Perampok ‘Eksekusi’ Bu Haji

 
MALANG - Peristiwa berdarah mengguncang Jalan Kenanga, Dusun Baran, Desa Putat Lor, Gondanglegi, Rabu (18/4) malam. Tiga perempuan tergeletak bersimbah darah di lantai dengan luka di kepala. Satu diantaranya meninggal dunia, yakni Hj. Siti Khotijah, 90. Dua korban lain, masih menjalani perawatan intensif di RSSA Malang. 
Yaitu, Winarsih, 50, pembantu Hj. Siti Khotijah serta Rohmadiah, 14, anak Winarsih. Kedua korban sempat tak sadarkan diri karena luka pukulan di kepala.   “Ketika ditemukan dalam kamar, Umi sudah tidak bernyawa. Sedangkan pembantu dan anaknya tak sadarkan diri," ungkap Sukir, tetangga korban. 
Korban, diketahui oleh warga sekitar sebagai orang kaya di desanya. Almarhum suaminya dulu, adalah seorang petani tebu yang sukses. Dalam kesehariannya, wanita tua ini tinggal bersama Winarsih, pembantunya serta dua anak Winarsih, yaitu Rohmadiah, dan Evitasari, 18. 
“Tetapi ketika kejadian, di rumah hanya tinggal tiga orang. Yaitu Hj. Siti Khotijah, Winarsih serta Rohmadiyah. Sedangkan Evi bekerja di toko foto copy sekitar Pasar Gondanglegi,” tambah Sukir. 
Peristiwa diketahui kali pertama oleh Evi, sekitar pukul 21.00. Atau saat pulang kerja. Ketika pulang, kondisi semua lampu rumah dalam keadaan padam. Ia mengetuk pintu depan rumah dan memanggil ibunya, namun tidak ada sahutan. 
“Biasanya saya pulang, ibu yang membukakan pintu rumah. Tetapi saat itu saya panggil beberapa kali tidak ada respon,” terangnya di Polres Malang.
Ia lantas masuk rumah lewat pintu samping. Kebetulan pintunya tidak terkunci. Saat masuk kondisi rumah gelap, hanya TV di ruang tamu yang masih menyala. Begitu lampu dihidupkan, gadis ini terperanjat kaget karena ibunya terkapar di lantai ruang tengah dengan kondisi bersimbah darah. 
“Ibu saya masih sempat minta minum. Setelah itu pingsan. Saya lalu cari keberadaan Mbah Uti. Ternyata Mbah Uti sudah terkapar di lantai pintu kamar,” ungkapnya.
Mendapati itu, Evi menghubungi Marjuki, cucu bu haji yang tinggal tidak jauh. Marjuki adalah anak Marsini, yakni anak sulung dari enam bersaudara wanita ini. 
Sembari menunggu Marjuki datang, Evi juga mencari adiknya, dan menemukan Rohmadiah juga terluka tak sadarkan diri di kamar belakang.  Mendapat kabar itu, Marjuki beserta istri dan ibunya langsung datang. Melihat kondisi Siti dan pembantunya, mereka meminta pertolongan warga sekitar. 
Warga pun berdatangan yang kemudian melarikan semua korban ke rumah sakit. Sebagian warga lainnya melaporkan ke polisi.  Wakapolres Malang, Kompol Decky Hermansyah, mengatakan bahwa pihaknya masih melakukan pendalaman dari hasil olah TKP. Termasuk menunggu hasil otopsi. 
“Nanti bisa terlihat alat apa yang digunakan untuk menghabisi nyawa korban serta melukai dua korban lain. Saat ini, tim khusus masih melakukan pendalaman di lapangan dengan meminta keterangan beberapa saksi," jelas mantan Kasatreskrim Polres Malang itu. Dia mengaku pihaknya belum mengamankan terduga pelaku.
“Hanya beberapa saksi yang berkaitan dengan kejadian itu telah dimintai keterangan. Termasuk alat apa yang digunakan membunuh, juga belum diketahui lantaran masih harus menunggu hasil otopsi. Siapapun bisa kami curigai yang memang kedapatan di lokasi,” tegasnya kepada Malang Post. 
“Waktu kejadian, menurutnya, sangat tipis, yakni berkisar antara pukul 18.15 sampai pukul 21.00," tegas mantan Kabag Ops Polres Malang ini. 
Modus operandinya, pelaku masuk ke rumah dengan cara biasa. Kemudian mengambil barang perhiasan milik korban. 
"Pengambilan perhiasan ini, bisa dilakukan sebelum melakukan kekerasan terhadap korban," terangnya.
pasti, untuk mengungkap kasus pembunuhan ini, Polres Malang telah membentuk tiga tim, untuk melakukan olah TKP, mencari saksi dan mengolah data. Sempat Rayakan Kelahiran Cucu WINARNO, 53, anak menantu Siti menyatakan sudah satu minggu terakhir korban hanya ditemani pembantu.
“Sejak seminggu lalu, anak Umi meninggalkan rumah untuk tinggal di tempat lain. Anak Umi ada enam,” terangnya.
Umi hanya tinggal dengan pembantu sekaligus Winarsih dan Rodiyah. Menurut Winarno, dia kali terakhir bertemu dengan korban saat merayakan kelahiran cucu di Kota Malang.
“Dua minggu lalu, kita boyong Umi ke Kota Malang, untuk melihat kelahiran cucu. Setelah itu, kita tidak pernah melihat dan ngobrol lagi dengan Umi,” ujar pria yang juga guru di Kota Batu itu.
Winarno menyebut pelaku sangat sadis dalam melakukan kejahatan. Apabila motif pelaku hanyalah perampokan, Winarno menyebut tidak perlu ada penganiayaan.
“Kok tega sampai melakukan seperti itu kepada Umi. Padahal kalau pelaku menodong, pasti barangnya dikasihkan,” ujar dia. (agp/fin/mar)

Berita Lainnya :

loading...