Yonko 464/Paskhas Sesali Tewasnya Buawi


Tewasnya Buawi, 39 tahun, warga Dusun Pakel RT05 RW02, Desa Baturetno, Singosari, diduga terkena peluru nyasar, disesalkan anggota Yonko 464/ Paskhas. Buawi harusnya tidak menjadi korban peluru nyasar jika dia mengindahkan peringatan yang diberikan oleh para anggota sebelum latihan dimulai. Namun, nasi telah menjadi bubur, korban Buawi sudah meninggal dengan luka di pipi kanan.
”Secara pribadi dan mewakili kesatuan, saya ikut berduka cita sedalam-dalamnya atas kejadian ini. Kami juga bertanggung jawab atas peristiwa ini,’’ kata Komandan Yonko 464/Paskhas, Mayor Pasukan Muhammad Misbachul Munir.
Ditemui  wartawan di kamar jenazah RSSA Malang, Munir mengatakan dia mendapat laporan anggotanya sekitar pukul 08.15. Seketika itu juga, Munir mendatangi lokasi kejadian. Dia juga memerintahkan anggotanya untuk melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP). Beberapa orang pun meminta keterangan terkait peristiwa ini.
Setelah dari TKP, Misbachul dan anggota lainnya pun mendatangi Kamar Jenazah RSSA Malang untuk melihat jenazah Buawi, yang sudah terbujur kaku. Dalam keterangan yang disampaikan, latihan menembak kemarin merupakan kegiatan rutin yang digelar anggota Yonko 464/Paskhas. Ada 70-an anggota yang mengikuti latihan di lapangan tembak Gondo Mayit, Desa Batu Retno. Dan semuanya menggunakan senjata laras panjang.
Munir juga menyebutkan, sebelum melakukan latihan menembak, pihaknya juga sudah pemeriksaan area sesuai dengan SOP. Yaitu dengan mengeluarkan tembakan di area aman, dilanjutkan dengan sweeping. Jika dalam sweeping ditemukan orang yang ada di kawasan area tembak, pihaknya pun meminta untuk pergi. Karena meski jaraknya cukup jauh, jika ada latihan tetap sangat membahayakan.
Selama sweeping dan sebelum latihan menembak digelar, juga ada petugas yang meneropong area sekitar TKP.  ”Latihan akan dilakukan setelah kondisinya betul-betul clear,’’ katanya.
Saat latihan dimulai, tambah Munir kondisi area sudah sepi dan tidak ada orang. ”Makanya itu, begitu mendapat laporan tadi saya langsung berangkat ke TKP. Terus terang kami sangat sedih, dengan kejadian ini,’’ ucapnya.
Munir sendiri menyebutkan, TKP tempat korban tertembak merupakan wilayah TNI AU. Di mana wilayah tersebut sebetulnya harus clear.  ”Tapi, kami tidak mau mencari pembenaran. Intinya kami sendiri sangat bersedih dengan peristiwa ini. Sebagai komandan kesatuan, saya sangat bertanggung jawab,’’ ucapnya.
Ditanya apakah betul korban terkena peluru nyasar, Munir mengatakan masih menunggu hasil visum. Namun kuat dugaan menurut dia korban terkena pantulan. Itu karena posisi korban saat terkena peluru tidak sejajar lurus dengan lokasi latihan.
”Kami masih menunggu visum untuk itu. Kami juga meminta rekan-rekan wartawan dapat bijak dalam memberitakan terkait peristiwa ini,’’ tandasnya.
Peristiwa warga yang meninggal diduga akibat peluru nyasar juga direspons cepat anggota Polsek Singosari. Mereka langsung mendatangi TKP. Tidak hanya melakukan olah TKP, tapi petugas juga meminta keterangan sejumlah saksi.
”Terkait kasus ini kami melakukan koordinasi dengan POM AU,’’ kata Wakapolsek Singosari AKP Effendy Budi Wibowo.
Effendy memang enggan berbicara banyak terkait persoalan ini. Kepada wartawan dia hanya menyebutkan saat itu korban berkebun. Bersamaan juga ada latihan menembak. ”Nah kalau kena apanya, ini masih nunggu hasil visum,’’ tandasnya.
Sementara Ngatijo, adik ipar Buawi mengatakan, keluarganya tidak akan menuntut siapa pun atas kejadian ini. Dia juga mengatakatan keluarganya menerima peristiwa ini sebagai musibah. ”Kami tidak menuntut, keluarga menerima ini sebagai musibah,’’ katanya.
Ngatijo juga menyebutkan, jika Buawi selama ini  tinggal dengan keluarganya. Dia belum memiliki istri.  ”Pak Buawi ini masih lajang. Dan setiap hari dia memang berkebun,’’ tandasnya.(big/ira/ary/han)

Berita Terkait

Berita Lainnya :