Eddy Rumpoko Minta Dibebaskan dari Semua Tuntutan


MALANG - “Saya hanya ingin dekat dengan warga saya. Dengan semua saya terbuka, terlebih pada masyarakat Kota Batu. Ini demi kejayaan Kota Batu. Saya benar masih ingin berkontribusi bagi Kota Batu”.  Inilah sepenggal ungkapan mantan Wali Kota Batu Eddy Rumpoko dalam sidang pledoi yang dijalaninya di Pengadilan Negeri Tipikor Surabaya .
Ungkapan ini ia lontarkan dalam sidang yang dihadiri puluhan simpatisan pendukung yang sebagian besar adalah warga Kota Batu. Beberapa simpatisan bahkan memberikan ekspresi sedih dan terpana ketika kalimat tersebut terlontar.
Eddy yang dituntut hukuman penjara 8 tahun oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) pada 6 April lalu dalam sidang tuntutan, terlihat tegar dalam membacakan pledoi sebanyak 15 halaman yang ditulisnya sendiri.
Sambil membetulkan letak kacamatanya, Eddy kembali melanjutkan pembelaan. Ia menegaskan, perkenalannya dengan pengusaha sekaligus pemilik Amartha Hills Hotel dan Resort Batu tidak pernah mengarah pada atensi suap ataupun kelancaran sebuah proyek.
“Ini kesaksian saya. Yang mana saya sebagai orang Jawa akan sangat terbuka pada masyarakat. Memang saya tidak bisa mengatakan tidak pada percakapan-percakapan saya dengan dia (Filipus, red),” tuturnya.
Pria kelahiran Manado ini mengatakan kembali, dia mengenal Filipus Djap karena ingin membantu dalam masalah perizinan pembangunan Amartha Hills. Sebab menurutnya, investasi tersebut akan memajukan Kota Batu.
Eddy menegaskan, hubungannya dengan Filipus hanya sebatas itu. Ia bahkan mengaku tidak mengetahui bahwa Filipus sebenarnya juga merupakan kontraktor yang memegang banyak proyek pembangunan dan investasi di Kota Batu.
“Saya baru tahu dia punya 7 proyek di Kota Batu dari persidangan. Saya pergi sama dia saja tidak pernah, makan bersama juga tidak pernah. Apa masuk akal saya tiba-tiba minta untuk dibelikan mobil Alphard,” ungkapnya.
Dalam pledoi ini pun, Eddy menegaskan tidak pernah ada pertemuan-pertemuan khusus yang direncanakan untuk melakukan pembayaran mobil Alphard, yang diduga menjadi barang “kesepakatan” untuk meloloskan proyek yang diinginkan Filipus Djap.
Eddy mengaskan kembali, uang yang diterimanya pun tidak diketahui datang darimana dan dimaksudkan untuk apa. “Saat saya ditelpon oleh saudara Filipus, saya sedang makan. Dia ingin bertemu di ruangan saya, saya jawab iya-iya saja. Semua juga tahu nomor pribadi saya, saya berikan pada masyarakat, tidak pernah ganti karena saya ingin dekat dengan masyarakat. Seperti itulah keadaannya kenapa saya bertemu dengan saudara Filipus,” tandasnya.
Dalam persidangan sebelumnya, JPU  sempat memperlihatkan beberapa riwayat percakapan Eddy dengan Filipus. Yang menunjukkan jika Eddy sendiri menyetujui adanya pertemuan dan deal transaksi. Terkait hal ini, Eddy menyampaikan hal itu dilakukan karena ia ingin membantu siapapun mitra Pemkot Batu demi pembangunan Kota Batu.
Akan tetapi, Eddy menegaskan, ia tidak mengetahui bila persetujuannya untuk bertemu itu sampai berakibat seperti saat ini. “Bisa dilihat dalam chat-chat tersebut. Saya tidak pernah menjawab dalam kalimat panjang, pasti singkat saja. Saya sebagai kepala daerah senang dan akan selalu berusaha dekat dengan semua, termasuk pengusaha. Saya sampai saat ini tidak pernah tahu apa yang diinginkan Filipus atas kejadian ini,” ucapnya.
Dalam sesi terakhir pembelaannya, Eddy juga sempat menceritakan dirinya masih ingin memberikan kontribusi besar bagi Kota Batu. Ia menyampaikan selama proses hukum berlangsung, dia menjadi warga yang taat hukum dan selalu kooperatif.
Eddy pun menceritakan dia masih memiliki keinginan untuk bertemu dengan istri dan keluarga serta meneruskan pembangunan Kota Batu. “Majelis Hakim, saya dan istri punya Sekolah Luar Biasa. Saya ingin bersama mereka dan terus berkontribusi dengan warga saya. Jelas kasus ini menghancurkan harapan dan masa depan keluarga saya dan juga warga Kota Batu,” tegasnya.
Ia pun melanjutkan pembelaannya dengan beberapa permohonan kepada Majelis Hakim yang diketuai oleh H.R Unggul SH MH untuk membebaskannya dari semua tuntutan. Di akhir sesi pembelaan, Eddy meminta waktu 10 menit untuk menunjukkan company profile Kota Batu.
Sementara itu Kuasa Hukum Edy Rumpoko, Yusril Ihza Mahendra menjelaskan apa yang dibacakan terdakwa Edy Rumpoko benar adanya. Bahwa kuasa hukum pun memandang pihaknya sangat tidak sepakat dengan tuntutan hukum kepada kliennya.
“Banyak fakta persidangan yang sepertinya tidak dihiraukan. Tidak ada bukti otentik terdakwa melakukan apa yang dituduhkan. Dalam keterangan saksi Edi Setyawan pun mengatakan jika terdakwa merupakan sosok yang ingin dekat pada siapapun dan perfeksionis,” tandasnya.
Ia melanjutkan, kuasa hukum dan terdakwa berharap majelis hakim membebaskan terdakwa Eddy dari segala tuntutan. Serta mempertimbangkan kembali tuntutan pencabutan hak politik karena dianggap terlalu berlebihan.
Proses persidangan ini akan dilanjutkan dengan agenda putusan. Ketua Majelis Hakim HR Unggul SH MH menggagendakan sidang putusan pada Jumat 27 April mendatang. (ica/han)

Berita Lainnya :

loading...