Dua Pasutri Digerebek Pesta SS

 
SURABAYA - Dua pasangan suami istri (pasutri) digerebek polisi di sebuah rumah kos di Jalan Kupang Krajan Gang 1 nomor 49, Surabaya. Penggerebekan tersebut dilakukan lantaran dua pasutri tersebut terlibat dalam peredaran narkoba dan juga pil koplo. 
Dua pasutri itu adalah Arha, 22, dan pasangannya Alda, 18, kemudian M Hadah, 22, dan istrinya Chusnul, 18,. Keempatnya tinggal di rumah kos yang sama di Jalan Kupang Krajan Gang 1 nomor 49.  Penggerebekan tersebut dilakukan pada Jumat (23/2), lalu. Polisi menggrebek kos tersebut setelah menerima informasi adanya laporan jika kos tersebut digunakan untuk pesta sabu-sabu (SS).
“Dari informasi tersebut, kami lantas melakukan pengintaian. Dan kami dapatkan empat tersangka sedang asyik pesta SS,” ungkap Kapolsek Sawahan Kompol Dwi Eko.
Dari penggerebekan itu, polisi mengamankan sejumlah barang bukti berupa alat isap dan pipet SS. Barang bukti tersebut tercecer di lantai. Meski demikian, polisi terus mencari barang bukti dengan cara menggeledah tubuh keempatnya. 
Dwi mengatakan, pertama polisi menggeledah kamar dan tubuh Arga dan istrinya Alda. Hasilnya polisi mendapatkan barang bukti berupa dua poket SS seberat 6,55 gram. SS tersebut disembunyikan di dalam dompet warna coklat. Tak hanya itu, polisi juga mengamankan sebuah amplop  berisi lima poket SS seberat  2,26 gram. 
“Selain itu,kami juga temukan timbangan elektrik dan uang tunai senilai Rp 2,1 juta. Selain itu, alat isap juga berhasil kami amankan,” imbuh Dwi Eko. 
Setelah Arga dan Alda selesai digeledah, giliran pasutri M Hadah dan Chusnul. Dari penggeledahan itu, polisi juga menemukan barang bukti berupa sembilan poket SS seberat 7,10 gram dan sedotan plastik. 
Tak hanya SS, dari kamar M Hadah dan istrinya polisi juga mengamankan seribu butir pil koplo. Dwi menjelaskan, SS dan pil koplo yang diperoleh dari seorang bandar asal Madura.  
Tak hanya memakai, dua pasutri tersebut juga diduga mengendarkan SS tersebut ke wilayah Surabaya. Meski para tersangka tak mengakuinya namun dari sejumlah barang bukti, dugaan jika mereka pengedar sangat kuat. 
“Selain barang bukti berupa uang tunai dan timbangan elektrik, hal yang menguatkan jika mereka adalah pengedar adalah cara mereka memesan SS. Sebab sekali pesan kepada bandar, mereka bisa memesan satu gram lebih. Untuk itu, kami masih mendalami kasus ini,” terangnya. 
Sementara itu, kepada polisi Hadah mengaku jika ia sudah memakai SS sejak enam bulan terakhir. Satu gram SS biasa ia beli dengan harga Rp 1,2 juta. Sedangkan untuk double L, dia mengaku jika barang tersebut bukan miliknya, melainkan hanya titipan saja. 
“Ada yang titip, nanti ada yang ambil,” ungkap Hadah. 
Sedangkan menurut Alda, dia mengaku sudah memakai SS sejak tiga bulan terakhir. Dia mengatakan ketagihan SS setelah diajak suaminya Arga. (yua/rud/jpg/jon)

Berita Terkait

Berita Lainnya :