Dugaan Pelaku Makin Menguat, Jadwalkan Wawancarai Istri Mantan Wakapolda


MALANG – Tabir misteri kematian Kolonel Polisi purnawirawan (sekarang Kombes Pol) Agus Samad, mulai terkuak. Indikasi soal adanya pelaku pun sedikit demi sedikit menguat. Namun, Polres Makota yang di-back up oleh Polda Jatim, masih enggan membeberkan titik terang kasus ini.
Dir Reskrimum Polda Jatim, Kombes Pol Agung Yudha Wibowo bersama Kapolres Makota AKBP Asfuri melakukan analisa ulang di TKP mulai siang hingga sore kemarin. Agung, yang dikonfirmasi soal kasus ini, menyebut bahwa hasil analisa polisi masih 50:50, antara pembunuhan atau bunuh diri.
“Evaluasi masih terus dilakukan, belum kita putuskan (kasus bunuh diri atau pembunuhan), masih fifty fifty, dugaannya apa? ya (silakan) wartawan menduga sendirilah,” ungkap Agung saat doorstop di Perum Bukit Dieng MB 9, sore kemarin.
Setelah kurang lebih dua setengah jam melakukan analisa di TKP, Agung menyebut Polda Jatim menurunkan Dir Reskrimum dan Dir Intelkam untuk memback up Makota. Disinggung soal kecurigaan polisi tentang adanya orang yang dicurigai dalam asumsi dugaan pembunuhan, Agung tidak menyangkalnya.
“Ya polisi selalu curiga. Kita kerja bareng dengan Polres Makota. Dir Reskrimum, Dir Intelkam turun semua bantu penyelidikan,” papar Agung. Ungkapan perwira dengan tiga melati emas di pundaknya ini, mengindikasikan bahwa polisi sudah mengantongi siapa-siapa saja yang mungkin memiliki motif serta alibi yang lemah sejak Agus Samad tak bisa dihubungi mulai Jumat lalu.
Bagi Polda Jatim dan Polres Makota, pengungkapan kasus ini merupakan teka-teki yang harus diselesaikan. Agung menyebut semua penyidik bekerja keras untuk mengungkap puzzle yang bermunculan di TKP. Layaknya tokoh fiksi detektif jenius Sherlock Holmes yang antusias untuk menerima serta memecahkan kasus aneh nan janggal, Agung menganggap peristiwa ini sebagai tantangan.
Kedua kaki yang terikat tali rafia, titik darah yang muncul di pohon pisang dan lantai 2 hingga genangan darah di meja makan, menggelitik naluri detektif para penyidik kepolisian. “Soal tali rafia itu, masih kita analisa. Ini adalah teka-teki, yang menjadi tantangan buat kami pecahkan,” ujar Agung.
Selain itu, polisi sudah menerima sebagian hasil otopsi fisik tubuh korban yakni adanya tulang rusuk yang patah di sebelah kiri (berita terkait baca halaman Ken Arok, Red). Terpisah, Kapolres Makota menyebut ada penambahan pemeriksaan saksi di Polres Makota sejak kejadian ini menggegerkan kepolisian Indonesia.
“Sudah ada lima saksi yang diperiksa, hari ini agendanya ada penambahan pemeriksaan dua atau tiga saksi. Yakni, mereka semua yang ada di TKP ketika awal mendobrak pintu,” paparnya. Asfuri memaparkan, pihak kepolisian belum memeriksa istri korban, yakni Suhartutik karena kondisi mentalnya yang sedang stres dan trauma.
“Istri korban belum kita mintai keterangan, tapi rencananya hari ini akan diwawancarai,” jelasnya. Terkait adanya darah kering yang berada di lokasi yang janggal, yaitu pohon pisang serta lantai dua di area belakang rumah, Asfuri menyebut sampelnya sudah dikirim ke laboratorium forensik untuk dianalisa.
Selain titik darah yang berada di lokasi yang tidak biasa ini, polisi telah menganalisa cairan lain di sekitar genangan darah. Cairan tersebut ternyata adalah muntahan, yang diduga keluar dari mulut korban. Cairan tersebut, diduga berisi racun serangga. “Soal sampel darah di pohon pisang dan lantai dua, sudah dikirim ke laboratorium forensik, termasuk cairan muntahan,” tutup Asfuri.(fin/han)

Berita Lainnya :