Remaja hingga Anggota DPRD Bunuh Diri


Sementara itu, kasus bunuh diri juga tidak lepas dari Kota Batu. Yang paling menghebohkan adalah kasus bunuh diri anggota DPRD Kota Batu Sandy Pratama Putra, 28 tahun. Anggota DPRD Kota Batu dari Partai Nasdem ini ditemukan meninggal dunia dengan menggantung diri di pabrik keripik, miliknya, Januari lalu.
Peristiwa ini sangat menggemparkan legislatif Kota Batu, Pemkot hingga masyarakat umum. Apalagi, usia Sandy masih sangat muda. Hingga kini, motif yang menyebabkan Sandy mengakiri hidupnya masih menjadi tanda tanya, apakah faktor utang piutang, asmara, atau ada penyebab lain.
Gantung diri tersebut dipastikan bukan karena faktor ekonomi. Sebagai anggota DPRD, Sandy memiliki pendapatan cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Apalagi dia punya usaha keripik, orang tuanya camat dan memiliki usaha lain.
‘’Kalau anggota dewan itu sudah disimpulkan meninggal karena gantung diri dan tidak ada unsur kesengajaan atau pidana. Semua tanda-tanda bunuh diri ada pada tubuhnya dan masih dikuatkan hasil medis,’’ tegas Kasat Reskrim Polres Batu, AKP Daky Dzul Qornain.
Pihaknya juga menangani kasus bunuh diri yang dilakukan oleh dua remaja, Juni lalu. Yoga SM, 18 tahun ditemukan menggantung di kandang sapi Desa Oro-Oro Ombo, sedangkan Alfandy T, 19 tahun, gantung diri di Jalan Sarimun Desa Beji Kecamatan Junrejo.
Ada juga kasus bunuh diri dilakukan seorang guru SMA, Nurul Ilmiah, 46 tahun, Februari lalu. Dugaannya, perempuan ini mengakhiri hidup karena depresi akibat penyakit menahun. ‘’Kalau motifnya macam-macam untuk kasus bunuh diri. Ada pengaruh obat, asmara, utang piutang hingga lainnya,’’ tegas dia.
Dari catatan Malang Post, ada lima kasus bunuh diri selama 2016 di Kota Batu dan Malang Barat atau wilayah hukum Polres Batu. Sementara Di Kabupaten Malang, selama 2016 ada 18 kasus bunuh diri, lalu hingga Agustus 2017 sudah ada 15 kasus. PH Kasubag Humas Polres Malang, Ipda Ahmad Taufik mengatakan, bunuh diri seringkali dilakukan oleh akibat putus asa, gangguan jiwa atau depresi dan lainnya.
Di 2017, kecamatan dengan tingkat bunuh diri tertinggi ada di Wagir. Ada empat kasus dengan berbagai motif, padahal selama 2016 lalu hanya terdapat satu kasus bunuh diri.  “Tahun ini ada empat pelaku bunuh diri, semuanya dengan gantung diri,” terang Kanit Reskrim Polsek Wagir Ipda Agus Yulianto S.H kepada Malang Post.
Pada Januari, Jumiati, 52 tahun warga Dusun Losari, Desa Sidorahayu mengakhiri hidupnya dengan gantung diri karena sakit yang tak kunjung sembuh. Dua bulan kemudian warga Dusun Darungan, Desa Mendalan bernama Gino, 78 tahun mengakhiri hidup karena depresi dan ketakutan. Juli lalu, menyusul Seger, 47 tahun warga Dusun Pandan Krajan, Desa Pandanlandung mengakhiri hidup dengan leher terikat tali tampar di pohon jati di belakang musala karena tekanan ekonomi. Masih di bulan sama, Anton, 29 tahun warga Dusun Jaten, Desa Jedong nekat gantung diri karena cintanya tidak direstui.
Di Dampit, ada dua kasus gantung diri yaitu Jemiran, 69 tahun, warga sekitar Dusun Tugusari, Desa Bumirejo. Ia mengakhiri nyawanya dengan menggunakan tali jemuran di pohon jati belakang rumahnya akibat depresi. Lalu Juni lalu, Imam Bukhori, 20 tahun ditemukan tewas tergantung di rumahnya.  “Sebelumnya, tahun 2016 di Kecamatan Dampit juga terjadi kasus bunuh diri dengan berbagai motif. Rata-rata usia di atas 50 tahun dan berlatar belakang pedagang kecil,” papar Kanitreskrim Polsek Dampit, Iptu Soleh Mashudi.(mg20/feb/han)

Kota Batu
2016    : 5 kasus bunuh diri
2017    : 3 kasus bunuh diri

Berita Lainnya :