MUI Imbau Masyarakat Tingkatkan Kewaspadaan

 
MALANG - Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Malang mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan meningkatkan kewaspadaan di lingkungannya masing-masing. Ketua MUI Kabupaten Malang, KH Misno Fadhol Hija mengatakan, maraknya aksi terror serta penyerangan terhadap ulama ini dilakukan oknum yang tidak bertanggungjawab. Ini bertujuan untuk menciptakan suasana tidak kondusi. Sehingga, terjadi suasana kegaduhan yang memang bertujuan untuk meresahkan masyarakat.
“Saat ini sedang berlangsung proses Pilkada serentak di berbagai daerah. Momen inilah dimanfaatkan oleh oknum tidak bertanggungjawab melakukan terror,” ujarnya kepada Malang Post. 
Maka dari itu, dia mengimbau kepada masyarakat untuk melakukan antisipasi sejak dini dengan memperkuat Ukhuwah Islamiyah. Selain itu, kata dia, juga sekaligus berupaya menjaga kerukunan antar umat beragama. Lantaran diakuinya saat ini marak isu SARA yang membenturkan antar umat beragama. 
Sementara itu, maraknya aksi terror serta kekerasan terhadap ulama juga disikapi serius oleh DPD KNPI Kabupaten Malang. Ormas kepemudaan ini siap membantu aparat penegak hukum dalam menjaga kondusifitas di lingkungan masyarakat. 
“Aksi kekerasan serta terror apapun bentuknya, tidak dibenarkan. Sehingga, kami DPD KNPI juga memiliki tangugngjawab membantu pengamanan serta menjaga situasi kondusif di Kabupaten Malang ,” ujar Sekretaris DPD KNPI Kabupaten Malang, Achmad Faiz Wildan. 
Terpisah, di Kota Batu, kewaspadaan selalu dilakukan oleh para Kiai setiap saat. Bukan dikarenakan adanya teror atau ancaman lain, seperti yang terjadi saat ini. Gus Habib Maulana El Asyik, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Hidayah Kota Batu mengatakan bahwa kewaspadaan itu terus menempel dalam setiap individu. Namun menurut kiai muda ini ada hal yang lebih penting daripada kewaspadaan. 
“Yang terpenting adalah kita tidak perlu terpancing, isu yang beredar. Keamanan (polisi) sudah menjamin, pemerintah juga sudah menjamin aman tidak ada apa-apa, kita tidak perlu berspekulasi macam-macam,” papar Habib kepada Malang Post, kemarin (22/2). 
Menurutnya, Rabu (21/2) para pengasuh Pondok Pesantren muda bertemu di Rembang. Para anak Kiai yang akrab dipanggil Gus ini bertemu membahas isu tentang penyerangan Kiai tersebut. Dalam pertemuan tersebut terungkap tidak ada keresahan di kalangan Kiai, mereka tetap tenang tapi waspada. 
Mereka menegaskan bahwa Pondok Pesantren tidak terpengaruh dengan isu-isu yang beredar. Selama ini Pondok Pesantren sudah terbiasa dengan sistem pengamanan pondok, dimana selalu ada jadwal piket jaga malam. Selain itu, Pondok Pesantren juga berkoordinasi dengan RT dan RW.
“Kita juga terus berkomunikasi dengan Kasatkorcab Banser, karena Banser juga sudah melakukan beberapa kali rapat untuk melakukan pengamanan terhadap Pondok-Pondok Pesantren terutama pengasuhnya,” tukas Habib. 
Ditempat terpisah, KH Ali Rokim Zamzami, Wakil Ketua Bidang Hukum, MUI Kota Batu menegaskan bahwa kondisi Kota Batu aman. “Untuk Batu tidak ada peristiwa seperti yang terjadi di daerah lain dan selamanya, karena warga Kota Batu bersatu saling menjaga dan memiliki,” papar Ali.
Meski demikian, para Kiai tetap waspada untuk tidak mencurigai tapi lebih mengenal lingkungan sekitar. Kemarin (22/2) menurut Ali para Kiai di Jawa Timur bertemu untuk berdialog di Hotel Ijen Nirwana untuk membahas berbagai permasalahan yang terjadi di Jawa Timur.
“Serangan Kiai yang terjadi di berbagai daerah tidak membuat resah para Kiai, karena Kiai sudah terbiasa dengan itu,tapi beberapa masyarakat yang resah, karena kecintaannya dengan para Kiai. Menyikapi fenomena yang terjadi, KH Ali Rokim Zamzami mengatakan bahwa ada beberapa program yang dilakukan MUI.
Salah satunya adalah mempererat persatuan, kedua menghimbau masyarakat agar tidak resah dan tetap mendekatkan diri dengan umat. 
Sementara itu, AKP Supriyadi, Kasubag Humas Polres Batu mengatakan Polres Batu terus meningkatkan sambang tokoh agama. “Tidak hanya kepada para Kiai, tapi juga kepada pendeta, kondisi di Kota Batu sangat aman, petugas yang sambang ke rumah tokoh agama ini minta agar tidak terprovokasi dengan kondisi yang ada,” ujar Supri.
Tidak hanya itu, polisi pun menyerahkan telepon penting kepada para tokoh agama. Mulai dari telepon Mapolres Batu, telepon Polsek terdekat, hingga telepon Bhabinkamtibmas yang standby pada setiap desa yang ada di Kota Batu.(fin/big/dan/ary)

Berita Terkait

Berita Lainnya :