Staf Keuangan Embat Rp 2 Miliar

 
MALANG – Direktur PT Sapta Tunggal Surya Abadi Aji Prayitno melaporkan karyawannya, Nanik Indrawati alias Suparmi (53), atas dugaan penggelapan uang. Total uang yang diduga digelapkan oleh terlapor, warga PBI, Purwodadi Blimbing ini mencapai Rp 2 miliar. Kasus ini sedang ditangani oleh Reskrim Polres Makota. Kemarin, terlapor menjalani pemeriksaan pertama oleh penyidik.
Kasat Reskrim Polres Makota AKP Heru Dwi membenarkan bahwa sudah ada laporan terkait kasus ini ke Reskrim. “Benar sudah ada laporan, dan sudah ditindaklanjuti. Sekarang sedang tahapan pemeriksaan terlapor setelah pemanggilan. Tadi pemeriksaan pertama,” kata Heru kepada wartawan dikonfirmasi sore kemarin.
Kasus ini berawal dari upaya pembebasan lahan PT Sapta Tunggal Surya Abadi di lahan perumahan Ciputra daerah Buring pada 9 Maret 2015 lalu. Terlapor bersama tim pembebasan lahan perusahaan, hendak membeli lahan para petani di Buring. Terlapor, diduga mengubah perhitungan besar lahan plus harga per meter.
“Kepada petani, dia menyebut hasil pengukuran sekitar 1,2 hektar harga per meter Rp 225 ribu. Tapi, laporan kepada perusahaan, ukuran lahan yang harus dibebaskan sekitar 1,3 hektar, dengan harga Rp 350 ribu per meter,” kata Emanuel Budiono, perwakilan direktur Aji Prayitno, ditemui di Polres Makota, kemarin.
Jika dihitung, maka uang yang diajukan terlapor ke perusahaan, adalah Rp 4,7 miliar. Sedangkan, harga yang disebutkan kepada petani Rp 2,7 miliar. Karena posisi terlapor sebagai staf keuangan serta posisinya di tim pembebasan lahan, perusahaan mempercayai perhitungannya.
Tanpa curiga, perusahaan yang berpusat di Surabaya mentransfer uang sejumlah Rp 4,7 miliar kepada terlapor. Namun, dia hanya membayarkan Rp 2,7 miliar kepad petani. Sedangkan, sisanya Rp 2 miliar, diduga ditransfer ke rekening lain, sebelum akhirnya diambil sendiri oleh terlapor.
Kecurigaan dari direksi PT Sapta Tunggal Surya Abadi muncul setelah petani menunjukkan bukti pembayaran pembebasan lahan kepada perusahaan. “Dari situ perusahaan melakukan audit internal dan menemukan kejanggalan. Inilah yang dilaporkan ke Polres Makota,” ujar Emanuel. Pada 16 Agustus 2016, laporan dugaan penggelapan dilayangkan ke Polres Makota.
Selain melayangkan laporan ke Polres Makota, perusahaan ini juga melaporkan dugaan penggelapan yang dilakukan oleh terlapor ke Polda Jatim. Sebab, menurut keterangan perusahaan ini, uang yang diduga digelapkan terlapor, lebih dari Rp 2 miliar yang masuk dalam laporan Polres Makota. “Kalau ditotal, mencapai Rp 2 miliar. Laporannya ada yang ke Polres, ada yang ke Polda,” tambahnya.
 Terlapor sendiri dipanggil untuk diperiksa Reskrim Polres Makota pada 15 Juli 2017, namun tertunda dan baru bisa menghadiri panggilan pemeriksaan kemarin. Terlapor, didampingi oleh kuasa hukumnya, Gunadi Handoko SH. 
Saat dikonfirmasi, Gunadi masih belum mau membeberkan terkait keterlibatan kliennya dalam kasus ini. “Sabar, nanti dulu,” ujar Gunadi, sembari meninggalkan halaman Polres Makota, kemarin. Terkait dugaan penggelapan, Polres Makota telah memeriksa 16 saksi, serta mengantongi dua alat bukti berupa hasil audit internal perusahaan, dan rekening koran dari bank yang mencatat bukti transfer. Polres sedang mengumpulkan keterangan dari terlapor dan masih melakukan pemanggilan berikutnya.(fin/lim)

Berita Terkait

Berita Lainnya :