Andai Sherlock Itu Nyata

Jika sosok Sherlock Holmes itu ada, maka menurut saya, mungkin Polres Makota atau Polda Jatim akan menyewa jasanya. Kemampuan spesial dari tokoh rekaan novelis Sir Arthur Conan Doyle ini, sungguh luar biasa. Bagi Sherlockian, julukan penggemar Sherlock Holmes, Science of Deduction atau ilmu deduksi, adalah jurus ampuh detektif asal Inggris itu untuk memecahkan kasus-kasus aneh dan janggal.
Sherlock, yang semakin populer berkat serial BBC yang diperankan oleh Benedict Cumberbatch, mungkin akan sangat tertarik dengan kasus yang menghebohkan Malang pekan lalu. Yakni, kasus penemuan mayat Kombes Pol purn Agus Samad di Perum Bukit Dieng MB 9 Pisangcandi Sukun.

Jika bisa digambarkan dalam kata-kata yang sering digunakan oleh Sherlock, maka saya rasa kata yang tepat untuk menggambarkan kasus ini adalah, fascinating. Andai Sherlock itu nyata, kasus-kasus pembunuhan biasa, tidak akan memancing minatnya. Hanya dengan sekejap mata, lewat science of deduction, Sherlock bisa memecahkan kasus tersebut.
Dia tidak membutuhkan kasus-kasus standar yang bisa dipecahkan polisi. Sebagai detektif yang mengaku sebagai sosiopat, teka-teki dari kasus kematian janggal dan misterius, adalah suntikan adrenalin yang sangat dicarinya. Sir Arthur cukup jelas menggambarkan Sherlock sebagai sosok detektif yang jenuh dengan kasus-kasus kejahatan yang dianggapnya membosankan.
Detektif penghuni 221B Baker Street ini baru mau turun tangan apabila kasusnya misterius, unik. Saking sulitnya kasus itu, polisi sampai dibikin kesulitan untuk mengungkapnya. Menurut saya, andai sosok detektif eksentrik itu benar ada, penemuan mayat Agus Samad sungguh akan membuat Sherlock bergetar kegirangan.
Karena, bagi saya, penemuan mayat Agus Samad, dengan segala kejanggalannya, sungguh akan menyegarkan otak jenius Sherlock. Mengapa saya meyakini Sherlock akan tertarik dengan kasus Agus Samad? Pertama, tentu saja adalah kejanggalan letak penemuan mayat mantan Wakapolda Sumut itu dengan genangan darah.
Agus Samad ditemukan di ruang taman belakang, dalam posisi tertidur miring, dengan sayatan di kedua pergelangan tangan. Namun, darah tidak menggenang di sekitar tubuh korban di taman belakang. Darah malah berceceran di ruang tengah, tepatnya di bawah meja makan. Darah ini, bercampur dengan muntahan.
Lalu, menurut hasil olah TKP, polisi tidak menemukan ceceran darah di antara ruang taman belakang dan ruang meja makan. Kedua, masing-masing pergelangan kaki dari Agus Samad, terikat tali rafia. Tali rafia ini, lalu tertambat ke pagar lantai 3.  Ketiga, pintu rumah terkunci slot dari dalam. Terbukti, satpam perumahan harus mendobraknya dari luar sebelum akhirnya bisa masuk.
Akibat kasus ini, polisi dibikin geleng-geleng kepala sampai sekarang. Bahkan, Polda Jatim maupun Polres Makota, masih belum berani menentukan secara terang-terangan, apakah kasus ini bunuh diri atau pembunuhan. Andai ini pembunuhan dan ada pelaku, kronologi kejadiannya akan lebih mudah dinalar.

Pelaku masuk ke dalam rumah, lalu melakukan semua tindakan untuk membunuh Agus Samad. Mulai dari meminumkan racun serangga, menyilet kedua urat nadi Agus Samad dan menguras darahnya hingga menggenang di meja makan. Lalu memukul, menghantam rusuk kiri korban dengan benda tumpul, sehingga jantung Agus Samad tertusuk pecahan tulang. Rusuk patah ini pula yang akhirnya mengakhiri nyawa korban.
Setelah itu, pelaku bisa dengan mudah mengikat kedua kakinya dengan rafia dan menambatkannya ke lantai 3. Tapi, jika memang ini pembunuhan, maka polisi harus bisa membuktikan bagaimana cara pembunuh kabur. Selain tembok belakang dan samping rumah yang sangat tinggi serta ditutupi pepohonan, pintu depan dikunci dari dalam.
Namun, jika kasus ini adalah bunuh diri, maka penjelasan polisi harus semakin komplet dan komprehensif, supaya tidak bisa dibantah oleh awak media. Polisi harus bisa menjelaskan cara korban bunuh diri. Mulai dari cara korban menyilet kedua lengannya, memuntahkan cairan muntah berisi obat serangga, lalu memasang tali rafia kepada kedua kakinya, tanpa meninggalkan jejak darah di antara dua ruangan yang berbeda.
Dari video amatir yang direkam oleh warga, darah tidak ditemukan di lantai yang memisahkan tubuh korban di taman belakang dengan genangan darah di meja makan. Menurut dokter, darah yang dikuras dari kedua lengannya di meja makan, sudah cukup untuk membuat korban pingsan dan mengalami koma hanya dalam waktu 5-10 menit.
Dengan kondisi kesehatan Agus Samad yang mengalami sakit asam urat, bahkan kaki kanannya terbebat perban, bisakah dia mencegah darah tercecer di antara kedua ruangan. Atau, sempatkah dia membersihkan ceceran darah dari lantai antar kedua ruangan itu dengan kondisi yang mulai kehilangan kesadaran karena kekurangan darah?
Semua pertanyaan yang menghantui penyidik polisi sampai sekarang rasanya akan membuat Sherlock Holmes menari-nari bahagia. Bisa dibayangkan, andai detektif yang haus teka-teki dan misteri ini sungguh nyata ada, dia akan terbang jauh-jauh dari London menuju Indonesia untuk menikmati stimulasi dan adrenalin dalam menyingkap selubung kematian Agus Samad.
Andai Sherlock Holmes itu nyata, satu titik darah yang dianggapnya tidak pada tempatnya, akan membuka petunjuk untuk mengungkap kasus ini. Andai Sherlock itu ada, mungkin bekas kapur putih di kedua lengan Agus Samad, serta kedua telapak tangan yang bersih dari darah, akan memberi jawaban tentang misteri kematian mantan Kapolres Blitar itu.
Andai Sherlock benar-benar ahli deduksi, mungkin dia akan membaca karakter dari semua orang terdekat Agus Samad, untuk mengungkap motif-motif tersembunyi. Andai Sherlock ada dan disewa oleh Polda Jatim atau Polres Makota, mungkin polisi tidak perlu mengirit-irit informasi soal kematian Agus Samad, dan bisa langsung merilis penyebab kematiannya, atau bahkan menangkap pelaku, tanpa membutuhkan waktu lama. Hais, andai Sherlock itu nyata.(*)

Berita Terkait

Berita Lainnya :