Perampok Bu Haji Mulai Terkuak

 
MALANG – Siapa pelaku perampokan disertai pembunuhan terhadap Hj. Siti Khotijah, 90, mulai terkuak. Bahkan polisi mengaku sudah mengantongi identitas orang yang diduga sebagai pelakunya. Saat ini, petugas masih memburunya karena sudah kabur. 
“Sudah ada satu orang yang kami curigai sebagai pelakunya. Anggota sekarang masih memburunya. Doakan saja secepatnya bisa segera terungkap,” terang Kasatreskrim Polres Malang, AKP Adrian Wimbarda.
Siapa orang yang dicurigai sebagai pelakunya ini, polisi masih belum mau menyebutkan. Alasannya, karena masih proses pengejaran. Dikhawatirkan pelaku malah akan kabur lebih jauh.
“Ada tim khusus yang kami perintahkan untuk memburunya karena sudah kabur dari rumahnya,” ucapnya.
Apakah ada indikasi keterlibatan orang dekat? Adrian, mengaku masih belum mengetahui. Karena fokusnya saat ini adalah memburu pelakunya. Dan untuk motif atau dugaan lainnya, sampai kemarin masih terus diselidiki dan didalami. 
“Tidak menutup kemungkinan seperti itu. Tetapi kami tunggu sampai pelakunya tertangkap dan nanti pasti akan kami kembangkan,” ungkapnya.
Disinggung untuk hasil otopsi, perwira dengan pangkat tiga balok ini, mengatakan bahwa pihaknya juga masih menunggu hasilnya dari dokter forensik. Kabarnya, hasil otopsi secara resmi akan turun kemarin.
Namun keterangan sementara, bahwa luka yang dialami Siti bersama dengan Winarsih, 50, pembantunya dan Rohmadiyah, 14, anak Winarsih, karena akibat pukulan benda tumpul.
“Kalau penyebab kematiannya sementara, karena pukulan benda tumpul pada kepala. Sedangkan untuk luka memar pada wajah, akibat pukulan beberapa kali dengan tangan kosong. Sementara bekas luka lecet pada pergelangan tangan, akibat gesekan perhiasan gelang yang dilepas secara paksa oleh pelaku,” jelasnya.
Sampai siang kemarin, polisi sudah memeriksa sekitar enam orang saksi untuk mengungkap kasus perampokan disertai pembunuhan secara sadis. Mereka yang diperiksa diantaranya adalah Evitasri, anak Winarsih yang kali pertama menemukan. 
Nuril Indah Cahya, cucu angkat Siti yang datang tiga jam sebelum ketiga korban ditemukan terkapar, Busro, cucu menantu yang rumah berdampingan dan beberapa saksi lain.
“Ada saksi lain yang tidak kami sebutkan di sini untuk kepentingan penyelidikan,” ungkapnya.
Seperti diketahui, warga sekitar Dusun Krajan, Jalan Kenanga, Desa Putat Lor, Gondanglegi, Rabu malam lalu, geger dengan penemuan tubuh Siti, Winarsih dan Rohmadiyah yang bersimbah darah di rumah bos tebu itu.
Siti diketahui sebagai orang kaya di desanya. Dia meregang nyawa akibat luka di kepala. Ia dinyatakan tewas di lokasi kejadian. Sedangkan Winarsih dan Rohmadiyah masih menjalani perawatan di rumah sakit karena mengalami luka parah di kepala. (agp/jon/mar)

Berita Lainnya :