Suami Homo, Minggat Lima Tahun


 
“But i would die for that, just to have one chance to hold in my hands all that she had. I would die for that.” Sebuah lirik lagi dari penyanyi country Kellie Coffey mungkin asing di telinga masyarakat. 
Namun, sepenggal lirik yang menyiratkan seorang wanita yang rela mati hanya untuk melahirkan seorang bayi ini, begitu memukul bagi para wanita yang tak dikaruniai keturunan. Begitu juga, Amel, 34, warga Sukorejo Klojen, merasa pedih meski sudah lima tahun resmi bercerai dari Ronald, 37, warga Lowokwaru. 
Belum sempat menggendong momongan, Ronald tega meninggalkannya. Amel bercerita bahwa dia menikahi Ronald pada akhir tahun 2005.
“Dia menikahi saya saat pekan Natal. Ya saat itu seneng lah. Apalagi saat saya nikah, usia saya masih 21 tahun,” ujar Amel kepada Malang Post.
Setelah menikah, Amel pun menyerahkan hidupnya untuk Ronald. Tapi, keanehan mulai terlihat tidak lama setelah mereka melakukan hubungan suami istri. Setelah beberapa minggu, gelagat Ronald mulai aneh.
Tanpa sebab yang jelas, Ronald memunculkan perselisihan dengan Amel. Ronald pun hanya satu kali menyentuhnya di ranjang. Selain tak pernah memberinya nafkah, Ronald juga tak lagi menjalin hubungan layaknya suami istri pada umumnya.
“Setelah menikah, saya cuma begitu pada malam pertama, setelah itu gak pernah lagi. Dia mulai bertingkah aneh, cari-cari alasan bertengkar dengan saya,” katanya. 
“Tiba-tiba saja, suatu hari dia hilang. Saya cari-cari ke rumah orangtuanya tidak ada. Bapak ibunya juga tak tahu anaknya ke mana,” tambahnya.
Selama lima tahun, Amel dibiarkan begitu saja tanpa kejelasan hubungan. Akhirnya, pada 2012, Amel menceraikan Ronald. 
Namun, setelah sekian tahun, Amel mendengar kabar dari koleganya, bahwa Ronald sebenarnya memiliki orientasi seksual yang berbeda dari pria kebanyakan.
“Saya dengar dia menikah cuma karena tekanan orangtuanya, tapi sebenarnya dia gak suka wanita,” tutupnya. (fin/jon/mar)

Berita Terkait

Berita Lainnya :