Anjing Pembunuh Jalani Observasi 40 Hari


Malang - Peristiwa anjing jenis Bully Classic yang menerkam Ramisya Bazigha, bocah 8 tahun, hingga tewas mendapat perhatian serius dari pemerintah Kota Malang. Melalui Dinas Pertanian Kota Malang, kemarin langsung melakukan observasi terhadap anjing yang memiliki nama Sapi tersebut. Tujuannya tak lain untuk mengetahui riwayat anjing.
”Mengetahui riwayat penting dilakukan. Karena bisa jadi anjing tersebut memiliki rabies. Dan jika itu terjadi, maka orang-orang di sekitar binatang itu langsung diperiksa terutama yang kerap bersentuhan, atau yang pernah digigit,’’ kata Sekretaris Dinas Pertanian Kota Malang drh. Yudi Broto.
Kepada Malang Post, Broto mengatakan memang sejak lebih 10 tahun silam, Kota Malang bebas rabies. Namun itu tidak boleh diremehkan. Apalagi sejarah 50 tahun silam yaitu tahun 1967 ditemukan anjing yang terkena rabies.
”Makanya begitu mendapat kabar ada anjing yang menerkam bocah hingga  tewas, kami langsung meminta agar anjingnya tidak dibunuh. Karena penting untuk mengetahui riwayatnya,’’ ucapnya.
Rabies menurut Broto adalah penyakit infeksi tingkat akut pada susunan saraf pusat yang disebabkan oleh virus rabies. Penyakit ini dapat menular kepada manusia. ”Yang diserang adalah saraf. Dan jika menular kepada manusia juga bahaya,’’ ucapnya.
Sebetulnya menurut Broto untuk mengetahui hewan terkena penyakit rabies atau tidak cukup mudah. Yaitu aktivitas sehari-hari. Umumnya anjing yang terkena rabies ini pemakan segalanya. ”Itu ciri paling mudah. Dibeberapa kasus, saat ada anjing terkena virus rabies dan dibedah di lambung ditemukan benda-benda yang bukan makanannya. Contohnya ada ditemukan karet sepatu, plastik dan lainnya,’’ ucapnya.
Terkait dengan observasinya sendiri, menurut Broto karena binatang tersebut saat ini diamankan di Polres Malang Kota, maka pihaknya pun langsung melakukan koordinasi. ”Observasinya dilakukan selama 40 hari. Hari ini (kemarin, Red) kami berkoordinasi dengan Polres Malang kota untuk mengetahui kondisi anjingnya,’’ urainya.
Disinggung apakah memelihara anjing tidak diperlukan izin? Dikatakan Broto tidak ada peraturan yang mengatur soal itu. Izin pemeliharaan hanya untuk binatang yang sifatnya dilindungi. Namun demikian, Broto menyebutkan ada peraturan yang mengatur pemeliharaan hewan yang sulit dijinakkan.  Di antaranya  hewan tersebut wajib dikurung di kandang. Jikalau dilepas di halaman, hewan harus ditali atau rantai agar tidak berkeliaran, atau menyerang orang lain, atau hewan lain. Dan saat diajak jalan-jalan, mulut hewan tersebut juga harus ditutup atau dibrungsung.
”Ini ada aturannya,’’ tandas Broto.
Seperti yang diberitakan sebelumnya, Ramisya Bazigha, tewas setelah diterkam dan digigit anjing jenis Bully Classic peliharaan orang tua angkatnya, Dian Nugroho Adi. Warga Jalan Candi Penataran 10, RT02 RW03 Kelurahan Mojolangu, Kecamatan Lowokwaru  ini meninggal dunia seketika, dengan kondisi sangat mengenaskan. Dia mengalami luka cabik di leher dan wajah. Bahkan, tenggorokan bocah kelas 2 SDN Blimbing 3 ini terputus akibat terkaman binatang tersebut.(fin/ira/mg19/ary)

Berita Lainnya :

loading...