PHK Karyawan, PT Wiratanu Didemo Besaran Pesangon


MALANG - Berkurangnya aktivitas usaha pengisian ATM dirasakan betul oleh pegawai perusahaan bidang pelayanan jasa kawal angkut uang. Hal inilah yang menjadi salah satu alasan perushaan melakukan pengurangan pegawai beberapa tahun terakhir.
Kondisi ini terungkap dari curahan hati salah satu pegawai Kantor PT Wiratanu Persada Tama yang melakukan demonstarasi akibat pemberhentian kerja, kemarin.  “Dua tahun lalu, kita bisa isi sampai 100 lokasi dalam satu hari. Saat ini, sehari melakukan pengisian hanya 40 sampai 50 lokasi saja. Tim dibagi dari pagi sampai malam menggunakan 5 sampai 6 mobil,” papar Herman yang juga Ketua Ketua Serikat Perjuangan Buruh Indonesia (SPBI) PT Wiratanu Persada Tama yang baru saja mengalami PHK.
Ia dan 19 pegawai yang di-PHK pun menganggap hal tersebut menjadi salah satu alasan pengurangan atau efisiensi pegawai yang dilakukan perusahaannya. Herman juga mengatakan, bank-bank mitra saat ini juga mulai memiliki sayap perusahaan sendiri yang mengurusi pengisian ATM bank masing-masing.
“Saat mediasi perusahaan memang mengatakan adanya pengurangan mitra kerja. Akan tetapi, kalau memang kondisinya seperti itu kita hanya minta penghitungan pesangon sesuai aturan yang berlaku,” tegasnya.
Hal efiesiensi pegawai ini juga dibenarkan oleh pihak PT Wiratanu Persada Tama. Direktur Operasional PT Wiratanu Persada Tama, Grack George menjelaskan adanya pengurangan mitra kerja beberapa tahun belakangan membuat perusahaannya harus menentukan sikap.  Salah satunya, dengan melakukan efisiensi pegawai. Jika hal ini tidak dilakukan, akan ada ketimpangan dalam pemasukan dan pengeluaran perusahaan.
“Kami sudah melakukan sosialisasi terkait ini. Kami mengatakan ada pengurangan mitra kerja, maka harus ada efisiensi pegawai. Bila tidak dilakukan efisiensi, maka tidak akan seimbang antara pemasukan dan pengeluaran,” jelasnya.
Maka, lanjutnya, perusahaan melakukan sosialisasi kepada pegawai untuk mengikuti program rasionalisasi (PHK). Hal inilah yang kemudian menyulut adanya protes dari 20 pegawai yang meminta uang pesangon layak.
Setelah dua kali dilakukan mediasi, tetap tidak menemukan titik temu. Demonstrasi menuntut uang pesangon layak ini, sudah dilakukan sejak 5 April lalu. Hingga kemarin, menurut pantauan Malang Post, demo masih tetap dilakukan.
Puluhan pegawai perusahaan yang bergerak di bidang pelayanan jasa kawal angkut uang dan barang berharga ini memadati pelataran depan kantor, sementara kantor tertutup rapat.  Saat ditemui kemarin, Ketua Serikat Perjuangan Buruh Indonesia (SPBI) PT Wiratanu Persada Tama, Herman menjelaskan, mereka tetap demo karena tidak ada titik temu.  “Yang jelas kami meminta pesangon dibayarkan sesuai aturan yang berlaku. Yakni dihitung dari masa kerja usai training dan ada tunjangan non upah. Kantor punya hitungan sendiri yang kami rasa tidak sesuai aturan itu,” tegas Herman saat ditemui bersama 19 kawan-kawannya yang bernasib sama.

Berita Terkait

Berita Lainnya :

loading...