Kasek Krisyanto Tak Akui Cabul


 
MALANG - Setelah menjalani pemeriksaan, Drs. Krisyanto Latif (KL), 56. Kepala SMP yang melakukan perbuatan cabul, dijebloskan ke dalam tahanan Polres Malang. Sekalipun dalam pemeriksaan dia tetap mengelak melakukan perbuatan cabul yang dilaporkan enam siswinya.
“Yang bersangkutan tidak mengakui. Namun kami tetap akan mengembangkan kasusnya,” ungkap Kasatreskrim Polres Malang, AKP Adrian Wimbarda.   Meskipun tidak mengaku, lanjut dia, Krisyanto tetap dijebloskan dalam tahanan. Karena pria yang tinggal di Perum Turen Permai ini, sebelumnya sudah ditetapkan sebagai tersangka. Berdasarkan keterangan saksi-saksi dan bukti petunjuk, Krisyanto terbukti melakukan perbuatan cabul.
“Ada bukti percakapan di HP-nya,” ungkapnya. 
Percakapan antara tersangka Krisyanto dan korban lewat pesan WhatsApp (WA) ini, sebelumnya memang sempat diserahkan ke polisi oleh korban saat laporan sebagai barang bukti. Sehingga sekalipun mengelak, bukti WA sudah kuat untuk menjadikannya sebagai tersangka.
Sementara itu, hampir semua guru di sekolah itu mengaku tidak tahu dengan kejadian pencabulan. Termasuk siapa saja enam siswi yang menjadi korban asusila Krisyanto, mereka mengatakan tidak mau. Para guru ini, seakan menutup-nutupinya.
“Kami tahu berita pencabulan itu dari koran. Siapa saja keenam korban pencabulan itu, juga tidak tahu si A dan si B. Apakah memang benar mereka siswi sini,” ujar Nur Kholik, Humas di SMP tersebut, yang juga dibenarkan guru-guru lainnya.
Dikatakannya, bahwa Krisyanto sudah tidak menjabat lagi sebagai Kepala SMP di Kromengan. Dia resmi diganti oleh Harnowo, sejak 20 Januari 2018. Kemudian Krisyanto ditunjuk sebagai Kasek devinitif di salah satu SMP di Kecamatan Sumbermanjing Wetan.
Jabatan Krisyanto sebagai Kepala SMP di Kromengan pun, hanya sebentar saja sekitar tiga bulan. Itupun hanya sebagai pelaksana teknis (Plt). Sebelumnya Krisyanto merupakan pengajar salah satu SMP di Kecamatan Ampelgading.
“Dia menjadi Plt menggantikan Suwatris, yang sebelumnya telah meninggal dunia. Setahu saya, baru kali pertama ini menjabat sebagai kepala sekolah,” urainya.
Edi Supriyono, guru BK di sekolah tersebut memberi keterangan yang berbeda dengan guru lainnya. Jika humas dan guru lainnya mengaku tidak tahu terkait pencabulan, Edi membenarkan bahwa enam siswi yang menjadi korban memang pelajar di SMP Kromengan. Menurutnya, pihak sekolah sudah melakukan pendampingan psikolog terhadap mereka.
“Saya bersama dengan tim dari Dinas Pendidikan Kabupaten Malang, sudah memberi pendampingan psikolog terhadap keenam siswi. Dan kondisinya sudah baik dan tak ada masalah lagi dengan mereka,” paparnya. (agp/mar)

Berita Terkait

Berita Lainnya :