Orangtua Bantah Siksa Rosita

MALANG – Kabar kematian Rosita karena bunuh diri, tidak dibenarkan pihak keluarga. Sulyono dan Wijiyati, orangtuanya membantah dugaan itu. Ditemui di rumahnya Sabtu kemarin, mereka mengatakan anak sulung dari dua bersaudara tersebut meninggal dunia karena sakit.
Termasuk dugaan kekerasan fisik terhadap alumnus MTSN 1 Tumpang itu, secara tegas mereka juga membantahnya. “Setega-teganya orangtua, tidak mungkin tega sama anak,” kata Sulyono dengan tegas kepada Malang Post.
“Anak saya juga tidak mungkin bunuh diri. Sudah sembuh (dari sakitnya, red) kok bunuh diri,” sambung Wijiyati. Mereka menyadari, memang muncul suara di masyarakat kalau Rosita meninggal bunuh diri, karena mengalami siksaan. Tetapi ia membantah semua dugaan tersebut.
“Orangtua marah kepada anak itu lumrah, tetapi tidak mungkin setiap hari. Saya marah, kalau menyuruhnya makan saja,” ujar Wijiyati, sembari mengusap air mata di kedua matanya.
Sejak kecil, menurut mereka, Rosita sangat manja. Setiap hari, Wijiyati mengaku selalu memandikannya dengan air hangat bercampur daun sirih, karena kulit Rosita mengalami gatal-gatal. Bahkan, apa yang menjadi permintaan Rosita selalu diturutinya. “Saya merawat dia itu seperti bayi kembali. Minta apapun selalu saya belikan. Rumah untuk masa depannya sudah saya belikan. Hanya minta mobil Ayla warna putih saja, yang belum,” kenangnya sembari terus meneteskan air mata.
Baik Wijiyati dan Sulyono, meyakinkan bahwa Rosita meninggal karena sakit. Ramadan lalu, Rosita sempat menjalani rawat inap di Puskesmas Tajinan, selama empat hari. Karena tidak ada perubahan, akhirnya  pulang paksa lalu dirujuk ke RS Sumber Santosa Tumpang.
Bahkan saat lebaran, Rosita juga dalam kondisi sakit dan dalam perawatan di rumah sakit. “Sakitnya lambung, karena ia tidak mau makan,” ucapnya. Namun beberapa hari sebelum ditemukan meninggal, kondisi Rosita sudah mulai membaik.
Kamis siang, Rosita sempat minta makan cilok serta bakso. Kemudian malam harinya, minta makan ikan lalapan. Wijiyati kemudian membuatkan lalapan ikan gurami serta lele goreng, yang menjadi makanan favorit Rosita. Masakan itupun disantap bareng bersama satu keluarga.
Tetapi tak lama usai makan, Rosita mengeluh kepalanya sakit. Ia kemudian beranjak ke tempat tidur. “Saya sempat memijat kepalanya. Dan rencananya, paginya akan saya bawa periksa ke dokter,” urainya. Namun Jumat (28/7) pagi pukul 05.00, Rosita sudah ditemukan tanpa nyawa.
Disinggung soal mulutnya yang berbusa, Wijiyati dan Sulyono menegaskan, kemungkinan karena pengaruh obat dari rumah sakit yang diminum. Hanya berapa jumlah obat yang diminum Rosita ketika kepalanya sakit, mereka mengaku tidak tahu. 
Begitu juga dengan luka lecet yang ada di wajah Rosita. Wijiyati mengatakan, luka itu bukan karena jatuh dari sepeda motor. Tetapi lantaran sakit gatal-gatal yang dialami Rosita, kemudian digaruk hingga mengakibatkan luka. “Adiknya (Keisyah Rafa Wijaya, red) serta ayahnya juga alergi gatal-gatal. Bukan karena jatuh atau lainnya, tetapi karena digaruk saat terasa gatal,” beber ibu dua anak ini.
Sementara, hasil penyelidikan kepolisian juga memastikan, Rosita meninggal dunia karena sakit. “Kami pastikan bahwa meninggalnya karena sakit, tidak ada unsur lain. Hasil visum luar di kamar mayat RSSA Malang, juga menyatakan tidak ada bekas tanda kekerasan di tubuh korban,” terang Kasatreskrim Polres Malang, AKP Azi Pratas Guspitu.
