magista scarpe da calcio 10 Jam, KPK Obok-obok Balai Kota


10 Jam, KPK Obok-obok Balai Kota


MALANG - Balai Kota Malang tegang. Selama sekitar 10 jam lamanya, tim penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Republik Indonesia mengobok-obok Kantor Pemerintahan Kota Malang (Pemkot Malang) itu, Rabu (9/8) kemarin. Ada tujuh ruangan yang dimasuki tim KPK dan digeledah sejak pukul 09.00 WIB.
Ruangan tersebut yaitu, Ruang Wali Kota Malang, ruang sekretaris pribadi Wali Kota Malang, ruang Sekretaris Daerah, ruang Wakil Wali Kota Malang, ruang sekretaris pribadi Wakil Wali Kota Malang yang berada di lantai dua, Ruang Asisten II dan Ruang Asisten III Pemkot Malang di lantai satu.
Ruangan Wali Kota Malang dan Sekda Kota Malang selama beberapa jam tersebut tertutup rapat. Dijaga personel Satpol PP Kota Malang dan seorang dari kepolisian, penggeledahan oleh KPK di Balai Kota Malang berjalan sangat serius.
Aktivitas hectic tim penyidik KPK terlihat jelas antara pukul 12.30 WIB sampai 16.00 WIB. Terlihat silih berganti anggota tim penyidik KPK mondar-mandir masuk dan keluar dari ruang Wali Kota Malang berpindah ke ruang Sekda dan seterusnya, sambil membawa beberapa dokumen. Di sela jam-jam ini pula, tim penyidik KPK mengunjungi ruang asistan II dan III Pemkot Malang selama kurang lebih 40 menit.
Hal ini berlangsung sampai kira-kira pukul 16.15 WIB. Di mana aktivitas mondar-mandir tersebut sedikit mereda. Seluruh anggota tim penyidik KPK yang berjumlah lebih dari enam orang masuk ke ruangan Wali Kota Malang.
Sementara itu, Wali Kota Malang H Moch Anton yang diketahui sudah berada di dalam ruangannya sejak pukul 10.00 WIB, baru keluar ketika pemeriksaan selesai sekitar pukul 18.17 WIB. Anton keluar sesaat setelah seluruh tim penyidik KPK bertolak dari kantor Pemkot Malang, membawa tiga buah koper besar. Memakai kemeja putih dinasnya, wajah Wali Kota Malang terlihat capai dan lesu saat dimintai keterangan awak media.
“Demi Allah Demi Rasul, nggak ada pertanyaan. Saya hanya duduk di ruang ajudan selama mereka (penyidik KPK) menggeledah ruangan saya. Yang menyaksikan di ruang saya ya pak Wasto,” kata Anton dengan nada agak tinggi.
Ia mengegaskan, dirinya tidak tahu menahu soal kedatangan KPK tersebut. Politisi PKB ini pun mengaku bahwa dirinya didatangi KPK dan hanya ditunjukkan surat bahwa KPK hendak melakukan pemeriksaan di ruangannya untuk pemetaan dan kelengkapan data yang dibutuhkan. “Aslinya, kalau saya tadi pulang ya tidak apa-apa. Tetapi saya tidak pulang. Tidak ada pertanyaan apapun kepada saya. Saya tidak tahu (penggeledahan) ini terkait apa,” tegasnya.
Saat ditanya mengenai salah satu pejabat pemkot, Jarot Edy Sulistiyono dan Ketua DPRD Kota Malang M Arief Wicaksono yang ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK,  Abah Anton tidak memberikan komentar. Ia hanya mengungkapkan, tidak tahu menahu tentang penetapan tersangka. Setelah memberikan keterangan tersebut, Abah terkesan hendak ingin cepat pulang.
Di lantai satu, ia didatangi oleh pengurus PKB Kota Malang. Salah satunya Sahrawi dan Imam Fauzi. Keduanya kemudian menyalami dan memeluk Abah Anton usai pemeriksaan KPK tersebut.
Sementara itu, Sekda Kota Malang Drs Wasto yang juga turut melihat aktivitas penyidik KPK di Balai Kota Malang selama 10 jam bersama Abah Anton menjelaskan, dirinya hanya bertugas menemani tim penyidik KPK. “Saya tadi diminta untuk menyaksikan seluruh proses penggeledahan mulai ruang wali kota sampai asisten. Saya menyaksikan saja bersama Asisten II dan III Pemkot,” papanya.
Ia menjelaskan kembali, dalam penggeledahan kemarin, dirinya tidak ditanya apapun atau dimintai keterangan terhadap persoalan yang spesifik. Mantan Kepala Barenlitbang ini menjelaskan lagi, dia hanya mengetahui bahwa terdapat sebuah dokumen yang diminta yakni APBD Tahun 2015.
Wasto menjelaskan, tim KPK memang melakukan penggeledahan untuk mencari beberapa dokumen di tujuh ruangan tersebut. Tidak diketahui secara jelas yang diambil apa saja, akan tetapi Wasto meyakini bahwa dokumen induk APBD 2015 dan dokumen APBD 2015 untuk tahun anggaran 2015 dibawa tim KPK. “Saya tidak tahu ini tentang apa. Yang jelas dokumen APBD itu yang dibawa,” tandasnya.
Saat ditanya mengenai isi APBD 2015 yang disoroti dan beberapa proyek besar yang terdapat dalam APBD 2015, Wasto menjelaskan beberapa hal. Ia mengaku terdapat beberapa proyek besar yang memang tersoroti yakni Jacking Tidar, Islamic Center dan Jembatan Kedungkandang.
Ketiga proyek besar ini memang kerap menjadi bahasan beberapa pihak di Kota Malang dikarenakan tidak kunjung selesai pekerjaannya. Bahkan sampai tahun ini pun, ketiga proyek itu bisa dikatakan mangkrak.
Terkait penetapan status tersangka kepada Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu, Drs Jarot Edy Sulistiyono dan Ketua DPRD Kota Malang M Arief Wicaksono, Wasto mengaku belum mengetahui soal informasi tersebut. Dia juga tidak memberikan komentar terkait hal itu. Begitupula saat ditanya mengenai kemungkinan kedatangan KPK terkait isu suap pejabat pemkot terhadap oknum DPRD Kota Malang. “Jangan berandai-andai. Saya tidak tahu ini terkait apa,” tutup Wasto dengan mimik wajah lelah.
Sementara itu Wakil Wali Kota Malang Drs H Sutiaji yang terpantau sempat mendatangi kantor Balai Kota Malang sekitar pukul 14.00 WIB, mengaku kaget dengan kedatangan KPK. “Saya tadi pagi juga sempat ke kantor, agak kaget kok kantor saya disegel. Ternyata ada KPK. Saya kemudian melanjutkan pergi menuju giat di BPJS Kesehatan tadi,” ungkapnya.
Ia mengaku tidak tahu menahu terkait apa KPK menggeledah ruangannya dan beberapa ruangan lain di Balai Kota Malang. Sutiaji mengaku dirinya tidak mendapatkan panggilan apapun untuk diperiksa dari KPK. Akan tetapi kedatangannya adalah memenuhi kewajiban “ngantor”.  
“Saya tidak ditanyai apa-apa. KPK bawa dokumen apa saja dari ruangan saya, saya tidak tahu,” pungkasnya. (ica/han)

Berita Lainnya :

Copyright © 2018 Malang Pos Cemerlang Goto Top