Polda Instruksikan Pengamanan Tempat Ibadah


MALANG - Kapolri Jenderal Tito Karnavian baru saja memerintahkan seluruh Polda dan Polres di Indonesia untuk mengintensifkan pengamanan tempat ibadah. Demi menghindari terulangnya perusakan tempat ibadah Hindu di Lumajang. Kabid Humas Polda Jatim, Kombespol Frans Barung Mangera menyebut pengamanan tempat ibadah beserta para pemuka agama, menjadi atensi Kapolda Jatim.
Menurut perwira dengan tiga melati emas di pundaknya itu, kejadian pengerusakan tempat ibadah di Lumajang, tak boleh terulang lagi di daerah lain di Jawa Timur. “Pengamanan diserahkan kepada Polsek dan Polres. Jika ada kekurangan dan butuh back up, maka Polda akan membantu,” jelas Frans dikonfirmasi Malang Post.
Menindaklanjuti instruksi Polda Jatim, Kapolres Malang AKBP Yade Setiawan Ujung sudah menggerakkan anggotanya untuk meningkatkan patroli di kawasan tempat ibadah. Dia pun menjamin keamanan para pemuka agama dan ditekankan kepada Polsek serta Bhabinkamtibmas kelurahan.
"Saya sudah perintahkan semua kasat, Kapolsek dan Bhabinkamtibmas merapat ke para pemuka agama untuk berikan jaminan keamanan. Patroli dan sambang kita tingkatkan ke tokoh-tokoh agama termasuk tempat-tempat ibadah sebagaimana rutin kita laksanakan juga sebelumnya," kata Ujung diwawancara Malang Post.
Dia juga menegaskan tidak ada ulama di Kabupaten Malang yang diserang oleh orang gila. Menurut Kapolres,  sampai saat ini para pejabat utama dan perwira serta anggota di jajaran Polres Malang terus mengintensifkan komunikasi dengan para pemimpin agama, ulama, tokoh gereja dan pengurus agama lainnya untuk menjaga keharmonisan.
"Saya katakan bahwa tidak ada penyerangan kepada pemuka agama khususnya di Kabupaten Malang. Polres Malang memiliki hubungan harmonis dan kondusif dengan para kiai, tokoh agama dan pemuka-pemuka semua agama. Selain itu, pemuka agama di Kabupaten Malang semua sudah cerdas dan paham IT sehingga tidak mudah panik serta termakan isu-isu provokatif," ungkap Ujung.
Polres Malang juga memberi respon cepat terhadap isu-isu berbau SARA yang beredar di media sosial seperti Twitter, Instagram dan Facebook. Pekan ini, Ujung menginisiasi rapat dengan seluruh pemuka agama dan tokoh untuk meredam serta mentralisir isu SARA di dunia maya yang dianggapnya meresahkan umat beragama.
Dia menyebut kerukunan dalam beragama di Kabupaten Malang tidak boleh terkikis dengan isu SARA yang berpotensi konflik ini. "Pekan ini kami mengadakan pertemuan dengan seluruh dai Kamtibmas, tokoh-tokoh agama, FKUB (Forum Komunikasi Umat Beragama) dan stakeholder lain untuk antisipasi menyikapi banyaknya info-info hoax di medsos yang meresahkan," tambah Ujung.
Terkait inventarisasi warga Kabupaten Malang yang mengalami gangguan jiwa, Polres Malang masib terus melakukan update. Polres Malang menggandeng Dinas Sosial Kabupaten Malang demi melancarkan proses inventarisir warga dengan gangguan jiwa di seluruh wilayah Kabupaten Malang.
"Update masih terus dilakukan. Kepada pihak keluarga kami minta mengawasi anggota keluarganya yang mengalami gangguan jiwa, agar tidak dimanfaatkan oknum yang ingin menyebar ketakutan di Kabupaten Malang," tutup Ujung.
Sementara Kemenag Kota Malang melakukan antisipasi terhadap isu orang gila yang menyerang para ulama di penjuru Indonesia. Kemenag yang berkantor di Jalan Panji Suroso itu mengumpulkan seluruh takmir masjid Kota Malang di masjid Sabililah Blimbing. Kemenag mengimbau takmir masjid membentengi diri dan tidak terprovokasi dengan isu-isu tak sedap berbau SARA ini.
"Kami mengumpulkan seluruh takmir masjid Kota Malang di Sabilillah dan kami ajak rapat serta dialog. Karena, isu ini sangat panas dan provokatif. Jika takmir masjid tidak bisa menahan diri, maka umat pun bisa panas. Hal yang panas harus diredam dengan yang dingin-dingin," tutur Kasi Binmas Islam Kemenag Kota Malang Amsiyono SH S.Ag MSy kepada wartawan ditemui di lantai 7 FISIP UB.
Kemenag mengakui rentetan kejadian yang menimpa pemuka agama, baik pastur dan ulama, serta terbaru pura di Lumajang yang dikapak oknum, berpotensi menimbulkan isu yang tidak elok dalam bingkai NKRI. Amsiyono sendiri secara pribadi mengaku panas dengan adanya ulama yang diserang di berbagai daerah.
Namun, karena situasi inilah, Amsiyono menyebut umat tidak boleh bereaksi secara berlebihan. Jika salah diartikan, maka isu ini bisa memicu adu domba sesama masyarakat dan menjebak umat dalam provokasi isu SARA.
"Kita pun tak boleh terjebak dengan provokasi itu. Takmir masjid kami imbau agar tidak menyodori umat dengan kotbah yang malah memperkeruh suasana. Harus dijaga Kota Malang agar tetap kondusif dan aman," sambung Amsiyono. Terkait langkah antisipasi lain, Kemenag Kota Malang mewanti-wanti ponpes agar hati-hati dalam memaknai isu ini.
Menurut Amsiyono Kemenag Kota Malang baru mendata sekitar 38 ponpes aktif di Kota Malang. Hanya saja, Amsiyono menyebut masih ada ponpes-ponpes yang belum terdaftar. Menurutnya, pimpinan pondok dan santri wajib mendinginkan suasana, serta tidak gampang terpancing emosi dengan kejadian-kejadian ini.
"Ada sekitar 38 ponpes yang terdaftar di Kota Malang. Tapi, ada pula yang belum terdaftar. Kami tetap berupaya membangun komunikasi yang solid dengan aparat hukum serta para pemimpin pondok agar jangan sampai Malang terkena. Kita ingin Malang Kota kondusif dan selalu aman seperti yang selama ini bisa kita jaga," sambung Amsiyono.

Berita Lainnya :