Primadona SMK PGRI 3 Itu, Gagal Berjumpa Ibunda


MALANG - Tewasnya Cintya Fatmawati menimbulkan duka mendalam bagi para keluarga dan kerabat. Tak terkecuali pihak sekolah. Selama menimba ilmu di SMK PGRI 3 Malang, Cintya duduk di kelas unggulan. Di kalangan siswa ia juga menjadi primadona karena parasnya yang ayu.
Humas SMK PGRI 3 Malang Riyandi Agung mengungkapkan, Cintya duduk di bangku kelas XI Audio Visual (AV) A dan merupakan salah satu kelas unggulan. Dalam pergaulannya sehari-hari, Citya dikenal pendiam, tidak banyak bicara dan sempat menjadi primadona.
“Anaknya juga cantik, diam dan baik. Untuk jurusan yang diambil Cintya, hanya 30 persen yang perempuan. Di kelasnya sendiri, hanya ada empat orang perempuan saja. Tidak pernah ada kasus sama sekali. Dia anak yang baik dan tidak pernah berbuat onar di sekolah,” papar Ryan sapaan akrabnya kepada Malang Post, kemarin.
Untuk audio visual, ada 2 kelas, yakni reguler dan industri (LG Class). Cintya masuk dalam kelas LG Class. Saat ini, ia sedang menjalankan Praktek Kerja Industri (Prakerin) dan baru separuh jalan. Sebelumnya, Cintya menjalani prakerin di kawasan Kediri. Namun, pada Jumat (2/3) lalu, Cintya mengikuti rolling dan membuatnya ditempatkan di kantor LG di Jalan Bengawan Solo, Kota Malang.
“Orang tuanya juga sempat meminta kalau Cintya di Malang saja. Tidak jauh-jauh. Nah, setelah berjalan empat bulan, dia di rolling di Malang. Masa prakerin akan berakhir empat bulan ke depan,” imbuh dia.
Ryan menuturkan, sedari kecil, Cintya diasuh oleh neneknya. Pasalnya, ibu Cintya bekerja di Hongkong dan ayahnya bekerja di Kalimantan. “Nah, ibunya pernah berpesan kepada kami. Kalau beliau datang, dia ingin Cintya ada di Malang sehingga bisa bertemu,” kata dia.
Menurut informasi yang didapat oleh Ryan, hanya tinggal menghitung hari sang ibu kembali ke Hongkong. Sehingga, pada malam nahas tersebut, Cintya memaksakan diri untuk pulang ke rumahnya. Padahal, sudah dicegah oleh teman-temannya karena waktu sudah malam dan diajak menginap di kos teman kantornya. “Karena teman-teman kantor juga alumnus kami. Jadi, Cintya ini nggak dibolehin pulang. Tapi namanya anak rindu dengan ibunya dan ingin ketemu, akhirnya dia memaksa pulang. Kemudian, Cintya menunda untuk mencari kos di daerah tersebut,” imbuh dia.
Ryan menambahkan, saat sekolah, Cyntia kos tidak jauh dari sekolahnya. Namun, masa kos tersebut sudah habis dan tidak diperpanjang karena ia harus ke Kediri mengikuti prakerin. “Jadi, dia masih belum memiliki tempat kos baru,” kata dia.
Ketika perjalanan pulang ke Ngantang, Ryan menuturkan, Cyntia sempat tak tahu arah dan sempat tersesat. Pasalnya, Cyntia pun jarang keluar kos untuk sekedar nongkrong atau jalan-jalan layaknya anak remaja. “Nah, kemudian dia meihat GPS agar bisa sampai ke rumah. Namun, ternyata musibah datang,” pungkas dia.

Berita Lainnya :