Pelaku Idap Skizofrenia Paranoid Berkelanjutan

 
SIDOARJO - Rudiyanto, 30, warga Desa Penambangan RW 1, Kecamatan Balongbendo, Sidoarjo akhirnya ditetapkan menjadi tersangka. Namun pria yang memukul ustad Tajuddin saat salat Magrib di Masjid Baitur Ridwan, Senin (2/4) lalu itu, ada kemungkinan lolos dari jerat hukum karena ia diduga mengalami gangguan kejiwaan.
Saat ini, polisi masih melakukan penyidikan dengan meminta keterangan beberapa saksi. Polisi juga melakukan pemeriksaan terhadap kejiwaan tersangka. Kapolresta Sidoarjo Kombes Pol Himawan Bayu Aji mengatakan, tersangka diperiksa langsung di RS Bhayangkara Polda Jatim. Saat ini yang bersangkutan juga masih dalam pemeriksaan di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Menur, Surabaya. 
“Ini dilakukan untuk mengetahui pasti apakah tersangka benar-benar menderita gangguan kejiwaan atau tidak,” ungkapnya. 
Namun, dari pemeriksaan di RS Bhayangkara Polda Jatim, lanjut  Himawan Bayu Aji, salah satu dokter menyimpulkan tersangka memang menderita gangguan kejiwaan.
“Tersangka ini menderita penyakit gangguan kejiwaan dengan nama Skizofrenia Paranoid berkelanjutan,” katanya.
Gangguan ini adalah kondisi psikologis yang menyebabkan penderitanya berhalusinasi dalam pembicaraan emosi dan berperilaku. Hal ini bisa membuat penderitanya menyerang orang lain, ataupun ia melakukan tindakan menyendiri (pendiam).
Hanya saja, hal tersebut belum sepenuhnya dijadikan rujukan untuk menyimpulkan kejiwaan tersangka. Karena itu, tersangka diperiksakan ke tiga RSJ untuk benar-benar memastikan kejiwaannya ini. 
“Hasilnya nanti akan tahu setelah tersangka usai melakukan pemeriksaan tersebut,” katanya.
Himawan Bayu Aji mengatakan, motif pemukulan kepada korban Tajuddin sendiri belum diketahui. Namun masyarakat sekitar, korban, dan orang tua tersangka mengetahui bahwa yang bersangkutan selama ini mengalami stres yang mengakibatkan ia sering mengurung diri di rumahnya. Ini terjadi setelah ia putus cinta.
Ditanya mengenai hubungan antara korban dengan tersangka, dijelaskan selama ini orang tua tersangka meminta bantuan pada ustad Tajuddin. Korban ini diminta melakukan penyembuhan terhadap anaknya. Dimungkinkan hal ini juga yang memicu tersangka untuk melakukan penganiayaan pada korban. 
“Bisa jadi tersangka ini merekam dan melihat korban ini sebagai sasaran. Pemeriksaan kejiwaan ini masih kami lakukan pemeriksaan. Namun, warga masyarakat sendiri mengetahui kondisi kejiwaan korban ini terganggu,” jawab Himawan Bayu Aji.
Menangani kasus tersebut, pihaknya tetap memprosesnya. Pemeriksaan saksi-saksi terus dilakukan. Namun mengenai kemungkinan kasus ini dihentikan, pihaknya mengaku masih harus sesuai prosedur yang berlaku. Setelah ada hasil kejiwaan tersangka, barulah akan diputuskan melalui gelar perkara, apakah kasusnya dihentikan atau tidak. 
“Jadi, sekarang ini tetap diselidiki dan terus meminta keterangan saksi-saksi,” jelasnya. (gun/jee/jpc/jon)

Berita Terkait

Berita Lainnya :

loading...