Pasutri Dimakamkan Berdampingan

 
MALANG – Minggu (25/2) lalu, terakhir kalinya Suprianto, bertemu dengan kedua orangtuanya. Kasianto dan Suliyah, orangtuanya telah pergi untuk selamanya. Pasangan suami istri (Pasutri) yang terlahir sama pada 1 Agustus 1965 ini, menjadi korban kecelakaan maut di Jalan Raya Sudimoro, Kecamatan Bululawang. Mereka meregang nyawa di lokasi kejadian, akibat luka serius di kepala.
Jenazah pasutri tersebut, Senin (26/2) dini hari dibawa pulang ke rumah duka, setelah dimintakan visum di kamar mayat RSSA Malang. Jenazah dijemput oleh Kepala Dusun Bangsri, Sukirno, Ketua RW06 Paidi, Ketua RT03 Edi Siswanto serta Sariman, adik kandung Suliyah.
Baru kemudian, pagi harinya jenazah pasutri ini dimakamkan berdampingan di tempat pemakaman umum Dusun Bangsri, Desa Pamotan, Dampit. 
“Tidak jadi satu liang lahat, tetapi nanti kami makamkan berdampingan,” ungkap Paidi, yang dibenarkan oleh Sukirno, kepada Malang Post ketika ditemui di kamar mayat RSSA Malang.
Menurutnya, keluarga dan perangkat desa mengetahui kalau Kasianto dan istrinya menjadi korban kecelakaan maut, dari Didik salah satu warga sekitar. Sesaat setelah kejadian kecelakaan, Didik melintas di lokasi. Ia mengetahui bahwa pasutri yang menjadi korban adalah tetangganya.
Atas petunjuk polisi yang melakukan olah TKP, Didik diminta segera pulang dan menyampaikan kabar duka kepada keluarganya. 
“Kebetulan Didik saat itu melintas di lokasi kejadian. Katanya kami disuruh langsung datang ke kamar mayat RSSA Malang,” jelasnya.
Dari keterangan Sariman dan Paidi, kalau Kasianto dan Suliyah, malam itu dalam perjalanan pulang. Mereka baru saja dari rumah Suprianto, anak sulungnya di Desa Girimoyo, Kecamatan Karangploso. 
Sejak Sabtu (247/2) sore lalu, Kasianto dan Suliyah, membantu untuk selamatan seribu hari, meninggalnya mertua anaknya.
“Berangkatnya waktu itu, pamitnya kepada saya. Kebetulan rumahnya dekat dengan rumah saya. Mereka juga mengatakan akan pulang Minggu malam. Tidak tahunya, pulang dengan kondisi sudah menjadi mayat,” jelas Sariman.
Dikatakannya, bahwa Kasianto dan Suliyah, memiliki dua anak. Anak keduanya, meninggal sekitar setahun lalu, setelah tenggelam di Pantai Sendangbiru ketika sedang mencari ikan. Sedangkan anak pertamanya adalah Suprianto, yang tinggal di Karangploso. “Kesehariannya mereka di rumah hanya berdua saja,” katanya.(agp/jon/mar)

Berita Lainnya :