Pieter dan Christea Saling Hujat


MALANG - Untuk kesekian kalinya, kampus Universitas Kanjuruhan Malang (Unikama) kembali bergolak.  Cristea Frisdiantara yang mengklaim Ketua PPLP-PT PGRI Unikama kembali datang untuk membuka kantornya yang sempat disegel PGRI dan mahasiswa.
Tak urung, kedatangannya ini dihadang oleh Rektor Unikama, Dr Pieter Sahertian, karyawan, dosen dan sebagian besar mahasiswa yang sudah berjaga di depan kantor rektorat. Christea tidak sendirian, namun dia juga bersama beberapa pengurus PPLP-PT PGRI yang dipimpinnya.
Bahkan, kali ini dia juga didukung beberapa mahasiswa yang mengaku sebagai anggota Dewan Mahasiswa Unikama Anti Korupsi. Mereka berdemo di depan kantor rektorat. Suasana makin panas, ketika Christea mengambil mik dan meminta agar kantor PPLP-PT PGRI dibuka.
Christea juga minta Pieter meninggalkan ruangan dengan alasan sudah dipecat. Sedangkan Pieter ngotot bila Christea tak berhak memecat karena SK Kemenkumham yang dipegang cacat hukum. Apalagi saat ini masih digugat di PTUN Jakarta. Permintaannya masuk ruangan pun ditolak hingga berujung saling hujat antar keduanya.
“Pieter, anda pembohong,” teriak mantan anggota DPRD Kota Malang ini. Tidak mau kalah, Pieter pun juga membalas. “Anda itu tidak sah. Anda pembohong. Anda telah membuat suasana gaduh di kampus,” balas Pieter. Bentrokan nyaris terjadi, saat beberapa mahasiswa pendukung Christea hendak masuk gedung.
Mereka mendapat perlawanan dari dosen, sebagian besar mahasiswa, termasuk diantaranya karyawan perempuan. “Ayo sini maju kalau berani,” kata salah satu karyawan ini sambil hendak turun meladeni mahasiswa pendemo. Beruntung, beberapa petugas keamanan kampus melerai.
Namun, bentrokan benar-benar terjadi. Massa dari dua kubu yang sudah berhadap-hadapan tak bisa menghindari bentrok. Akibat bentrok itu, tiga mahasiswa menjadi korban. “Saya menyayangkan peristiwa ini karena mahasiswa sudah diajak untuk ikut berpolemik,” ujarnya.
Di lain pihak, kubu Christea juga menyerang balik dengan menuduh Pieter, Wakil Rektor III Unikama, Joice Soraya dan beberapa pengurus PPLP-PT PGRI Soedja’i menyelewengkan dana mahasiswa Rp 26 miliar.
Tudingan itu disampaikan Slamet Riadi, Kabid Aset Unikama, yang berorasi bersama kelompok mahasiswa Unikama asal Sumba yang menggelar aksi demo. “Mereka sudah memperkaya diri. Mereka tidak berani keluar kampus karena tidak bisa mempertanggungjawabkan keuangan,” tudingnya.
Sementara itu, MS. Alhaidary, SH, MH, kuasa hukum PPLP-PT PGRI Soedja’i dan Pieter mengaku tidak mau menanggapi tudingan masalah keuangan itu. “Itu fitnah. Dari fitnah akan muncul fitnah lagi. Untuk apa menanggapi surat budek itu. Nggak ada untungnya,” ungkapnya kepada Malang Post.
“Mereka harus gentle. Laporkan saja kalau ada penyelewengan. Kalau ada tudingan bahwa pengurus PPLP-PT PGRI memiliki rekening pribadi, ya tidak apa-apa. Apa tidak boleh punya rekening pribadi. Saya malah dengar ada pencurian komputer. PPLP-PT PGRI sudah melapor ke polisi,” ungkapnya.
Menurut dia, kalau Christea mengaku sudah membuka komputer atas izin polisi, malah salah. “Motifnya apa? Sudah dilaporkan ke cyber polisi. Dalam rangka apa mereka mengambil?  Kalau penyelidikan polisi saja, harus ada izin pengadilan. Ini tindakan liar namanya,” tutup dia. (mar/mp)

Berita Lainnya :

loading...