magista scarpe da calcio Tiga Bulan Hanya Untung Rp 1 Juta


Tiga Bulan Hanya Untung Rp 1 Juta

 
MALANG – Hanya Rp 1 juta, keuntungan yang didapat Suwarni, 52, dalam waktu tiga bulan. Namun ibu tiga anak ini, harus menanggung risikonya dengan meringkuk dalam tahanan Polres Malang, sejak akhir pekan lalu. Ia diancam hukuman 6 tahun penjara, karena terlibat jaringan pemalsuan dokumen.
Warga Dusun Karangan, Desa Wonosari, Gempol – Pasuruan ini, ditangkap bersama dengan tiga jaringan pemalsuan lainnya. Yakni, Purwoto, 34, warga Jalan Tirto Praloyo, Landungsari, Malang. Achmad Misaji, 62, warga Jalan Dorowati Barat, Desa Mulyoarjo, Lawang. Dan, Moch Sueb, 67, warga Wonosari, Gempol – Pasuruan.
“Dari hasil penjualan itu, hanya sekitar Rp 1 juta saja yang saya dapat. Itupun habis untuk mencukupi kebutuhan keluarga,” ujar Suwarni.
Tersangka Suwarni ini, adalah orang kedua dalam kasus pemalsuan dokumen. Dia bertugas menjual dokumen kosongan, seperti kartu keluarga (KK), buku nikah, akta kelahiran serta KTP. Namun, dari mana asal usul dokumen palsu tersebut, Suwarni mengaku tidak tahu.
“Itu peninggalan suami, katanya dulu diberi oleh temannya. Saya menjual blangko kosongan itu, atas petunjuk suami yang kini di penjara. Jumlahnya tidak banyak hanya 18 lembar. Yakni 2 KTP, 5 buku nikah, 5 KK serta 6 akta kelahiran. Saya menjualnya antara Rp 50 ribu sampai Rp 100 ribu,” jelasnya.
Pengungkapan jaringan pemalsu dokumen oleh Polres Malang ini, berawal dari tertangkapnya Purwoto. Sopir truk ini, diamankan petugas Polsek Bululawang ketika hendak mengambil pasir di Wajak. Ketika diperiksa SIM B1, petugas menemukan kejanggalan. Dimana SIM milik Purwoto, yang seharusnya habis masa berlakunya sejak 2016, dirubah menjadi 2019. 
“Sebetulnya SIM saya asli, hanya tahunnya saja yang berubah,” aku tersangka Purwoto.
Purwoto pun mengakui dan mengatakan, kalau dirinya merubah tahun itu dengan meminta bantuan Achmad Misaji, dengan membayar sebesar Rp 200 ribu. Akhirnya petugas pun mengembangkan kasusnya dengan menangkap Misaji di rumahnya. Ternyata ketika dilakukan penggeledahan, juga ditemukan beberapa blangko yang diduga palsu.
Blangko atau dokumen kosong tersebut, diakui Misaji, dibeli dari Moch Sueb. Ia membeli dengan harga Rp 150 ribu. Pembelian blangko setelah ada orang yang memesan. Kebanyakan adalah warga Pasuruan dan Surabaya. 
“Biasanya yang pesan, adalah warga yang tidak mau ribet mengurus terlalu lama. Setiap blangko saya harga Rp 250 ribu. Kemudian untuk pencetakan dan pengisiannya, saya minta bantuan Khoiron (DPO),” jelas Misaji.
Dari penangkapan Misaji ini, akhirnya dikembangkan dengan menangkap Moch Sueb, yang diketahui sebagai seorang modin. Kemudian Sueb, yang ditangkap di Terminal Pandaan ini, mengaku membeli blangko kosongan dari Suwarni, hingga akhirnya polisi menangkap ibu tiga anak tersebut.
Kapolres Malang, AKBP Yade Setiawan Ujung, mengatakan bahwa sejauh ini baru satu warga Malang yang membeli dokumen palsu. Itupun masih dikembangkan, karena tidak menutup kemungkinan ada korban lainnya, lantaran sudah beraksi sejak tiga bulan lalu.
“Kami masih dalami dan kembangkan lagi kasusnya. Termasuk memburu satu pelaku lagi yakni berinisial K (Khoiron), yang masih buron,” tegas Ujung.
Terkait dengan dokumen kosong tersebut, Ujung mengatakan bahwa semua material yang digunakan adalah asli. Hanya saja isinya dihapus dengan menggunakan alat tertentu.
“Mereka  kami jerat dengan pasal 263 ayat 1 dan 2 KUHP dengan ancaman hukuman 6 tahun kurungan penjara,” paparnya.(agp/jon)

Berita Terkait

Berita Lainnya :

Copyright © 2018 Malang Pos Cemerlang