Pendukung Kades Datangi PN Kepanjen

 
MALANG - Sidang lanjutan kasus dugaan penyerobotan lahan PTPN XII Kebun Pancursari, dengan terdakwa Kepala Desa Tegalrejo, Sumbermanjing Wetan Ari Ismanto, kembali menyedot massa. Ratusan warga pendukung terdakwa Ari Ismanto, mendatangi Pengadilan Negeri (PN) Kepanjen. Mereka ingin menyaksikan jalannya persidangan yang dipimpin Ketua Majelis Hakim, Saut Maruli Tua Pasaribu, SH, MH. 
Agar tidak sampai terjadi gesekan dan kejadian yang tidak diinginkan, ratusan personil Polres Malang disiagakan untuk mengamankan jalannya persidangan. Termasuk kendaraan water canon, yang siaga di depan PN Kepanjen. Dibandingkan dengan sidang sebelumnya, jumlah massa kali ini jauh lebih banyak. 
"Kami mengantisipasi untuk kemungkinan terburuk, karena sidang masalah tanah ini rawan terjadi kesalahpahaman," ungkap Kabag Ops Polres Malang, Kompol Sunardi Riyono. 
Massa datang dengan mengendarai truk dan belasan kendaraan minibus serta pribadi. Tidak semua massa diperbolehkan masuk ke halaman ruang sidang. Petugas terpaksa memperketat massa yang ingin masuk. 
Bagi warga yang ingin masuk, harus didata dan menunjukkan KTP terlebih dahulu. Kemudian ditukar dengan kartu tanda masuk sesuai dengan nomor urutan. Bagi yang tidak membawa KTP, terpaksa harus menunggu di luar. 
Demikian juga di dalam ruang Sidang Cakra. Agar kondisi ruang sidang tidak sampai membludak, terpaksa dibatasi. Pengamanan dalam ruang sidang pun juga dijaga ketat petugas, baik berpakaian dinas ataupun preman. 
Agenda sidang kemarin, adalah pemeriksaan saksi. Ada empat saksi yang dihadirkan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Juni Ratnasari. Yakni, Hendrianto, mantan Manager Perkebunan Pancursari, Masruri, Kepala TU Perkebunan Pancursari, Amir Sutarto, mantan Asisten Kepala Perkebunan Pancursari dan Abdurrahman, Koordinator Keamanan Sumberkerto-Sumbermanggis, Perkebunan Pancursari. 
"Materi pemeriksaan terkait penguasaan lahan tanpa adanya KSU. Pemeriksaan secara bergantian satu-persatu," ujar Hendrianto. 
"Agenda sidang berikutnya masih pemeriksaan saksi. Kami akan menghadirkan saksi ahli dari Badan Pertahanan. Untuk sidang Rabu (28/2) berjalan lancar, meski dihadiri banyak massa," jelas Juni Ratnasari, JPU Kejaksaan Negeri Kepanjen. 
Terpisah, Agus Syafii kuasa hukum terdakwa Ari Ismanto, mengatakan bahwa keterangan keempat saksi tidak semuanya benar. Menurutnya ada keterangan yang sesuai dan ada juga yang kurang sesuai. 
Misalnya luas lahan yang tidak sama dengan yang disampaikan oleh para saksi. Saksi mengatakan luas lahan yang diserobot oleh Ari Ismanto adalah 117 hektare. Namun bukti yang dikantongi pihak terdakwa, lahan yang disewa dan dituding diserobot adalah 98 hektare. 
"Selain itu soal pembayaran. Sudah dilakukan pada 2014, namun SK yang keluar tahun 2016. SK yang sebelumnya itu yang masih kami pertanyakan," terang Agus Syafii. 
"Kami juga sempat menanyakan SK 35 tentang pembatalan. Tetapi para saksi mengaku tidak tahu. Padahal itu menjadi rujukan kalau lahan diserahkan pada masyarakat," paparnya. 
Sekadar diketahui, menjadi terdakwa dugaan penyerobotan lahan. Dakwaan dibacakan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU), Juni Ratnasari, SH. Dalam dakwaannya, terdakwa Ari Ismanto dianggap menduduki, menguasai dan menggarap lahan seluas 177 hektare lebih dengan cara ilegal, mulai Januari 2016 sampai Oktober 2017.
Lahan tersebut ditanami tebu dan ketela pohon. Padahal untuk mengerjakan lahan milik PTPN XII tersebut, harus ada kerja sama usaha (KSU) antara terdakwa dengan PTPN XII yang berkedudukan di Surabaya, melalui pengelola PTPN XII Kabun Pancursari, Sumbermanjing Wetan.
Selain itu dalam dakwaan terdakwa Ari Ismanto juga didakwa tidak menghiraukan upaya penyelesaian secara baik-baik. Serta, dianggap menggarap lahan milik PTPN XII secara ilegal. Kades Tegalrejo itu di jerat pasal 107 huruf a jo pasal 55 huruf a UU RI Nomer 39 tahun 2014 tentang perkebunan.(agp/jon)

Berita Terkait

Berita Lainnya :