Dapat Bisikan, Gorok Leher Sendiri


MALANG - Suara orang mengorok keras, mengagetkan Sriani, 45, penghuni rumah di Jalan Kenongosari Gang III RT02 RW05 Turen, pagi kemarin. Sekitar pukul 05.30, dia yang hendak menuju kamar mandi, mendengarkan suara aneh tersebut dari kamar belakang.
Kamar ini ditiduri oleh tukang bangunan bernama Mohamad Mashudi, 29, warga Dusun Patuk, Desa Sukolilo, Wajak yang berdomisili di Desa Ringin Kembar, Sumbermanjing Wetan. Dia merupakan tukang bangunan dalam proyek borongan milik Subagiyo, 50, suami Sriani.
Takut mendengar suara itu, Sriani tidak jadi ke kamar mandi, melainkan kembali ke kamarnya dan membangunkan Subagiyo. Keduanya lalu bersama-sama membuka pintu kamar belakang. Betapa terkejutnya mereka, karena suara mengorok yang muncul adalah bunyi kerongkongan yang mengeluarkan darah.
Mashudi, panggilannya tampak sudah berlumuran darah di seluruh tubuhnya. Bagian kiri lehernya terbuka dan mengeluarkan darah. Begitu juga, pergelangan tangan kirinya terlihat sobek dan mengalami pendarahan. Tangan kanannya gosong.
Pria ini juga tergeletak dalam posisi terlentang di detik-detik terakhir hidupnya. Sriani berteriak ketakutan. Air pun keluar dari sudut matanya. Begitu juga Subagiyo yang hanya bisa melafalkan istiqfar. “Saya melihat sebuah pisau dapur di sebelah kiri korban,” katanya kepada polisi.
Subagiyo lalu memungut pisau itu dan menaruhnya di dapur. Keduanya pun  keluar rumah, dan berteriak meminta pertolongan warga sekitar. Teriakan ini membangunkan masyarakat, sekaligus RT setempat. Warga juga melaporkan peristiwa ini ke Mapolsek Turen.
Masih kepada petugas, Subagiyo menuturkan bahwa Mashudi sering bercerita kepadanya soal bisikan-bisikan yang menuntunnya agar bunuh diri. “Akhir-akhir ini korban sering mendengar suara-suara dalam pikirannya agar bunuh diri,” ucap Subagiyo lagi kepada petugas.   
“Tapi saya peringatkan agar banyak berdoa. Dia juga cerita kalau pernah ingin bunuh diri, tapi saya melarangnya,” ungkapnya. Mashudi pernah curhat kepadanya, bahwa korban ingin memiliki rumah sendiri, agar tidak bergantung pada orangtua dan mertuanya.
Setelah melakukan olah TKP, mayat korban langsung dievakuasi ke kamar mayat RSSA Malang. Kasatreskrim Polres Malang, AKP Adrian Wimbarda menyebut dugaan sementara polisi adalah korban bunuh diri. “Dari tubuhnya tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan,” tegas dia.
“Korban diduga bunuh diri karena mengalami depresi. Dia membunuh diri dengan cara memotong urat nadi, di pergelangan tangan dan lehernya,” ujarnya. Namun demikian, petugas masih melakukan pendalaman sembari menunggu hasil otopsi dari RSSA Malang.
Sementara, Fifin Indraningsih,  19, istri korban yang tinggal di Desa Ringin Kembar, Sumbermanjing Wetan, mengatakan Mashudi memiliki satu anak berusia 10 bulan. Sejak Senin, Fifin tidak bisa menghubungi suaminya via telepon maupun SMS.
“Saya coba telepon tak merespon. SMS saya juga tak dijawab,” ungkap Fifin. Menurutnya, Mashudi sudah bekerja bersama Subagiyo sejak bulan Maret lalu, dan kali terakhir pulang ke rumah di Sumbermanjing Wetan pada 19 April 2018.
Fifin membenarkan, bahwa Mashudi mengajaknya mencari kontrakan rumah pada 19 April 2018. “Tapi saat itu malam hari, dan anak kami kan usianya belum setahun. Saya bilang besok pagi saja, tapi besoknya dia berangkat kerja ke rumah pak Bagiyo,” tambahnya. (fin/mar/jon)

Berita Terkait

Berita Lainnya :