Ponpes Al-Falah Ploso Juga Diteror


MALANG POST - Aksi teror kepada pemuka agama dan tempat ibadah kembali terjadi di Jawa Timur, Sanin (19/2) malam. Kali ini, menimpa dua pengasuh Pondok Pesantren Al-Falah, Ploso, Kediri, KH Zainuddin Jazuli dan KH Nurul Huda Jazuli. Mereka disatroni oleh orang tak dikenal dengan membawa pisau sambil berteriak tidak sopan.
Dikonfirmasi dari Muhammad Abid Umar Faruq selaku cucu dari KH Zainuddin Jazuli dan kebetulan berada di lokasi. Menurutnya, orang tak dikenal tersebut datang dengan pakaian kurang sopan dengan tujuan sowan kepada sejumlah pengasuh. Dengan berbagai pertimbangan termasuk keamanan para kiai, orang tersebut disarankan datang di lain waktu.
"Setelah diberitahu, orang itu jalan sambil meninggalkan area pondok sambil dibuntuti oleh keamanan. Salah satu teman keamanan itu melihat ada pisau," kata Gus Abid, Senin, (19/2) malam.
Berkat kesigapan petugas keamanan pondok, orang yang diyakini berpura-pura gila itu berhasil diamankan sebelum terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. petugas keamanan pondok pun langsung melakukan koordinasi dengan aparat kepolisian.
"Sekarang sudah diamankan oleh Polres Kediri untuk diinterogasi. Tapi informasi yang saya dapat pisau itu sudah tidak ada," beber pria yang juga menjabat Sekretaris PW GP Ansor Jatim itu.
Gus Abid mengaku, hingga saat ini masih menunggu hasil pemeriksaan oleh aparat kepolisian. Ia pun enggan berspekulasi motif yang dilakukan oleh orang tak dikenal tersebut.
Sekedar diketahui, peristiwa teror terkait keagamaan kerap terjadi akhir-akhir ini, khususnya kasus penganiayaan terhadap ulama, penyerangan tempat ibadah di beberapa daerah oleh orang tak dikenal. Sebelumnya, teror serupa juga terjadi terjadi di Tuban, Lamongan.

Menkopolhukam: Kebetulan Atau By Design
Serangan terhadap pemuka agama, khususnya ulama terus berlangsung hingga beberapa hari belakangan. Pemerintah memastikan akan mengusut dan mengungkap dalang di balik rangkaian peristiwa tersebut.
Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan (Polhukam) Jenderal (Purn) Wiranto mengatakan, peristiwa tersebut sangat janggal. Pasalnya, berdasarkan catatannya, ada 21 kali penyerangan ke pemuka agama dan tempat ibadah. Namun anehnya, 15 di antaranya diduga dilakukan oleh orang yang tidak waras.
 “Ini kebetulan atau by design, kebetulan atau dibuat kelompok tertentu,” ujarnya di Komplek Istana Negara, Jakarta, kemarin (20/2).
Oleh karenanya, dia meminta aparat kepolisian untuk mengungkap kasus tersebut secara tuntas. Namun dengan memperhatikan kehati-hatian. Khususnya dalam menyampaikan hasil penyelidikan. Sebab jika keliru, dia khawatir kondisinya akan semakin panas.
 “Supaya tidak mengeruhkan suasana, tetapi tentu lewat penyelidikan dan penyidikan yang  akurat,” imbuhnya. Tapi, siapa pun kelompoknya, penyerangan terhadap tokoh agama dan rumah ibadah merupakan tindakan melanggar hukum.
Dia menduga, rangkaian peristiwa itu terkait dengan masuknya tahun politik. Oleh karenanya, dia menghimbau kelompok manapun untuk tidak mengorbankan keutuhan hanya demi kekuasaan. Menurutnya, pemilu bukan hanya milik KPU, tapi juga menyangkut citra bangsa.
 “Kita peringatkan jangan sampai ada pihak tertentu yang mencoba untuk mencederai pemilu ini,” tuturnya.
Seperti diketahui, kasus penyerangan ulama kembali terulang. Terbaru, penyerangan terjadi Pondok Pesantren Al Falah Ploso, Kediri, Jawa Timur, Senin malam (19/2).
Sementara itu, Kepala Staf Kepresidenan Jenderal (Purn) Moeldoko mengatakan, sikap presiden terkait kasus tersebut sudah tegas. Yakni dengan mengusut kasus tersebut. “Polisi untuk menindak dengan tegas, dengan keras, nggak boleh ragu-ragu. Entah itu tindakan kekerasan, apalagi intoleransi, harus keras,” ujarnya.
Moeldoko menambahkan, selain itu, pihaknya juga sudah diminta untuk mencari akar persoalannya. Diakuinya, kemungkinan ada yang bermain di balik maraknya penyerangan ulama. “Ini kan permainan lama, jangan-jangan ada yang main-main,” kata mantan panglima TNI itu.
Dia berharap, pihak kepolisian bisa mengungkap kasus tersebut segera. Pasalnya, jika hal itu terus terjadi hingga pemilu 2019 menadatang, dikhawatirkan suasana akan semakin memanas.(jpg/far/ary)

Berita Lainnya :

loading...