Dokter: Ada Kemungkinan Tubuhnya Dipindahkan


MALANG - KEMATIAN purnawirawan Kolonel Polisi Agus Samad benar-benar misterius dan sulit ditebak bagaimana proses meninggalnya. Sebab, tubuhnya ditemukan di halaman belakang rumahnya, perumahan Bukit Dieng MB9, dengan kondisi kedua kaki terikat tali rafia yang memanjang hingga ke lantai tiga.
Kedua pergelangan tangannya juga terlihat sayatan yang sudah mengering. Sementara di ruang makan, atau berjarak sekitar 20 meter dari tubuhnya, ditemukan genangan darah cukup banyak. Kondisi kedua pergelangan tangan korban yang robek saat ditemukan, memberi petunjuk dari sisi medis. 
Praktisi medis, dr Nanang Tri Wahyudi SpKO, menyebut, tangan manusia dengan kedua pembuluh arteri yang robek, hanya butuh waktu dua hingga tiga menit untuk kehilangan kesadaran dan mengalami koma.
“Arteri adalah pembuluh darah yang langsung dipompa oleh jantung,” ungkapnya kepada Malang Post.
“Kalau di pergelangan tangan sampai robek kena arteri, sudah pasti ada penurunan kesadaran, karena oksigen tidak masuk ke otak. Jika diteruskan, maka korban akan koma dan meninggal,” papar dia.
Dengan waktu yang sangat singkat ini, sulit bagi korban bergerak sendiri. Apalagi dari ruang makan, menuju halaman belakang tanpa menyisakan jejak atau percikan darah.
Tidak mungkin juga, korban memasang sendiri tali ke masing-masing kakinya, tanpa menyisakan percikan-percikan darah di area kaki korban. Mustahil untuk melakukan hal itu sendiri, sebelum kehilangan kesadaran akibat kehabisan darah. 
Sementara, saat penemuan korban di halaman belakang, ceceran darah lain tidak ditemukan di antara tubuh korban dan genangan darah di bawah meja makan. Alumnus Universitas Gajahmada ini menerangkan, ada kemungkinan tubuh korban dipindahkan dari ruang meja makan ke ruang belakang. 
“Ada kemungkinan seperti itu. Saya rasa, dokter forensik sudah mengecek, berapa liter darah yang keluar dari tubuh korban. Apalagi kedua lengan tersayat, pasti sangat cepat penurunan kesadarannya. Tidak sampai lima menit pingsan, dan sampai 10 menit koma lalu meninggal,” tandas dokter yang berpraktek di Persada Hospital ini.
Selain itu, terkait kemungkinan korban melompat dari lantai tiga, dr Nanang menyebut posisi tubuh korban tidak alami ketika ditemukan dengan kedua kaki terikat. Jika korban masih hidup lalu lompat dari lantai tiga, maka akan ada pendarahan hebat di sekitar tubuh.
Namun, berdasarkan keterangan kepolisian, luka korban adalah kedua pergelangan tangan, serta lecet di paha kanan. Polisi juga tak menemukan luka kepala.
“Kalau bunuh diri, darah akan muncrat ke mana-mana, apalagi bila dari lantai tiga. Posisi tubuh korban tidak alami, seperti ada yang mengatur. Kehilangan darah dari tubuh ini bukan soal kuat tidaknya orang, tapi sebanyak apa oksigen yang tak tersuplai ke otak,” tutupnya. (fin/mar)

Berita Lainnya :