magista scarpe da calcio Digerebek, Pasangan Kekasih Diusir dari Kontrakan


Digerebek, Pasangan Kekasih Diusir dari Kontrakan

 
MALANG – Warga Jalan Wiroto RT07 RW07 Kelurahan Polehan, Sabtu (5/8) malam lalu menggerebek sebuah rumah kontrakan, yang diduga dihuni oleh pasangan bukan suami istri. Hasilnya, sepasang kekasih pun diamankan. Yakni, Nila Astuti, 21, asal Kecamatan Delopo Kabupaten Madiun  dan Wahyu, 21, asal Kasembon. 
Meski terbukti berada dalam satu rumah, namun pasangan kekasih ini sama sekali tidak mendapatkan sanksi apapun. Warga hanya mengusir keduanya dari rumah kontrakan tersebut. 
”Saya hanya menjalankan peraturan. Di sini, jika ada orang ketahuan berbuat asusila langsung disuruh pergi. Termasuk pasangan kekasih tadi malam (kemarin, red), juga langsung kami minta meninggalkan rumah,’’ kata Jianto, Ketua RT07RW07 Kelurahan Polehan. 
Saat pergi, Jianto menambahkan, keduanya tidak boleh membawa barang apapun. ”Ya itu risikonya. Barang-barang yang ada di kontrakan milik Nila nanti akan diambil kakaknya. Karena yang kontrak di rumah itu sesuai data kami adalah Eka Maulizer, kakak Nila,’’ tambah Jianto.
Penggerebekan itu, dijelaskan Jianto terjadi sekitar pukul 23.00. Saat itu Jianto baru saja mengikuti rapat RW, tiba-tiba dilapori warga, jika di rumah Nila ada lak-laki yang menginap. Semula Jianto sempat mengatakan jika laki-laki tersebut adalah kakak Nila. Namun demikian, karena terus didesak, akhirnya Jianto pun menuruti warganya.
Bersama puluhan warga, Jianto mendatangi rumah kontrakan Nila. ”Di depan kami sempat panggil-panggil dan membunyikan pintu pagar. Namun tidak ada jawaban,’’ kata pria 44 tahun ini.
Jianto sendiri tidak kurang akal. Disaksikan warga, dia naik pagar, kemudian mencongkel jendela. Tidak lama berusaha, Jianto pun berhasil masuk, dan saat itu Nila sudah ada di luar kamar. Tanpa banyak kata Jianto pun menanyakan laki-laki yang menginap di rumah tersebut. 
Saat itu Nila sempat mengelak jika di rumah itu ada laki-laki. Sebaliknya, dia mengatakan hanya tidur sendirian. Karena terus mengelak, Jianto dan warga yang juga ikut masuk di rumah itu pun menggeledah seluruh ruang rumah. Awalnya warga tidak menemukan Wahyu. Hingga kemudian, salah satu warga di luar memberitahu jika Wahyu ada di atap. ”Dia naik lewat belakang. Langsung saya susul, dan memintanya untuk turun,’’ ucap Jianto. 
Begitu Wahyu turun, emosi warga sempat memuncak. Banyak diantarannya yang ingin mengadili keduanya. Namun demikian, Jianto berusaha meredam emosi tersebut.  ”Anaknya sempat kita mintai keterangan. Tapi yang laki-laki jawabnya plin-plan. Bahkan saat saya minta nama lengkapnya, dia mengaku hanya Wahyu. Dia juga tidak membawa KTP,’’ urai Jianto. 
Bukan itu saja, yang membuat warga semakin jengkel adalah Wahyu sempat menawarkan untuk berdamai. Tapi demikian, Jianto terus berusaha meredam. Hingga 30 menit, setelah kondisi warga aman, pasangan kekasih ini pun diminta keluar dari rumah.  ”Kami masih memikirkan masa depan keduanya, makanya kami tidak memanggil orang tuanya. Biar, mereka menanggung sendiri akibatnya,’’ tandasnya.
Sementara saksi lain menyebutkan, jika semula Nila tinggal bersama kakaknya yaitu Eka Maulizer. Mereka kontrak di rumah tersebut sejak Desember 2016 lalu. Namun demikian, saat ramadan lalu, sang kakak pulang ke Madiun, karena istrinya melahirkan.
Kondisi rumah yang kosong inilah, kemudian dimanfaatkan Nila untuk memasukkan pacarnya. ”Sudah sering dia memasukkan pacarnya. Kami juga sudah beberapa kali melapor ke ketua RT agar ditindak lanjuti, dan baru tadi malam dilakukan penggerebekan,’’ ucap warga yang meminta namanya tidak dikorankan.
Dia juga menyebutkan, kalau datang dan menginap di rumah itu, modus yang dilakukan adalah, awalnya Wahyu dan Nila naik motor berboncengan. Namun dari kejauhan, Wahyu turun, sementara Nila naik motor sendirian di rumahnya. Tidak lama kemudian, Wahyu pun datang ke rumah Nila serta menginap. ”Semalam juga begitu. Warga di sini sudah banyak yang tahu,’’ ucap saksi yang mengatakan rumah kontrakan yang digerebek adalah milik Umi, warga RT09 RW07, kelurahan Polehan.
Seiring dengan kejadian semalam, warga pun berjanji tidak sembarangan menerima warga yang indekos maupun kontrak. Kalaupun mereka indekos, atau kontrak harus menyerahkan data-data yang jelas. Selain itu mereka juga akan membuat peraturan lebih ketat. ”Bukan kami menolak pendatang. Tapi pendatang juga harusnya mengerti peraturan, etika serta norma. Itu tidak boleh dilanggar,’’ tandas warga.(ira/lim)
 

Berita Lainnya :

Copyright © 2018 Malang Pos Cemerlang Goto Top