Santri Warga Binaan Pemasyarakatan Diwisuda


MALANG - Suasana Lapas Klas I Lowokwaru Malang berubah lebih relijius pada Selasa (20/2). Sebanyak 33 santri yang berasal dari Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) menjalankan wisuda guru Al-Quran setelah berhasil lolos dalam pembelajaran selama tiga bulan.
Bekerjasama dengan MUI Kota Malang, Lembaga Amil Zakat, Yayasan Amal Aosial Ash Shohwaha (YASA Malang) dan UMMI Foundation, Lapas Klas I Malang mendidik sebanyak 251 WBP yang sudah terseleksi untuk menjadi santri di Pondok Pesantren (Ponpes) At Taubah yang ada di dalam Lapas.
Ketua Panitia Wisuda Guru Al Quran, Syukron Jamban mengatakan, saat ini, jumlah total WBP yang ada di lapas tersebut berjumlah sekitar 2.509 orang. Sebanyak 1.218 orang adalah WBP dengan kasus narkoba.
Sebelum menjaring santri, pihaknya melakukan beberapa seleksi dan assesment bagi para santri tersebut sehingga, berhasil terpilih sebanyak 251 orang santri. “Harapan kami ke depan bisa mencapai hingga 400 orangatau lebih. Kami berharap, bisa lebih baik lagi ke depannya,” terang dia kepada Malang Post.
Syukron menyebut, dari sekitar 251 santriyang ada, kembali diseleksi. Dengan kemampuan baca tulis Al Quran kembali disaring menjadi 57 orang, diseleksi lagi menjadi 40 orang dan terakhir terpilihlah sebanyak 33 orang santri yang berhasil diwisuda. Nantinya, santri tersebut mendapat sertifikat dan diakui secara nasional.
“Izin pendirian Ponpes kami juga sudah diakui oleh Kemenag Kota Malang,” kata dia.
Sementara itu, Kepala Lapas Klas I Lowokwaru Malang, Krismono mengatakan, para WBP yang menjadi santri berasal dari macam-macam kasus. Mulai dari narkoba, pembunuhan dan lain-lain. Hal tersebut merupakan salah satu bukti kerja keras Ponpes menjalankan kurikulum yang ada. “Ini juga sebagai tindak lanjut dari Ponpes yang kami dirikan tahun lalu. Target kami, setidaknya separuh dari jumlah WBP yang ada mampu menjadi santri disini,” jelas dia.
Pada kesempatan tersebut, Krismono menuturkan, nantinya, para santri yang sudah berhasil lulus mampu menjadi guru mengaji Al-Quran bagi para WBP lain. Bahkan, juga bisa dijadikan guru  ngaji untuk masyarakat luas ketika sudah bebas nanti. “Ketika masuk lapas, mereka sudah mempunyai bekal dan dasar keagamaan, bukan dari nol. Sehingga, kami membantu untuk memperdalam kembali. Selama tiga bulan, mereka mempelajari Al Quran dengan sungguh-sungguh,” beber dia.
Pihaknya mengaku, selama tiga bulan ke dapan, kemungkinan akan ada wisuda lagi. Pihaknya menargetkan lebih dari 33 orang yang diwisuda. Untuk memilih santri, pihaknya mengaku menyeleksi secara ketat dan serius. “Saya tidak mamu WBP yang menjadi santri dalam keadaan terpaksa. Saya ingin itu dari kesadaran mereka sendiri. Kami juga melibatkan psikolog untuk melakukan assesment kepada para santri tersebut,” kata dia.
Pihaknya berharap, apa yang dilakukan para santri tersebut bisa bermanfaat bagi masyarakat luas. Sehingga bisa kembali ke masyarakat menjadi manusia yang taat hukum dan tidak melakukan pelanggaran lagi. “Kami berharap mereka bisa kembali ke keluarga dan masyarakat menjadi manusia baru dan tidak mengulangi kesalahan yang pernah dilakukan,” beber dia.
Selain itu, pihaknya juga melakukan pendalaman keagamaan bagi agama lain. Untuk agama Nasrani, Krismono mengaku memberikan fasilitas untuk sekolah Al Kitab. “Pada lapas ini, juga ada gereja dan pura. Kami memfasilitasi agama yang ada. Untuk menyadarkan seseorang dari kehilafan, satu-satunya jalan adalah mengingatkan dia kepada Tuhan. Dengan mempertebal iman, mereka akan sadar kalau sudah melakukan pelanggaran. Sehingga tidak akan mengulang lagi di kemudian hari,” pungkas dia.(tea/jon)

Berita Terkait

Berita Lainnya :