Mahasiswa UB, Bantah Isu HIV/Aids di WhatsApp


MALANG – Pasca penemuan jenazah mahasiswa Sosiologi FISIP Universitas Brawijaya (UB) Lukman Arifin di kamar kosnya di Jalan Kerto Raharjo Senin malam (7/8), muncul pesan berantai lewat WA bahwa yang bersangkutan mengidap penyakit HIV/AIDS. Keluarga Lukman langsung membantah isu tersebut.
Keluarga menyebut, Lukman tak memiliki riwayat penyakit berat, apalagi HIV/AIDS. Sepanjang pengetahuan Bambang Sugianto, warga Plaosan Permai Blok D Pandanwangi yang juga kakeknya, Lukman tak pernah sakit parah. "Tidak ada riwayat sakit. Kalaupun sakit cuma maag," ujar Bambang.
Sementara itu, pesan yang sempat membuat was-was itu ditulis seperti pengumuman, yang meminta para petugas yang mengevakuasi mayat korban untuk melakukan pembersihan atau sterilisasi diri. Dalam kiriman WhatsApp, disebutkan bahwa korban mengidap HIV. Para relawan diinstruksikan untuk mandi dengan banyak cairan pembersih.Yakni sabun anti septic, air 10 liter ditambah dengan bayclean sebanyak 1 botol kemasan 1/4 liter untuk dibilaskan ke sekujur tubuh. Setelah 10 menit, baru dibilas lagi dengan air bersih.
Kanit Inafis Polres Makota, Ipda Subandi juga membantah korban mengidap HIV/AIDS.
"Nggak benar. Info dari mana itu, kami masih belum tahu kondisi korban karena otopsi masih tunggu laboratorium forensik Polda Jatim," kata Subandi kepada Malang Post saat dikonfirmasi.
Menurutnya, fakta soal sakit yang diderita korban baru akan terungkap dari hasil otopsi. Menurut Subandi, masih ada dua hari lagi sebelum hasil otopsi keluar. Sementara itu, tetangga kamar Lukman di Jalan Kerto Raharjo, Langgeng Widodo mengaku menaruh kecurigaan terhadap gerak-gerik Lukman sejak hari Jumat lalu. Langgeng menyebut Lukman bertindak di luar kebiasaan. Biasanya Lukman selalu menempatkan sandalnya bertumpuk di luar saat sedang berada di dalam kamar kosnya.
Namun saat dia keluar rumah, sandalnya ditempatkan di dalam kamar. "Dari hari Jumat sampai Senin posisi sandalnya gak ada perubahan sama sekali, itu berarti dia nggak keluar kamar sama sekali," ujarnya.
Kebiasaan menyimpan sandal saat keluar kos-kosan ini dihapalkan oleh Langgeng. Sifat Lukman yang introvert dan kurang gemar bersosialisasi dengan penghuni kos-kosan juga membuat Langgeng memaklumi kebiasaannya menyimpan sandal di dalam kamar saat berpergian.
Tak heran, dia kaget melihat sandal Lukman sama sekali tak berganti posisi walau berhari-hari di dalam kamar. "Selain itu, mas Lukman juga jarang menyapa, kami harus menyapa dahulu baru dia balas menyapa. Mas Lukman lebih sering berada dalam kamar, kami sungkan mau mengganggu ruang privasinya," tambahnya.
Saat menerima tamu, Lukman juga tidak pernah membiarkan pintu kamarnya terbuka. Begitu tamu masuk, pintu dibuka dan langsung ditutup. Lukman juga tak gampang ditebak soal jam pulang atau pergi di kos. Seringnya, Lukman selalu datang dan pergi secara tiba-tiba. Sehingga, mahasiswa ini juga tidak mengetahui bagaimana caranya tabung yang diduga freon masuk ke dalam kamar Lukman.
Mengenai ada tabung di dalam kamar korban ketika ditemukan tewas, Langgeng mengatakan tidak pernah melihat tabung serupa di rumah kos tersebut. "Baru hari Senin saya lihat kamarnya dikerubuti laler hijau. Saya pikir sampah ternyata mas Lukman," tutup Langgeng yang berhenti tidur di kos-kosan Jalan Kerto Raharjo untuk sementara.(fin/han)

Berita Terkait

Berita Lainnya :