Panas, Arief - Subur Saling Serang


MALANG  - Penuh sanggahan dan klarifikasi bak debat kusir. Inilah suasana persidangan pemeriksaan saksi terhadap terdakwa Moh Arief Wicaksono di Pengadilan Negeri Tipikor Surabaya kemarin. Pasalnya, anggota DPRD Kota Malang Subur Triono yang dihadirkan sebagai saksi mengundang perhatian beragam karena menyampaikan keterangan yang dianggap berubah-ubah dari Berita Acara Pemeriksaan (BAP), bahkan dianggap berbohong.
Menurut pantauan Malang Post, Subur menjadi saksi yang paling banyak dimintai keterangan baik dari pihak Jaksa Penuntut Umum (JPU), kuasa hukum terdakwa bahkan dari Majelis Hakim. Padahal dalam persidangan saksi terhadap Arief sebelumnya, majelis hakim jarang melontarkan pertanyaan kepada saksi yang dihadirkan.
"Subur ini banyak bohongnya. Anda tahu sendiri saat saya diperiksa tahun 2015 soal jembatan, saya menangis. Setelah itu saya minta, saya saja yang dipenjarakan yang penting 44 teman saya aman. Kok malah saya yang dibilang menyuruh anggota dewan berbohong kepada KPK," ungkap Arief saat diberi kesempatan hakim menanggapi kesaksian Subur yang menyatakan Arief mengoordinir anggota dewan untuk berbohong bahwa Proyek Jembatan Kedungkandang tidak ada masalah saat hendak diperiksa KPK.
Sebelumnya, pernyataan Subur ini dibacakan JPU dalam persidangan berdasarkan keterangan dalam BAP Subur.  Saat dituding berbohong dalam persidangan ini, Subur hanya terdiam.
Sementara itu Arief kembali melanjutkan tuduhan Subur lainnya yang menyatakan dia memaksakan anggota dewan dan eksekutif untuk memasukkan kembali proyek Jembatan Kedungkandang dalam APBD-P saat itu. Arief bahkan sempat muntab dan menuding wajah Subur dengan telunjuknya. "Anda jangan menjelek-jelekkan teman sendiri. Panjenengan ini disumpah Alquran. Tidak bisa saya ini memaksakan proyek masuk kembali. Pak Subur salah persepsi," tegas Arief.
Ia menjelaskan kembali, Subur sendiri mengetahui proyek jembatan tersebut dikonsultasikan ke Mendagri ketika pihak eksekutif meminta menganggarkan kembali. Hal ini pun dipertanyakan kembali oleh tim kuasa hukum terdakwa Arief, yang kemudian mempertanyakan persepsi Subur soal kalimat memaksakan tersebut.
Subur pun menjabarkan apa yang dimaksud dengan kata memaksakan proyek kembali yang dituduhkannya pada Arief. Ia menjelaskan, Arief, dalam beberapa sidang pembahasan internal memutuskan untuk menyisakan anggaran Rp 1 miliar dalam proyek jembatan yang notabene dilakukan multiyears. Padahal hal tersebut tidak dapat dilakukan pada anggaran perubahan karena waktu terisa sedikit.
"Lalu pak ketua juga memerintah Pemkot untuk konsul dengan Mendagri," tandasnya.
Mendengar hal ini Arief kembali melontarkan ungkapan apa yang dikatakan Subur adalah salah persepsi, yang kemudian dikaitkan dengan kata memaksa tadi. Subur yang tidak mau kalah, melontarkan pendapatnya, jika apa yang dikatakan benar dan apa adanya.
Mendengar hal ini majelis hakim yang diketuai oleh H R Unggul SH MH menengahi.
"Jadi memang ada paksaan atau tidak? Dalam BAP Anda bilang terdakwa memaksa. Apa seperti itu?," kata Unggul.
Namun kemudian Subur menjawab dirinya tidak yakin dengan apa yang dimaksud dengan kata memaksa tersebut. "Ya bukan memaksa seperti itu juga pak," ungkapnya santai.
Di sinilah keheningan dalam persidangan pecah. Ruang sidang diisi dengan suara tawa, baik dari majelis hakim, kuasa hukum dan penonton sidang. Pasalnya, selama beberapa saat sidang berjalan dengan tegang karena memperdebatkan istilah "memaksa" tersebut.
Subur juga mendapatkan sedikit peringatan.  Salah satu JPU mengatakan pernyataan Subur di beberapa bagian berbeda dengan yang ada dalam BAP. Seperti pernyataan Subur dalam BAP yang menyatakan bahwa uang pokir selalu diterima anggota dewan tiap tahun, sedangkan saat ditanya dalam persidangan ia mengatakan tidak setiap tahun menerima uang pokir.
Hal-hal lucu lain yang terjadi dalam persidangan kemarin akibat Subur adalah, ketika salah satu majelis hakim menanyakan status Subur. "Ini (menunjuk subur) tersangka bukan?," tanya salah satu majelis hakim yang kemdian dijawab peserta sidang dengan jawaban "bukan" dan "belum" sambil beberapa di antaranya tertawa.
Tidak hanya itu juga, di sela perdebatannya dengan Subur, Arief pun sedikit mengungkapkan mencurahkan hatinya untuk membuktikan bahwa Subur memiliki sifat yang membuat orang sulit percaya.
"Mohon maaf majelis hakim. Saya harus menggadaikan mobil saya sebelum lebaran untuk meminjamkan dua anggota dewan uang, salah satunya Subur. "Subur ini pinjam Rp 35 juta ke saya. Saya gadaikan BPKB mobil saya. Sampai sekarang lho tidak dibayar," ungkap Arief kesal.
Seperti itulah jalannya sidang pemeriksaan saksi terhadap Arief kemarin. Selain Subur, terdapat dua anggota dewan lainnya yang dipanggil sebagai saksi. Yakni Priyatmoko dan Suprapto yang sudah menjadi tahanan KPK.
Keduanya dicerca pertanyaan terkait alur pembahasan APBD-P, menerima atau tidak uang pokir sampai pertanyaan terkait peran Arief Wicaksono dan pihak eksekutif lainnya dalam pembahasan anggaran jembatan Kedungkandang.
Selasa pekan depan, JPU KPK akan memanggil kembali saksi-saksi lain dalam agenda sidang yang sama yakni pemeriksaan saksi terhadap Arief Wicaksono.(ica/han)

Berita Lainnya :