Malang. Dia mengaku sebagai Bripka Hasan Bisri dari Direktorat Reskoba Polda Jatim,” jelas Anang.
Dalam melakukan aksinya, Hasan berpura-pura menjadi anggota polisi dan meyakinkan korbannya. Kemudian, dia meminjam motor korban, dan langsung dibawa kabur. Dari pengakuan tersangka, ia melakukan aksinya sejak tahun 2016 dan sudah ada 31 TKP. 
“Rata-rata satu bulan ada dua motor yang didapat. Kebanyakan pencuriannya dilakukan di wilayah Kota Malang. Dia naik bus dari Jember ke Malang. Setelah dapat motor, dibawa lagi ke Jember untuk dijual,” imbuh Anang.
Dalam hal ini, Hasan sendirian bertindak sebagai eksekutor. Sedangkan keempat temannya yang lainnya, bertindak sebagai marketing dan disuruh memasarkan motor tersebut dengan dalih berasal dari leasing. 
Dua dari teman Hasan, yakni Heru, 35 tahun, warga Desa Andongrejo, Kecamatan Ambulu, Jember dan Farid, 40 tahun, Desa Kraton, Jember sudah berhasil diringkus polisi. 
“Sedangkan dua lainnya, yakni Ponidi dan Nasir masih DPO. Mereka lari ke luar Jawa. Yang jadi sasaran penjualan adalah para petani yang tidak tahu apa-apa,” lanjut Anang.
Anang mengatakan, motor tersebut dijual rata-rata seharga Rp 2 juta, tergantung kondisi. 
“Kalau kondisi motornya baru dan ada STNK, dijual seharga Rp 5 juta. Kalau bodong sekitar Rp 2-2,5juta. Keuntungan satu bulan, menurut pengakuan tersangka sebesar Rp 5-6 juta dan digunakan untuk kebutuhan sehari-hari dan juga dibuat judi ayam,” imbuh Anang.
Dari 31 TKP tersebut, hanya 13 motor yang berhasil diamankan dari pria yang sudah tiga kali bercerai itu, sebagian masih dalam pencarian pihak kepolisian. 
“Dia pernah melakukan perampasan sekitar 50 meter dari polsek, yaitu pada penjual kopyah. Kemudian juga pada penjual mie di sebelah LP Wanita dan kepada tukang cukur juga. Ketika rekonstruksi, tersangka sempat berbelit-belit. Tapi sekarang sudah ngaku semua,” imbuh dia,
Di sekitaran wilayah Kota Malang, Hasan sudah melakukan aksinya sebanyak enam kali di wilayah hukum Sukun dan Blimbing, lima kali di Klojen dan empat kali di Kedungkandang. 
“Pengakuan tersangka, ada satu TKP juga yang dilakukan diluar Malang, nanti akan kami kembangkan lagi,” imbuh Anang.
Akibat perbuatannya tersebut, Hasan dikenai pasal 378 tentang penipuan dan 362 tentang pencurian motor. Sedangkan Heru dan Farid dikenakan pasal 480 terkait penadah barang curian.
Salah satu korba, Sujianto, 39 tahun, warga Jalan Satsuit Tubun, Kelurahan Kebonsari, Sukun. Korban merupakan pemilik warung di sebelah selatan LP Wanita. Ketika itu, ia didatangi seseorang yang mengaku polisi dan meminjam motor yang baru dibelinya.  Ternyata, motor tersebut dibawa kabur polisi gadungan ini. (mg16/jon)

Berita Terkait

Berita Lainnya :