Bandar Narkotika Lowokwaru Terancam Hukuman Mati

 
MALANG – Samsul alias Kacong (SA), 38, warga Jalan Selorejo, Kecamatan Lowokwaru, yang dibekuk Badan Narkotika Nasional (BNN) Kabupaten Malang, ternyata merupakan bandar narkotika kelas kakap. Ia masuk dalam jaringan narkoba skala nasional. Termasuk melibatkan jaringan narkoba di dalam Lembaga Pemasyarakatan (Lapas).
Demikian disampaikan Kepala BNN Kabupaten Malang, AKBP I Made Arjana, SH, MH, kemarin siang. Mantan Kapolsek Sumbermanjing Wetan ini mengatakan bahwa SA, masuk kategori bandar gede narkotika di Malang. Karena peredaran barang haramnya beredar di Malang Raya, termasuk pelosok desa di Kabupaten Malang.
“Dia (SA, red) merupakan residivis kasus narkotika pada 2005 lalu. Jaringannya sangat luas, karena itu saat ini masih pengembangan dengan bekerjasama Badan Narkotika Provinsi Jawa Timur,” terang Made Arjana, sembari mengatakan bahwa tersangka SA, sudah dilimpahkan ke BNP Jawa Timur.
Menurut Made, selain pengembangan kasus narkotika yang diindikasi melibatkan beberapa jaringan, juga terkait dugaan tindak pidana pencucian uang (TPPU). Hal tersebut karena selain ditemukan uang tunai sebesar Rp 43,5 juta, juga di rekening SA diketahui ada uang sejumlah Rp 125 juta, termasuk di dalam ATM yang diindikasi ratusan juta.
“Untuk TPPU masih dikembangkan dulu. Jika terbukti maka uangnya akan disita untuk negara,” ujar Made. 
Sementara yang dijeratkan pada tersangka adalah pasal 136 dan 137 Undang-undang nomor 35 tahun 2009, tentang narkotika. Ancaman hukumannya adalah seumur hidup atau hukuman mati.
Dari pengakuan tersangka SA, barang haram SS serta ganja yang dimiliki didapat dari seorang pemasok asal Jakarta. Ia memesan narkotika itu, lewat jaringannya yang kini mendekam di Lapas Surabaya. Kemudian Napi Lapas di Surabaya, menghubungi nara pidana (Napi) Lapas Lowokwaru, Kota Malang untuk dipesankan ke Jakarta.
Setelah barang terpesan dan uang ditransfer, barang akan dikirim lewat paket bus malam. Minimal tersangka SA memesan kiriman barang sekitar 1 ons. Kemudian dipecah menjadi beberapa poket dan dijual. “Kami melakukan penangkapan setelah tiga hari menyelidiki,” katanya.
Sekadar diketahui, SA ditangkap di sekitar Jalan Ade Irma Suryani, Kota Malang. Saat itu, SA sedang mengambil paketan SS, yang kemudian langsung disergap. Semula SA tidak mengaku kalau membawa sabu, namun setelah paketan dibuka ternyata berisi sabu-sabu. Di saku celananya juga ditemukan dua poket SS.
Setelah itu, SA digelandang ke kontrakannya di wilayah Kecamatan Wagir. Di tempat kontrakan ini, ditemukan lagi dua poket SS. Lalu dikembangkan ke rumahnya di Jalan Selorejo, Kecamatan Lowokswaru ditemukan bebapa barang bukti lainnya, termasuk daun ganja kering.
Total SS yang diamankan adalah sekitar 3 ons, daun ganja kering seberat 1 ons serta uang tunai. Jika satu gram SS kualitas super milik SA dijual Rp 1,6 juta, maka nilai tiga ons SS tersebut hampir setengah miliar. Belum lagi ditambah dengan nilai narkotika jenis daun ganja kering.(agp/jon)

Berita Lainnya :

loading...