Azi mengatakan, suara di masyarakat memang sempat mengatakan ada dugaan bunuh diri. Tetapi setelah dilakukan penyelidikan serta olah TKP, tidak ditemukan adanya dugaan itu. “Apalagi keluarga juga menolak dilakukan otopsi, sehingga kami tidak bisa melakukan proses lebih lanjut,” tegasnya.
Soal busa di mulut korban, dipastikan oleh Azi, bahwa kemungkinan busa itu akibat obat antibiotik yang diminum Rosita tidak bisa diterima oleh lambungnya. Rosita kemungkinan minum obat dosis tinggi itu melebihi aturan, sehingga saat meninggal mulutnya berbusa.
Di sisi lain, Malang Post sempat mendatangi MTSN 1 Tumpang, untuk menemui Widyawati, wali kelas Rosita. Terkait kabar bahwa Rosita sebelumnya sempat kabur ke rumah wali kelasnya setelah dimarahi oleh orangtuanya. Sayangnya, Widyawati tidak mau menemui. Bahkan, sebelumnya petugas security sempat mengatakan Widyawati sedang keluar.
“Maaf, nanti sama humas saja, silahkan ditunggu di ruang lobi,” kata Widyawati. Saat ditunggu ternyata yang menemui Zainudin, Humas MTSN 1 Tumpang. “Untuk masalah Rosita, kami tidak bisa memberikan keterangan apapun. Takut salah, karena satu pintu langsung ke Pak Pono (Kepala Sekolah, red),” tutur Zainudin.
Namun dari keterangan salah satu guru yang tidak mau disebutkan namanya, diketahui Rosita memang bermasalah dengan keluarganya. Saat kelas satu, Rosita sempat tidak mau sekolah, karena merasa tertekan oleh orangtuanya.
Di kelas dua, Rosita dua kali berangkat sekolah tidak memakai seragam. Pertama, karena beralasan seragamnya dibakar oleh orangtuanya, sedangkan kejadian kedua lantaran seragam Rosita dimasukkan ke dalam kotoran. “Kalau kelas tiga dulu awal-awal kenaikan kelas, sebelum kasus (tabungan Rp 42,7 juta red) Rosita mencuat. Dia sempat curhat kepada teman-temannya kalau tidak dikasih makan sama ibunya. Cerita itu diketahui oleh wali kelasnya, yang langsung mengajak dia pulang ke rumah wali kelasnya, kemudian diantarkan pulang ke rumahnya,” jelas salah satu guru tersebut.
Sementara itu, Kepala Dinas Sosial Kabupaten Malang, Dra. Sri Wahjuni Pudji Lestari, M.Si, dikonfirmasi membenarkan bahwa Dinsos Kabupaten Malang berniat mengambil Rosita. Namun rencana itu belum tersampai, Rosita telah meninggal dunia lebih dulu.
“Seminggu yang lalu maunya diambil Dinsos untuk pendampingan, yang akan ditangani oleh Satuan Bakti Pekerja Sosial Perlindungan Anak. Tetapi belum sempat menjemput, ternyata kami sudah mendapat kabar Rosita telah meninggal dunia,” jelas Yayuk, sapaan akrabnya yang mengaku berada di Pacitan.
Niatan Dinsos menjemput Rosita, setelah polemik tabungan di sekolah senilai Rp 42,7 juta menjadi viral. Dinsos akan melakukan pendampingan, untuk mencarikan sekolah bagi Rosita. Karena usai lulus dari MTSN 1 Tumpang, Rosita sama sekali belum mendaftar sekolah. Rosita berkeinginan untuk melanjutkan SMA di wilayah Sawojajar Kota Malang.
Sekadar diketahui, Jumat (28/7) pagi lalu warga Dusun Glendangan, Desa Ngingit, Tumpang digegerkan dengan kematian Rosita. Alumnus MTSN 1 Tumpang yang sempat viral karena polemik tabungan di sekolah senilai Rp 42,7 juta itu, ditemukan tanpa nyawa di dalam kamatnya.  Beberapa warga menduga Rosita nekat mengakhiri hidupnya dengan menenggak obat-obatan.(agp/han)
 

Berita Terkait

Berita Lainnya :

loading...