Baru Sekali Bimbingan Skripsi


Ada banyak isu beredar mengiringi kematian mahasiswa Sosiologi  UB Lukman Arifin. Form bimbingan skripsi dan pengajuan penurunan uang kuliah tunggal (UKT) yang ditemukan di kamarnya, menggiring opini masyarakat bahwa ia diduga melakukan bunuh diri. Namun dugaan ini dikesampingkan oleh polisi.
Lukman yang saat ini masuk semester IX, diketahui baru melakukan bimbingan skripsi satu kali, sebelum Ramadan. Dosen pembimbing skripsi Lutfi Amiruddin, M.Sc mengatakan, sebelum puasa, terakhir ia bertemu dengan Lukman. Ia sempat mengutarakan pertanyaan yang belum terjawab, yakni alasan ia memilih tema skripsi.
 Setelah itu, Lukman tidak pernah lagi mengajukan bimbingan skripsi. Lutfi pun belum mengetahui alasan kenapa dia tak kunjung melakukan bimbingan. Padahal idealnya, menurut Lutfi, seharusnya Lukman bisa melakukan bimbingan seminggu sekali.
“Ia memilih tema tentang, komunitas meditasi. Ia akan meneliti tentang bagaimana komunitas itu. Ya saya hanya mengajukan pertanyaan kenapa dia memilihnya sebagai tema, itu saja,” beber dia.
Wakil Dekan III bagian mahasiswa, Akhmad Muwafik Shaleh S.Sos, M.Si juga mengatakan, sudah sewajarnya mahasiswa semester IX sering melakukan bimbingan skripsi. “Yang saya dengar tentang mahasiswa ini (Lukman) memang tidak ada masalah dengan riwayat akademiknya. Cuma, kami memang belum melakukan penelusuran lebih jauh secara detail,” kata dia.
Menurut informasi yang berhasil didapatkan Malang Post, diketahui salah satu mata kuliah yang dianggap sulit oleh mahasiswa lain yakni Statistik, Lukman mendapatkan nilai A.  Sementara Dimas Prama Putra, teman seangkatan dan teman KKN selama 45 hari mengatakan, selama satu tempat KKN di Gunung Kawi, Lukman Arifin sama seperti mahasiswa pada umumnya.  Dia membaur dengan mahasiswa lain. “Tapi kalau skripsi, memang dia tidak pernah cerita. Malah seakan tidak ada masalah apapun. Saya sendiri juga syok,” kata dia.
Sementara soal UKT, setelah dikonfirmasi kepada Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FISIP Zialhaque Zidny, mahasiswa atas nama Lukman Arifin tidak pernah mengajukan keringanan UKT. “Kami tidak menerima pengajuan UKT atas nama mahasiswa ini. Begitu kabar itu tersiar, kami langsung kroscek dan tidak ada nama Lukman Arifin dari jurusan Sosiologi yang mengajukan keringanan UKT,” terang Zidny.
Dia mengatakan, dari data yang ia himpun, sejak semester satu tidak ada pengajuan keringanan UKT atas nama tersebut.  Muwafik juga mengungkapkan, dari data akademik, orangtua Lukman tergolong mampu. Ayahnya bekerja sebagai konsultan perikanan. “Jadi saya rasa keluarganya tergolong mampu,” kata dosen Ilmu Komunikasi UB ini.(sin/han)

Berita Terkait

Berita Lainnya :