Jambret Pasuruan Ternyata Pedagang Buah di Gadang


 
MALANG - Sepak terjang Muhammad Dayat alias Gendut, 39, dan Achmad Efendi, 32, keduanya warga Dusun Krajan, Desa Karanganyar, Kecamatan Kraton, Pasuruan dalam melakukan penjambretan memang gila. Dalam sehari, mereka bisa menjambret di lima TKP.  
Dalam melakukan penjambretan, Gendut berperan sebagai pengendara Kawasaki Ninja N 3400 TR, sedangkan Achmad menjadi eksekutornya. Dia juga tidak segan menendang motor korban, bila melawan. Namun, setelah beraksi tiga bulan di Malang, mereka dihajar massa, Rabu (14/3) pagi. 
Seperti diberitakan, keduanya dihajar massa usai menjambret Dini Safitri, 20, warga Jalan Kyai Hasyim, Kedungkandang, Malang yang hendak berbelanja di Pasar Madyopuro. Mereka merampas ponsel dan sempat menendang motor Yama Mio yang dikendarai Dini di kawasan Jalan Lesanpuro.  
Kapolsekta Kedungkandang, Kompol Suko Wahyudi mengatakan kedua tersangka ini, beraksi sejak bulan Januari 2018 lalu, diantaranya di kawasan Sawojajar, Sukun, Muharto, Pakisaji, Kebonagung, Mergosono, dan sekitaran kampus-kampus.
“Sebelum tertangkap, mereka menjambret di empat lokasi,” terangnya.
“Kami amankan lima buah kalung wanita dan satu ponsel sebagai barang buktinya,” tegas dia.  Kedua tersangka, melakukan aksinya ketika subuh atau pagi hari. Sasarannya adalah perempuan yang pergi belanja, anak kuliah hingga karyawan kantoran.
“Korbannya sampai tidak terasa kalau kalungnya ditarik,” lanjutnya. 
Kalung emas hasil menjambret, lalu dijual di sebuah tempat di Pasuruan.
“Tempatnya mirip Rombengan Malam (Roma) kalau di Malang. Mereka menjualnya sekitar pukul 08.00 hingga 12.00. Satu buah kalung dihargai sampai Rp 2 juta. Sedangkan ponsel bisa Rp 1 juta,” kata Suko.
Uang hasil curian tersebut biasanya dibagi rata oleh kedua pelaku. Yang menarik, Gendut ternyata bekerja sebagai seorang sopir di Malang, sedangkan Achmad berprofesi sebagai pedagang buah di Pasar Gadang. 
“Gendut baru keluar dari LP Pasuruan karena terlibat penganiayaan,” ucapnya.  
Sementara, Achmad mengaku sudah enam bulan ini juga menjadi penjambret. Sampai saat ini, pihaknya masih mendalami dan mengembangkan kasus tersebut.
“Kami berharap, masyarakat jangan menggunakan perhiasan yang berlebihan agar tidak memancing jambret,” tutup Suko. (tea/mar)

Berita Lainnya :

loading...