Indikasi Pembunuh Bayaran Muncul

 
MALANG - Polda Jatim sedikit demi sedikit mengungkapkan penyebab kematian mantan Wakapolda Sumut, purnawirawan Kolonel Polisi, Agus Samad yang ditemukan meninggal di rumahnya, perumahan Bukit Dieng MB9, Malang, Sabtu (24/2) lalu. 
Kemarin, Kabid Humas Polda Jatim, Kombes Pol Frans Barung Mangera mengatakan, penyebab utama kematiannya, bukanlah sayatan di lengan, maupun racun serangga yang masuk ke dalam tubuh korban.
“Penyebab kematian, adalah tulang rusuk yang patah, menusuk jantung korban. Bukan karena sayatan, bukan karena cairan serangga,” kata Frans, sapaannya. Menurut perwira polisi ini, penyebab kematian ini disimpulkan setelah analisa hasil laboratorium forensik.
Lalu, saat disinggung soal apa yang menyebabkan tulang rusuk korban patah, Frans enggan memberi jawaban. Menurutnya, penyelidikan masih dilakukan. Sebelum ada fakta hasil penyelidikan petugas kepolisian, semua asumsi bisa saja terjadi. Meski demikian, segala asumsi, adalah konsumsi penyidik. 
”Itu konsumsi penyidik, sekarang masih penyelidikan,” tambahnya.
Saat disinggung kemungkinan pelaku yang menghabisi nyawa mantan Kapolres Blitar adalah pembunuh bayaran, Frans tidak membantah dan tidak membenarkannya. Menurut dia, polisi tidak bisa menyimpulkan peristiwa hanya berdasarkan asumsi. Dia menegaskan polisi hanya berpegang pada fakta hasil penyelidikan. 
“Saya menyadari rasa penasaran publik terhadap kasus ini,” akunya. 
Tidak mengherankan pula, bila setiap pergerakan dan hasil penyelidikan polisi selalu ditunggu. Awak media pun sempat dihebohkan dengan kehadiran seorang pria yang digelandang oleh anggota Resmob Satreskrim Polres Makota, Jumat sore lalu. 
Pria berbaju oranye, memakai sarung dan berbadan besar tampak mengenakan borgol, lalu diperiksa di Polres Malang Kota (Makota) mulai Jumat (2/3) sore hingga tengah malam. Menurut Frans, pria tersebut, tidak berkaitan dengan kasus kematian Agus Samad. 
“Saya dengar ramai sekali di Polres Makota karena pria tersebut. Jangan salah, dia gak ada kaitannya. Dia kasus 170 KUHP dan dua tahun jadi DPO,” tambah Frans.
Sementara itu, Kapolres Makota, AKBP Asfuri menerangkan, proses pemeriksaan berlanjut. Ia mengakui, anak pertama korban, Timur Dikman Sasmita, 40, warga Permata Jingga diperiksa oleh penyidik. Menurut dia, Timur sudah diperiksa dua kali termasuk pemanggilan.
“Anak sulung dipanggil dua kali,” tutupnya. (fin/mar/jon)

Berita Lainnya :