Anjing Pembunuh Sasa Ternyata Kelaparan, Kini Dilakban Polisi


MALANG - Jenazah Ramisya Bazigha, bocah yang digigit anjing jenis Bully Classic hingga tewas, disemayamkan di TPU Sudimoro Mojolangu, kemarin siang. Tak hanya pihak keluarga yang berduka, SD Negeri Blimbing 3, tempat bocah itu belajar juga hujan air mata. Pihak sekolah, terdiri dari para siswa dan guru bahkan menggelar upacara khusus untuk Sasa, sapaan akrabnya.
Kepergian Ramisya Bazigha, memang menyisakan duka yang mendalam bagi SDN Blimbing 3, sekolah korban semasa hidup. Diceritakan oleh Kepala SDN Blimbing 3, Suryatiningsih, S.Pd., MM., Sasa adalah sosok yang  mandiri, ceria, dan memiliki naluri tinggi untuk membantu teman-temannya.
“Nilai akademiknya juga bagus. Itulah yang membuat guru dan teman-temannya merasa sangat kehilangan. Selamat jalan anakku untuk menuju surga-Mu,” ujarnya.
Masa berkabung, kemarin (7/8) SDN Blimbing 3 mengganti jadwal upacara bendera hari Senin dengan pelaksanaan apel atau upacara khusus untuk mendoakan almarhumah. Disusul dengan takziyah oleh guru secara bergantian bersama dengan orang tua siswa.

Ya, setelah meninggal karena lehernya digigit anjing peliharaan keluarganya di Jalan Candi Penataran nomor 10 RT 02 RW 03 Mojolangu, Minggu (6/8).  Jenazah gadis kecil itu disemayamkan di KM RSSA Malang semalaman. 
"Awalnya keluarga minta langsung dimakamkan tapi saya tak memperbolehkan. Harus dibawa ke KM dulu," kata Ketua RT 02 Titin Utaminingsih  kepada wartawan.
Setelah dibawa ke KM, pagi kemarin sekitar pukul 09.00 WIB pihak keluarga datang untuk mengambil jenazah. Pihak keluarga tertutup dan tak bersedia dimintai konfirmasi. Saat jenazah korban dinaikkan ke ambulan RJT untuk dibawa ke rumah duka, salah satu anggota keluarga juga berusaha menghalangi wartawan mengambil gambar dengan cara menutup cepat pintu ambulan.
Kemarin siang, akhirnya jenazah korban dimakamkan di TPU Sudimoro. Kapolres Malang Kota (Makota), AKBP Hoirudin Hasibuan yang dikonfirmasi di mako Jalan JA Suprapto menyebut bahwa anjing yang menggigit korban sudah diamankan di markas.
"Anjingnya sudah diamankan oleh pecinta anjing, yang kita pantau, di Jalan Irian Jaya," kata Hoirudin.
Polres Makota awalnya meminta otopsi untuk mengetahui penyebab pasti kematian korban. Namun, Reskrim Polres Makota dan Inafis mendapat penolakan dari pihak keluarga. Keluarga angkat, kata Hoirudin, menghendaki jenazah langsung dikubur setelah divisum dan bermalam di kamar mayat. Karena permintaan keluarga, jenazah korban langsung disemayamkan.
"Saya dapat laporan orang tua angkatnya tidak bersedia untuk diotopsi. Sehingga hari ini (kemarin) sudah dimakamkan," tambah Hoirudin.
Menurut perwira berpangkat dua melati emas di pundak itu, Reskrim Makota langsung melakukan penyidikan untuk kasus ini. Polisi langsung melakukan pemeriksaan terhadap saksi yang mengetahui dan terkait dengan kejadian tersebut.
Polres Makota tak hanya meminta keterangan dari pihak keluarga saja. Hoirudin juga akan memanggil saksi ahli yaitu dokter hewan untuk memberi keterangan profesional soal perilaku anjing yang menyerang dan mematikan korban itu. Hoirudin menyebut pihak kepolisian masih memeriksa kemungkinan dugaan kelalaian pihak keluarga sehingga menyebabkan kematian.
"Kita masih memeriksa saksi saksi terkait ini. Kita juga minta keterangan dokter hewan. Sampai saat ini belum tentukan pasal. Orang tua pun tidak menginginkan kejadian ini," terang Hoirudin.
"Mereka tak tahu persis kejadiannya dan harus dalami dulu. Orang tuanya tidak ada di tempat ketika kejadian. Kita akan panggil orang tuanya juga, apakah ada kelalaian kita dalami dulu," tutupnya.
Sementara itu, warganet menaruh perhatian tinggi terhadap penyelesaian kasus ini. Berita soal anjing yang menggigit mati anak pemiliknya, menjadi bahan pembicaraan. Salah satu warganet dengan akun Stanley Rotinsulu, mengunggah sebuah video amatir ke Komunitas Peduli Malang yang menunjukkan proses evakuasi dan penjinakan anjing oleh Kanit K-9 Polres Makota, Aiptu Imam Muhson Ridho.
Dalam video amatir tersebut, Aiptu Imam tampak sibuk memberi makan Sapi, nama anjing jenis Bully Classic berwarna cokelat putih itu. Dalam unggahan, Imam memberi sekitar 10 sachet sosis yang menyiratkan bahwa si anjing dalam kondisi lapar. “Ya ngono saiki anteng (ya begitu sekarang tenang),” ujar pengunggah video, saat melihat kejinakan anjing usai diberi makan petugas polisi.
Warganet pun memberi komentar beragam. Namun, sebagian besar memaklumi agresivitas anjing yang menyerang anak kecil karena dalam kondisi lapar. Akun Iryani Pahlewi, menyebut bahwa sudah seharusnya pemilik rajin memberi makan peliharaannya.
“Tidak boleh sampai kelaparan. Kok tega memelihara anjing sampai kelaparan. Kalau sudah begini salahkan siap? Anjingnya? Anjingnya gak punya pikiran. Kalau lapar ya minta makan. Gak diberi makan ya menggigit. Namanya saja binatang,” tuturnya.
Kepada wartawan, Imam menyebut bahwa dia melakukan beberapa langkah antisipasi untuk mengevakuasi anjing Bully Classic ini. Ras anjing tersebut sangat berbeda dengan anjing lokal pada umumnya. Insting Bully Classic hampir sama Pitbull, German Sheperd, Doberman atau Rotweiller.
“Dia ras yang setia pada hanya satu tuan,” kata Imam.
Bully Classic yang berbadan gempal juga merupakan anjing yang sering dipakai dalam dog fight atau pertarungan anjing ilegal di banyak negara. Karena, anjing ini memiliki kekuatan, terutama kekuatan gigitannya. Karena itu, setelah menggigit anak pemiliknya, anjing ini sulit didekati.
Petugas K-9 mencoba memancing anjing tersebut dengan mainan, tapi tidak membuahkan hasil. Akhirnya, dua jam kemudian, Imam mencoba memancing anjing ini dengan sosis. Baru setelah itu, anjing ini melunak kepada Imam. Dia langsung mendekati anjing, mengelus-elusnya sebelum melakban mulutnya agar tak menggigit dan bersikap agresif.
Imam pun memastikan, mantan pemilik anjing ini tak akan meminta lagi peliharaannya. “Pihak keluarga tak menginginkannya, sehingga kita serahkan kepada pecinta anjing, kita juga akan tetap pantau,” tutupnya.(fin/ira/mg19/ary)

Berita Lainnya :