Tangkapi Pengoplos LPG

 
MALANG - Disaat tabung elpiji ukuran 3 kilogram langka, Polres Malang berhasil mengungkap dua pengoplos gas elpiji, Selasa (17/4) sore. Keduanya ditangkap di rumahnya masing-masing, saat sedang menyuntik atau memindahkan gas dari tabung melon ke tabung ukuran 12 kilogram. 
Kedua tersangka adalah Agus Sujono, 46, warga Desa Talok, Turen dan, Sodikin, 38, warga Jalan KH. Agus Salim,  Desa Talangagung, Kepanjen. Barang bukti yang diamankan dari keduanya, adalah tabung ukuran 3 kilogram sebanyak 755 biji, ukuran 12 kilogram sebanyak 91 biji dan ukuran 5,5 kilogram sebanyak 73 biji. 
“Penangkapan keduanya ini berdasarkan informasi masyarakat. Sekitar dua minggu lalu ada kelangkaan tabung elpiji ukuran 3 kilogram. Kemudian kami lakukan operasi dan penegakan hukum, akhirnya berhasil menangkap keduanya,” jelas Ujung, sapaannya. 
Modus kecurangan dua pelaku penyuntikan elpiji inilah, lanjut dia, yang menjadi salah satu faktor penyebab kelangkaan elpiji melon. Karenanya, keduanya akan ditindak tegas dengan pasal 62 ayat 1 UU Nomor 8 Tahun 1999 tentang perlindungan konsumen dan pasal 53 UU Nomor 22 Tahun 2001 tentang minyak dan gas bumi. 
Polisi kali pertama menangkap Agus Sujono. Dia dibekuk ketika sedang mengoplos. Pengakuannya, dalam sehari dia bisa mengoplos sampai 10 tabung. Aksinya dilakukan selama sekitar dua tahun. 
“Tersangka ini, membeli tabung elpiji dari pengepul seharga Rp 14.500,” terang perwira menengah ini. 
“Kemudian empat tabung melon dioplos ke tabung 12 kilogram, lalu dijual seharga Rp 100.000 sampai Rp 140.000. Sehingga keuntungannya antara 100 - 200 persen dari modal awalnya yang hanya Rp 50.000,” urai dia. 
Dari pemeriksaan, Agus Sujono, mengaku kalau tabung oplosan dijual kepada warga di sekitar Turen. Dalam sepekan, dia bisa menghasilkan keuntungan sekitar Rp 2 juta. 
“Saya belajar mengoplos tabung itu dari berita di TV dan internet,” ucap Agus. 
Kemudian, dari penangkapan Agus Sujono ini, polisi lantas mengembangkan kasusnya. Hasilnya polisi berhasil menangkap Sodikin, di rumahnya Desa Talangagung, Kepanjen. Sodikin yang merupakan pengepul ini, dibekuk juga saat sedang ‘menyuntik’ gas. 
Bahkan modus penyuntikan yang dilakukannya lebih canggih. Sodikin menyuntik dengan menggunakan alat regulator. Caranya, tabung elpiji ukuran 3 kilogram dipanasi dengan direbus air panas, sedangkan tabung ukuran 12 kilogram direndam dengan air es batu. 
Sehingga terjadi penyulingan, gas dari tabung melon berpindah ke tabung 12 kilogram. Dengan kecanggihan alat tersebut, dalam sehari Sodikin bisa mengoplos sekitar 30 tabung. Kemudian dijual dengan harga Rp 100.000 sampai Rp 140.000. 
“Saya mendapat pasokan elpiji dari agen, karena saya di rumah membuka pangkalan," tutur Sodikin. 
Selain dua tersangka pengoplos tabung elpiji tersebut, kini Polres Malang masih mengembangkan ke satu pelaku lagi. Yakni penyedia segel untuk tabung elpiji yang sudah dioplos. Satu segel, dibeli oleh kedua tersangka seharga Rp 11.000. 
“Masih ada satu pelaku berinisial MI, warga Kecamatan Kromengan yang kini masih kami buru. Dia ini adalah penyedia segel tabung elpiji. Jika segel asli, ada kemungkinan melibatkan orang dalam di Pertamina,” tambah Kasatreskrim AKP Adrian Wimbarda. (agp/jon/mar)

Berita Terkait

Berita Lainnya :