Jual Kakatua Langka, Warga Pakis Diciduk

 
MALANG – Polisi Hutan Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) membekuk pelaku perdagangan satwa dilindungi. Penangkapan terhadap pelaku inisial KH, 25, warga Boro Bugis, Pakis, terjadi pada Jumat malam lalu. Barang bukti berupa kakatua triton jambul kuning, kakatua Maluku warna oranye dan Nuri Bayan, disita dari rumah pelaku.
Dari keterangan yang dihimpun, tim Polisi Hutan KSDA Jatim dan tim Profauna melakukan operasi tangkap tangan terhadap penjual satwa dilindungi. Imam Pujiono, Polisi Hutan KSDA Jatim membenarkan bahwa penangkapan terhadap pelaku terjadi Jumat malam lalu di kawasan Pakis, Kabupaten Malang.
“Pelaku inisial KH, ditangkap di rumahnya,” papar Imam kepada Malang Post. 
Saat ditangkap, rumah KH digeledah dan ditemukan sebuah kotak berisi hewan-hewan langka itu. Termasuk, kakatua triton jambul kuning. Unggas ini memiliki nama latin Cacatua Galerita Triton.
Jenis ini tersebar di kawasan Papua. Ciri-ciri fisik dari satwa unggas dilindungi ini adalah ukuran tubuhnya lebih besar dari satwa satu famili lainnya Cacatua Galerita Eleonora. Selain itu, Kakatua triton memiliki kelopak mata warna biru muda. 
Penangkapan terhadap pelaku, berawal dari penyelidikan yang dilakukan oleh KSDA terhadap adanya dugaan penjualan satwa dilindungi di media sosial. Setelah menelisik sebuah grup yang menjadi tempat jual beli burung paruh bengkok di Facebook, petugas KSDA menemukan sosok KH yang menjual lima kakatua Triton jambul kuning. 
Pelaku mempromosikan unggas-unggas dilindungi itu kepada netizen. Dia mencantumkan caption seperti unggas tersebut semi jinak, berbadan sehat dan siap dibeli sejumlah lima ekor. Petugas BKSDA dan Profauna menyaru pembeli untuk memancing keluar pelaku. 
Setelah berkomunikasi dengan nomor KH yang terpampang di postingan Facebook, kedua pihak janjian bertemu. Pembelian dilakukan dengan cara Cash On Delivery atau COD. Setelah bertemu di Pakis, KH dibekuk. Begitu ditangkap, pelaku langsung digelandang ke Polres Malang. 
“Pelaku sudah diserahkan ke Polres Malang,” tambah Imam.  Sementara itu Kasatreskrim Polres Malang, AKP Adrian Wimbarda membenarkan pelaku beserta barang bukti diamankan Jumat malam, 13 April 2018 lalu.
“Keterangan soal asal muasal satwa tersebut masih dalam pendalaman,” kata Adrian kepada wartawan kemarin. 
Polisi masih mendalami asal pelaku mendapatkan satwa dilindungi tersebut. Dalam pasal 21 ayat 2 (a) UU RI nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, setiap orang dilarang untuk menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan hidup.
Sanksi pidana bagi pelanggar UU KSDA Hayati adalah pidana penjara paling lama 5 tahun serta denda maksimal Rp 100 juta. Sanksi penjara ini diatur dalam pasal 40 ayat 2 UU RI nomor 5 tahun 1990. (fin/jon/mar)

Berita Terkait

Berita Lainnya :

loading...